ANALISIS

Era 'The Magnificent Seven' di Bulutangkis Indonesia

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Sabtu, 05/01/2019 09:48 WIB
Jonatan Christie menjadi salah satu andalan bulutangkis Indonesia di 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2019 akan diwarnai era baru oleh deretan pebulutangkis muda yang bakal jadi wajah dan tulang punggung utama prestasi Indonesia, mulai dari Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon hingga Jonatan Christie.

Tahun 2019 akan diawali kepastian mundur Liliyana Natsir dari panggung bulutangkis Indonesia. Hal ini menandai berakhirnya era Liliyana yang sudah lebih dari satu dekade menjadi tulang punggung prestasi Indonesia.

Sorotan akan besar tertuju pada Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Jonatan Christie, Anthony Ginting, Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, dan Gregoria Mariska.

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon memburu gelar juara dunia.Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon memburu gelar juara dunia. (Dok. Humas PBSI)
Tujuh pebulutangkis ini bakal jadi wajah dan tulang punggung Indonesia dalam satu tahun ke depan. Ketujuh pebulutangkis tersebut yang bakal diharapkan bisa memikul tanggung jawab menjaga nama besar Indonesia di dunia bulutangkis.

Seperti halnya kisah koboi di film Magnificent Seven, seperti kisah samurai di Seven Samurai, ketujuh pebulutangkis tersebut bakal dianggap perwakilan generasi baru bulutangkis Indonesia.

Sejak masa junior, nama-nama tersebut sudah mendapat sorotan. Dan perkembangan di 2018 membuat mereka bakal terus diharapkan untuk melejit di 2019.

Ketujuh pemain tersebut punya karakter kuat yang layak dijadikan idola dan harapan baru penggemar bulutangkis Indonesia.

Kevin identik dengan bakat alam dan penuh ledakan. Marcus adalah kerja keras dan kebangkitan.

Anthony Ginting dikenal dengan kegigihannya di lapangan.Anthony Ginting dikenal dengan kegigihannya di lapangan. (ANTARA FOTO/INASGOC/Hadi Abdullah)
Jonatan adalah simbol perfeksionis dan kedisiplinan. Anthony adalah kejutan dan kegigihan di lapangan.

Fajar dan Rian adalah perpaduan keceriaan dan ketenangan. Sedangkan Gregoria adalah perwujudan sebuah harapan.

Kevin/Marcus sudah berhasil tampil bagus dalam dua tahun sebelumnya. Kevin/Marcus adalah pemain pertama yang siap menerima tongkat estafet prestasi pasca-Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Kevin/Marcus langsung menunjukkan mereka adalah ganda yang layak diandalkan untuk Olimpiade berikutnya.

Tahun 2017 dilalui Kevin/Marcus dengan sensasional dan tahun 2018 dilewati dengan torehan yang lebih spektakuler. Di tahun ini Kevin/Marcus kembali ditantang untuk membuktikan ketangguhan mereka. Selain memburu kembali predikat raja turnamen, gelar juara dunia adalah bidikan besar Kevin/Marcus tahun ini.

Jonatan dan Anthony telah melakukan pijakan besar di 2018. Jonatan berhasil meraih medali emas Asian Games sedangkan Anthony mampu memenangkan China Terbuka.

Yang perlu dilakukan Jonatan dan Anthony di tahun ini adalah tampil lebih konsisten. Jonatan dan Anthony punya kemampuan untuk mengalahkan seluruh pemain papan atas dunia namun mereka belum bisa konsisten di tiap turnamen dengan masuk ke babak akhir.

Anthony dan Jonatan harus bisa secepatnya masuk delapan besar untuk bisa jadi unggulan yang akan memudahkan langkah mereka di awal turnamen. Masuk zona delapan besar juga harus dipupuk untuk menjaga ambisi meloloskan dua wakil di nomor tunggal putra ke Olimpiade Tokyo 2020.

Fajar/Rian diharapkan bisa makin melejit di tahun 2019 dan menjadi rival Minions di seri turnamen BWF.Fajar/Rian diharapkan bisa makin melejit di tahun 2019 dan menjadi rival Minions di seri turnamen BWF. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Fajar/Rian ada dalam situasi yang unik. Rival terberat di dunia adalah Kevin/Marcus yang merupakan rekan latihan mereka sehari-hari. Dengan banyaknya jumlah pertandingan yang mereka mainkan di sesi latihan, sudah seharusnya kualitas Fajar/Rian bisa meningkat dengan cepat.

Fajar/Rian berhasil membalas kepercayaan Herry Iman Pierngadi yang memilih mereka bersama Minions di Asian Games lantaran terwujudnya All Indonesian Final. Namun di tahun ini Fajar/Rian harus bisa lebih unjuk gigi.

Mereka harus bisa lebih banyak masuk babak akhir turnamen, bahkan tampil sebagai lawan utama Minions. Bila itu terwujud maka suasana di final Asian Games akan terulang, yaitu siapapun yang menang, Indonesia akan tetap senang.

Di nomor tunggal putri harapan terbesar melihat pemain Indonesia bisa bersaing di papan atas pada tahun 2019 jelas terletak pada juara dunia junior 2017, Gregoria Mariska. Gregoria diharapkan bisa makin melejit di 2017. Saat ini Gregoria ada di posisi ke-15 dunia dan target di 2019 jelas mengakhiri tahun dengan posisi di 10 besar atau delapan besar dunia.

Untuk Gregoria, pemilihan turnamen dari tim pelatih harus jeli. Perlu menimbang mana turnamen yang bisa memberikan poin lebih banyak, pengalaman lebih banyak, dan kepercayaan diri lebih banyak untuk Gregoria. Tak perlu terus mendorong Gregoria tampil di turnamen level elite sepanjang tahun.

Gregoria Mariska punya potensi untuk masuk ke persaingan di level atas.Gregoria Mariska punya potensi untuk masuk ke persaingan di level atas. (ANTARA FOTO/INASGOC/Hadi Abdullah)
Tujuh pebulutangkis itu yang jadi proyeksi Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020. Di pengujung tahun nanti, akan terlihat apakah mereka benar-benar bisa menjadi tujuh ksatria dan tulang punggung Indonesia.

Bila tujuh pemain tersebut bisa memeriahkan persaingan di 2019, maka harapan besar bisa disematkan pada mereka untuk Olimpiade 2020.


(har)
1 dari 2