Laga di delapan besar Liga 2 2018 yang mempertemukan PSS Sleman dengan Madura FC itu terindikasi terjadinya pengaturan skor setelah pengakuan manajer Madura FC, Januar Herwanto yang diminta salah satu mantan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Hidayat, supaya mengalah saat menghadapi PSS Sleman.
Syahar mengatakan saat ini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan dengan memanggil beberapa orang untuk dimintai informasi dan keterangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu pihak yang akan dimintai keterangan dalam proses penyelidikan kasus pengaturan skor yang melibatkan PSS Sleman dan Madura FC yakni Hidayat. Sayangnya dalam dua kali pemanggilan oleh Satgas Anti-Mafia Bola Hidayat masih tetap mangkir.
Meski begitu, lanjut Syahar, sesuai prosedur KUHP jika ada panggilan sekali tidak hadir, panggilan kedua tidak hadir, tentunya bakal ada penjemputan terhadap Hidayat.
Hidayat terseret dalam kasus pengaturan skor dalam laga PSS vs Madura FC. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H) |
Selain dua kasus pengaturan skor di ranah Liga 2 dan Liga 3, Satgas Anti-Mafia Bola Polri juga membuka peluang menyelidiki dugaan yang sama di kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia, Liga 1.
Hanya saja, dari 60 laporan masyarakat yang sedang dianalisis Satgas, Syahar enggan menyebut jika salah satunya terkait dugaan pengaturan skor di Liga 1.
"Polri, khususnya Satgas membuka diri dengan adanya ada call center. Kita analisis pintu masuknya berawal dari Liga 3 dan tidak menutup kemungkinan semua yang terkait kita lakukan upaya pemeriksaan. Semua akan kita telaah, ada saatnya nanti," ungkap Syahar.
"Kalau dalam hal sangkaan pidananya penyuapan tentunya yang memberi dan menerima dua-duanya kena [hukuman]. Tapi, di situ ada kasus penipuannya. Jadi korban yang di Polda Metro itu ditipu. Maka ada pasalnya di situ," tandasnya. (sry/sry)
Hidayat terseret dalam kasus pengaturan skor dalam laga PSS vs Madura FC. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)