Ayah dari Nashira Bachrain yang selalu tertarik dengan sisi-sisi humanis di balik fenomena keseharian. Sejak kali pertama berkarier di harian olahraga TopSkor, penulis menceburkan diri dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola. CNNIndonesia.com kini menjadi tantangan selanjutnya.
Loyalitas Tak Berbalas Lord Atep di Persib
Ahmad Bachrain | CNN Indonesia
Selasa, 15 Jan 2019 09:18 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Liga 1 2018 lalu menandai masa satu dekade Atep di Persib Bandung. Kini, karier penyerang berjuluk Lord Atep berakhir bersama tim Maung Bandung.Nama 'Lord' yang disematkan kepadanya bukan julukan sembarangan. Itu bentuk penghormatan para pendukung setia Persib terhadap pengabdiannya sejak 2008.
Tentu bukan perkara mudah baginya kala bergabung ke Persib saat itu. Pemain kelahiran Cianjur itu harus 'tebal kuping' mendengar cercaan usai hengkang dari Persija Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat 'dipinjamkan' dari UNI Bandung ke Persiba Bantul, Atep malah 'menyasar' ke Macan Kemayoran, musuh bebuyutan Pangeran Biru. Padahal, 'maqom' seharusnya bagi sang pemain ke Maung Bandung.
Di era Mario Gomez, Atep mulai jarang dimainkan sebagai starter. (Foto: CNN Indonesia/Huyogo) |
Di sisi lain, tak sedikit pula para Bobotoh -- fan setia Persib -- yang meragukannya meski kehadiran Atep saat itu cukup mendapat sambutan. Belum lagi bukan perkara mudah bagi Atep merapat ke Persib lantaran sang pemain menikahi seorang wanita kelahiran Jakarta sekaligus fan Persija, Lilis Yamaini.
Atep tak lantas menjadi peta penunjuk Persib menuju juara. Kendati begitu, 'Si Anak Hilang' yang telah pulang memperlihatkan komitmennya berseragam Maung Bandung.
Sudah banyak memori manis hingga asam-garam yang dirasakan Atep bersama Maung Bandung. Termasuk ikut merasakan situasi pahit ketika klub besar itu hanya bertahan di posisi ketujuh pada musim 2010/2011, bahkan melorot lagi di peringkat kedelapan pada musim 2011/2012.
Persib baru bisa memetik hasil manis meraih juara Liga Indonesia 2013/2014 saat kompetisi itu kembali menerapkan klasemen dua wilayah. Atep memang tak lagi kerap dimainkan sebagai starter oleh pelatih Persib saat itu, Djadjang Nurdjaman. Namun, Djadjang tetap memberikan tempat istimewa sebagai kapten.
Atep pernah mendapatkan tempat istimewa di era Djadjang Nurdjaman sebagai pelatih. (Foto Antara/Agus Bebeng) |
Julukan Lord Atep yang sudah akrab jadi sebutan dari para Bobotoh mencerminkan rasa hormat kepadanya. Ia berubah menjadi sosok yang dihormati karena kerja keras dan kesetiaannya bersama Maung Bandung.
Meski jarang merumput, pihak klub Macan Kemayoran menyatakan komitmennya untuk memplot Bepe sebagai pelatih tim itu kelak sembari 'menyekolahkannya'.
Bagaimana dengan Lord Atep? Ia hanya mendapatkan pengumuman dari manajemen bahwa kontraknya tak lagi diperpanjang. Ia dinilai tak lagi kompatibel dengan skema pelatih anyar Pangeran Biru, Miljan Radovic.
Padahal, Radovic merupakan mantan pemain Persib yang pernah satu tim dengan Atep. Seharusnya pelatih asal Montenegro tersebut mengenal mantan rekannya itu sebagai sosok yang punya kelebihan memotivasi tim terlepas dari performanya di lapangan yang sudah menurun.
Atep memang pemain yang tidak seperti Eka Ramdani, pernah begitu berkilau bersama Persib. Namun, Lord Atep bukan Eka yang sudah gonta-ganti klub.
Eka Ramdani (tengah) kerap gonta-ganti klub termasuk pernah memperkuat Mitra Kukar. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana) |
Salah satunya adalah Febri Hariyadi yang juga mengaku salah satu pengagum Atep hingga ia bisa terinspirasi darinya. Ia pula yang selalu menjadi contoh bagi pemain menjaga kebugaran dengan berlatih rutin.
Atep sosok yang pas menjadi contoh. Namun, industri sepak bola memang tega. Tak ada tempat bagi pemain sepertinya yang sudah kehilangan insting gol dan tak lagi berkontribusi besar dalam sebuah permainan.
Jangankan Atep, pemain-pemain kelas dunia macam Raul Gonzalez, Iker Casillas, Frank Lampard, dan Wayne Rooney, pernah merasakan getir terpinggir dari klub mereka sehingga hengkang.
Atep memang tak seperti mendiang Choirul Huda di Persela Lamongan yang setia pada satu klub dalam mengarungi kompetisi resmi di tanah air. Namun, Atep sudah 10 tahun bertahan di Persib.
Terlebih, Atep sudah membuktikan kesetiaannya musim lalu kala disebut-sebut sempat digoda klub dari Malaysia.
Menanggapi kariernya yang sudah berakhir di Persib, Atep mengaku belum memikirkan untuk mencari klub-klub lain. Ia justru ingin memilih santai menikmati hidupnya bersama keluarga sembari melakukan rutinitas mengantar anak-anaknya ke sekolah.
Jasa Atep tak lagi dibutuhkan di era Miljan Radovic sebagai pelatih. (Foto: CNNIndonesia/Huyogo Simbolon) |
Sebagai pemain yang sudah memasuki 33 tahun, tentu belum terlalu tua baginya. Sebenarnya cukup bagi Atep dua atau tiga tahun lagi bermain sekaligus masa persiapan dirinya berkarier sebagai pelatih.
Pihak klub juga seharusnya sudah paham memperlakukan salah satu ikonnya dengan memberikan persiapan itu kepada Atep. Nilai kontrak tentu bakal mengalami penyesuaian mengingat usianya yang tak lagi muda. Sembari bermain, ia juga bisa dilibatkan dalam pembinaan di akademi skuat Maung Ngora.
Lihat juga:KTM Akui Pernah Incar Marc Marquez |
Persib kini hanya memiliki dua pemain senior setelah kepergian Atep. Mereka adalah Supardi dan Hariono. Di antara dua pemain itu, hanya Supardi yang bisa jadi pemimpin di lapangan.
Lord Atep tak bisa menahan derai air mata saat pamitan dari Persib. Namun, ia mencoba tegar meski loyalitasnya tak berbalas di Maung Bandung. (nva)
Di era Mario Gomez, Atep mulai jarang dimainkan sebagai starter. (Foto: CNN Indonesia/Huyogo)
Atep pernah mendapatkan tempat istimewa di era Djadjang Nurdjaman sebagai pelatih. (Foto Antara/Agus Bebeng)
Eka Ramdani (tengah) kerap gonta-ganti klub termasuk pernah memperkuat Mitra Kukar. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jasa Atep tak lagi dibutuhkan di era Miljan Radovic sebagai pelatih. (Foto: CNNIndonesia/Huyogo Simbolon)