TESTIMONI

Mentalitas Ismed, Teror Bobotoh, dan Gelar Liga 1

Ismed Sofyan, CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 08:30 WIB
Foto: CNN Indonesia/Mundri Winanto
Jakarta, CNN Indonesia -- Juara Liga 1 2018 bersama Persija Jakarta adalah pencapaian tertinggi dalam karier saya. Penuh drama, lika-liku, dan jatuh-bangun. Saya tak pernah menyesal bisa bertahan selama belasan tahun di klub ini.

Saya tak peduli apa kata orang di luar sana yang bilang Persija juara karena setting-an. Bagi saya mereka hanya orang-orang iri dan tidak mau menerima kekalahan.

Tidak percaya? Oke, saya akan rangkum perjalanan terjal menuju juara Liga 1 2018. Setelah menjuarai Piala Presiden 2018, kami sempat diterpa masa sulit di level kompetisi. Bahkan Persija pernah terpuruk hingga ke papan bawah klasemen di pekan ke-9 Liga 1 2018.


Ternyata Persija belum siap membagi fokus antara bermain di kompetisi domestik dan level Asia. Belum lagi harus berpindah-pindah laga kandang karena Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Patriot Chandrabhaga dipakai untuk kepentingan Asian Games.

Ismed Sofyan untuk kali pertama membawa Persija Jakarta juara Liga Indonesia.Ismed Sofyan untuk kali pertama membawa Persija Jakarta juara Liga Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bermain nomaden bukan perkara mudah. Kami merasa bermain di kandang orang meski berstatus home. Kelelahan juga jadi musuh utama yang harus dilawan setiap saat. Beruntung secara perlahan kami bisa mengejar ketinggalan poin di Liga 1 usai tersingkir secara menyakitkan di Piala AFC.

Persija harus berjuang habis-habisan di lima pertandingan terakhir setelah dipaksa seri lawan PS TIRA. Mental kami sempat drop karena sangat menyakitkan rasanya ketika gagal menang di kandang dan di saat genting.

5 Laga Final

Sejak hasil imbang lawan PS TIRA, saya berdiskusi dengan para pemain. Saya tegaskan lima pertandingan tersisa harus dianggap seperti final. Sebab, jarak dengan PSM sangat dekat (empat poin) dan tak boleh tergelincir.

Motivasi seluruh pemain berlipat ganda dan jauh berbeda dari laga-laga sebelumnya. Bukan karena saya. Tapi, datang dari jiwa-jiwa yang rindu juara. Bisa dibayangkan, dari seluruh pemain Persija saat itu, hanya Bambang Pamungkas yang pernah merasakan gelar juara liga. Saya pun baru datang setahun setelah Persija juara pada 2001.

Laga pertama dari lima pertandingan terakhir adalah melawan PSM, tim rival yang berada di atas angin. "Kalau kalah di Makassar, peluang Persija untuk juara sudah pasti hilang," kata saya dalam hati.

Mentalitas Ismed, Tekanan Bobotoh, dan Gelar Liga 1
Tekad kami ke Makassar untuk meraih kemenangan! Hasil terburuk adalah imbang. Tuhan ternyata membuka jalan. Kami bermain efektif di kandang lawan dan sempat unggul 2-0 di babak pertama.

Sayang kami gagal mempertahankan keunggulan. Tuan rumah bangkit dan menyamakan kedudukan 2-2. Meski gagal membawa pulang tiga poin, hasil imbang patut disyukuri mengingat tekanan dari suporter PSM besar sekali.

Meski demikian tekanan suporter PSM tak segila suporter Persib Bandung. Kalau di GBK banyak poster dengan nama saya, di Bandung juga ada. Tapi, ada kata "Goblok" di bawahnya. Hehehehe.

Kalau di Bandung, pemain Persija harus berani main di Bandung. Ke stadion naik barracuda. Sampai stadion ribuan orang maki-maki kita, bikin spanduk segala macam. Kalau mental tidak bagus, saya pikir bisa kencing di celana itu di Bandung.

Saat Persib masih di Siliwangi, dari situ saya sudah mendapat teror yang berlebihan, macam-macam lah. Pindah ke Jalak Harupat sama juga, kurang lebih 10 tahun yang lalu kalau tidak salah. Karena teror yang paling kencang mereka lontarkan ke saya. Kenapa? Mungkin karena menurut mereka saya nyawanya Persija.

Motivasi pemain semakin meninggi usai pulang dari Makassar. Sebab kami punya satu pertandingan lebih banyak dari PSM, dan tiga di antaranya laga kandang. Anak-anak tidak membuang kesempatan. Kami berhasil melahap dua laga kandang dengan kemenangan saat menjamu Persela Lamongan (3-0) dan Sriwijaya FC (3-2).

Selanjutnya kami menghadapi laga tandang terberat di pekan ke-33 saat ke markas Bali United. Pelatih (Stefano 'Teco' Cugurra) mengingatkan kalau perjuangan kami tinggal sejengkal lagi. Maka tidak ada target selain menang di Bali!

Hasilnya Persija menggila di Bali. Kami berhasil memenangi pertandingan 2-1. Seharusnya kami bisa menang dengan skor lebih meyakinkan jika pemain depan bisa menuntaskan peluang lebih tenang.

Tapi, begitulah sepak bola. Tak bisa dihitung seperti matematika. Terpenting kami berhasil membawa pulang tiga poin ke Jakarta. Yang lebih menggembirakan, PSM ditahan imbang Bhayangkara FC. Dengan demikian Persija mengambil alih puncak klasemen dengan satu laga tersisa. "Gelar juara sudah di depan mata," kata saya dalam hati.

Baca sambungan tulisan ini dengan mengklik tautan berikut: Laga Hidup Mati (har)
1 dari 2