Saat itu Juni 2010. Saya bertekad berbicara dengan Kak Richard Mainaky, pelatih ganda campuran, untuk memasangkan saya dengan Greysia Polii. Kami sudah berpasangan selama beberapa bulan dan saya merasa ada chemistry dengannya.
Namun, belum sempat berbicara, Kak Richard berkata saya akan dipasangkan dengan Liliyana Natsir. Saya tak menyangka bakal dipasangkan dengan Liliyana karena masih ada pemain-pemain yang lebih senior daripada saya.
Itu jelas kejutan buat saya. Duet Nova Widianto/Liliyana Natsir adalah idola saya. Saya masih ingat saat menonton mereka melalui televisi di Kejuaraan Dunia 2005. Saat itu saya yang masih aktif bermain di nomor tunggal putra dan ganda putra mulai tertarik untuk bermain di nomor ganda campuran.
Saya dan Liliyana berpasangan di Makau Grand Prix Gold. Meski tak banyak bicara, namun dari pergerakan, cara main di lapangan, Ci Butet (biasa kami menyapa Liliyana) jelas ingin memberikan motivasi. Dia seorang senior yang mau bawa saya juara, padahal itu turnamen sekelas grand prix gold.
Penampilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir melesat sejak pertama kali dipasangkan. (AFP PHOTO/ROSLAN RAHMAN)
Setelah sejumlah turnamen diikuti, saya mendapat kejutan besar ketika Kak Richard mengatakan saya adalah pasangan Liliyana Natsir untuk Asian Games 2010.
"Wi, elu siap ga siap, elu harus main Asian Games, karena elu udah jadi partnernya Butet saat ini." Begitu kata Kak Richard saat itu.
Saya jelas kaget. Saya masih junior, belum banyak pengalaman, tapi menggantikan Nova/Butet yang merupakan unggulan pertama. Hasilnya memang tak bagus, kami kalah. Harusnya kami bisa menang, namun saya masih belum punya banyak pengalaman saat itu.
Setelah setahun penuh pertama berpasangan dengan Ci Butet di 2011, gelar bergengsi kami raih di All England 2012. Namun justru setelah itu ada perubahan besar dalam diri saya. Bila di 2011 saya bisa bermain lepas, tak memikirkan menang dan kalah, maka justru setelah juara All England saya merasa jadi terbeban. Main tidak bebas.
Tiba akhirnya saat kami berjuang di Olimpiade 2012. Waktu di Olimpiade kami jadi unggulan dan andalan Indonesia. Saat di semifinal kami jadi satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa.
Ada kesempatan untuk menjadi juara karena musuh yang dihadapi itu-itu saja. Namun status wakil satu-satunya yang mungkin jadi beban buat kami. Waktu kalah di semifinal, kami sudah drop luar biasa, drop habis dalam kondisi mental dan fisik.
Saat itu kami bertanding di babak semifinal pada sore hari dan kemudian esok paginya sudah pertandingan perebutan perunggu. Tentu saja kami tak bisa main dengan baik. Saya tak bisa tidur, sudah benar-benar down, banyak pikiran karena kami kalah berarti Indonesia tak mendapat medali emas. Itu pemikiran utama saya dan Ci Butet, karena harapan itu cuma ada kami.
Kami sama-sama drop, merenung masing-masing dan sudah habis. Dalam keadaan kecewa, kami main kacau balau.
Luka di Olimpiade itu membekas hingga berbulan-bulan, tak bisa langsung hilang. Kalah di Olimpiade, dunia serasa kiamat.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menelan kekecewaan karena gagal meraih medali di Olimpiade 2012. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)
Saat masuk ke 2013, kami tetap berpasangan namun belum berani berpikir tentang Olimpiade 2016. Berbeda dengan periode 2010-2012, komunikasi di antara kami lebih lancar di 2013.
Kami sukses mempertahankan gelar All England dan kemudian puncaknya menjadi juara dunia 2013. Saat itu kami seolah membuktikan Owi/Butet masih ada dan tak berakhir di Olimpiade 2012.
Di final Kejuaraan Dunia 2013 kami tertinggal 18-20 di gim penentuan. Namun dalam diri saya punya keyakinan ini adalah saatnya kami jadi juara dunia dan tidak ada kata menyerah.
Dengan berpikir seperti itu saya bisa fokus dan tak ada rasa takut kalah. Dengan komunikasi yang lebih baik, hal itu mendukung kami melewati situasi sulit. Ci Butet berkata pada saya 'Ayo kita coba Wi, kita mental juara.'
Setelah itu kami berhasil menyamakan kedudukan menjadi 20-20 dan akhirnya menang. Laga itu soal keyakinan dan percaya diri. Ci Butet membantu saya.
Usai jadi juara dunia 2013, tren penampilan kami terus bagus dan kami bisa mencatat hattrick All England. Penampilan kami terus membaik hingga akhirnya tiba saat di Asian Games 2014.
Kami menjalani turnamen dengan bagus dan lolos ke babak final untuk menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei. Saya ingat kami main sudah enak, saat itu kami sudah unggul 8-1 atau 12-7. Kemudian ada salah komunikasi. Kayak ada gesrekan atau bagaimana. Akhirnya mereka mengejar.
Kegagalan di final Asian Games sempat memunculkan masalah dalam duet Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (Dok. Humas PBSI)
Dari situ alur komunikasi kami agak hilang. Saya sadar Asian Games penting banget, bergengsi, dan bakal membekas kalau kalah. Itulah kenapa di 2015 kami terlihat agak kurang harmonis.
Saya dan Ci Butet akhirnya pernah dicoba pasangan dengan pemain lain. Saya dicoba dengan Debby Susanto sedangkan Ci Butet dicoba dengan Praveen Jordan. Mungkin dari perputaran pasangan itu akhirnya kami sadar kami tidak bisa dipisahkan. Kami itu satu. Apalagi saya, saya membutuhkan Ci Butet.
Saya membutuhkan Ci Butet dan mungkin Ci Butet juga berpikir jika bukan bersama saya hasilnya belum tentu bagus.
Dari situ akhirnya mulai ada komunikasi. Mungkin dari saya yang sebelumnya bersikap bodo amat, mulai berpikir tidak bisa tanpa Ci Butet. Bila kondisi begini terus, tentu tidak akan bisa berlanjut ke Olimpiade.
Kalau melihat prestasi, kami masih bisa bertahan hingga babak akhir. Dari 11 kali main, mungkin kami bisa sembilan kali masuk semifinal. Tetapi komunikasi kami ngadat, bila komunikasi baik, mungkin hasilnya lebih bagus dan jadi juara.
Peran Kak Richard demikian besar dalam situasi itu. Saat kami sudah down dan berpikir untuk selesai berpasangan, walau mungkin hanya dari segi gestur dan tak tersampaikan langsung. Kak Richard tetap memberikan kepercayaan kepada kami.
Saya ingat Kak Richard berkata 'Tet, elu bisa berjuang dengan Owi, begitu juga Owi. Gua yakin dari kacamata gua, elu masih bisa dapat emas Olimpiade". Mungkin itu yang dikatakan seorang pelatih yang punya insting bagus.
Oke setelah sepanjang 2015 komunikasi kurang berjalan bagus, termasuk saat kalah di semifinal Kejuaraan Dunia, kami berhasil perbaiki komunikasi. Dari situ komunikasi kami membaik dan akhirnya bisa jadi juara di Malaysia Super Series 2016. Saat kepercayaan diri kami mulai membaik, kami kembali drop karena hasil buruk di Indonesia dan Australia.
Namun saya lihat hasil buruk itu justru yang membuat kami mendapat pelajaran. Masih ada waktu sekitar dua bulan jelang Olimpiade, kami pelajari semua, bukan cuma teknik, tapi juga fisik, komunikasi, fokus, dan sisi psikologis.
Dengan komunikasi yang kembali bagus, kami saling mencari tahu kekurangan diri masing-masing. Setelah latihan fisik, kami latihan fokus, dan juga ada sesi bersama psikolog. Kepercayaan diri saya jauh lebih bagus dibandingkan di 2012.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjalani persiapan yang sangat matang menuju Olimpiade Rio de Janeiro 2016. (REUTERS/Marcelo del Pozo)
Saat menjalani laga lancar hingga semifinal di Olimpiade 2016, akhirnya kami berjumpa Zhang Nan/Zhao Yunlei di babak semifinal. Meski kami lebih sering kalah dalam beberapa pertemuan terakhir, saat itu kami tak berpikir untuk grogi melawan mereka.
Saya biasa saja melihat mereka, tidak ada perasaan gentar. Hanya ada sedikit terlintas pikiran tentang menang-kalah menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei saat itu. Selebihnya, saya fokus ke permainan tanpa banyak berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang muncul.
Tak ada beban berlebihan, akhirnya kami memenangkan pertandingan itu. Kami menang atas Zhang Nan/Zhao Yunlei dan menghadapi Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Masalah justru muncul jelang laga final tersebut.
Beruntung ada jeda satu hari, karena malam setelah semifinal saya tak bisa tidur. Padahal kami baru saja menjalani laga yang sengit lawan Zhang Nan/Zhao Yunlei, namun malah tak bisa tidur nyenyak. Andai laga final langsung digelar keesokan harinya, maka belum tentu saya bisa bermain dengan bagus.
Jelang laga final saya merasakan perasaan gugup. Hal itu mendorong saya untuk mengeluarkan kata-kata yang seolah tak saya sadari. Dalam perjalanan menuju arena, setiap 50 meter saya berkata, "Ci ayo Ci, bisa Ci, semangat Ci". Begitu terus. Berulang-ulang. Mungkin Ci Butet sampai keheranan melihat saya.
Saat permainan dimulai saya merasakan ketegangan. Grogi. Saya lalu berkata pada Ci Butet, "Ci, gua grogi, bagaimana nih Ci."
Ci Butet saya lihat bersikap tenang. Lalu saya ingat dia berkata, "Ya udah tenang aja Wi, nanti gua cover."
Ketika permainan akhirnya dimulai, rasa grogi dan gugup saya ternyata hilang. Saya bisa main dengan rileks dan enak. Seiring permainan berjalan, saya justru melihat Ci Butet yang kelihatan grogi. Ci Butet terlihat ragu-ragu. Skor sempat ketat di pertengahan gim kedua saat itu.
"Ayo Ci, sikat aja. Masak tidak berani main di depannya. Itu mah tidak ada apa-apanya". Begitu kata saya ke Ci Butet saat itu.
Akhirnya kami memenangkan pertandingan. Dalam persiapan pengalungan medali saya berkata pada Ci Butet, "Ci, kok bisa tenang begitu?"
Lalu Ci Butet berkata, "Apaan! Gua juga udah mau terkencing-kencing ini. Kalau gua grogi, nanti elu kebawa."
Itu salah satu pengalaman yang lucu juga menurut saya.
Arak-arakan peraih medali Olimpiade. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Selepas Olimpiade, Ci Butet sempat berpikir untuk pensiun. Namun saya jadi orang yang membujuk Ci Butet agar bermain 1-2 tahun lagi.
Usai Olimpiade, beban yang ada pada diri saya dan Ci Butet benar-benar terlepas. Kami bisa jadi juara di China dan Hong Kong di akhir 2016 padahal saat itu kami sangat kurang dalam latihan.
Kami merasa sangat nyaman dalam bermain. Hal itu yang mungkin akhirnya membuat Ci Butet sempat mengalami cedera. Kami bisa bermain bagus namun porsi latihan sebenarnya kurang.
Di 2017, kami berhasil jadi juara dunia. Jujur, saat itu kami pergi ke turnamen tanpa ada target untuk jadi juara. Di awal turnamen, kami bahkan nyaris kalah Sam Magee/Chloe Magee. Setelah gim pertama kami kalah, saya berkata kepada Ci Butet bahwa dia bermain seperti kurang bergairah.
Ci Butet kaget dan akhirnya bermain lebih baik di gim berikutnya. Lolos dari babak itu, kami masih belum banyak berpikir tentang juara. Barulah saat masuk semifinal, kami mulai berpikir bahwa bisa jadi juara dunia lagi di Glasgow.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil jadi juara dunia 2017. (REUTERS/Russell Cheyne)
Pada 2018 kami membidik Asian Games. Persiapan kami sangat matang dan bagus. Bahkan kami memilih untuk tidak bermain di Kejuaraan Dunia agar bisa fokus di Asian Games 2018. Namun memang karena lawan yang ada lebih muda dan lebih bagus saat itu, kami akhirnya kalah.
Harapan untuk Ci Butet, semoga Ci Butet bisa lebih sukses ke depannya. Lebih bahagia.
Terima kasih untuk Ci Butet atas pengalaman hidup yang saya dapatkan. Ini sejarah buat saya, keluarga, dan buat anak saya. Saya bisa bercerita kepada anak saya bahwa saya dan Ci Butet pernah mengukir sejarah untuk Indonesia. Hal itu tidak akan bisa terlupakan.
Saya harap bisa tetap berkomunikasi dan Ci Butet tetap bisa kasih masukan kepada saya. Sedih, tentu pasti ada karena kami sudah lama berpasangan dan melewati berbagai rintangan dan kenangan. Namun jelas, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Terima kasih telah melewati masa delapan tahun berpasangan dengan saya yang keadaannya seperti ini, tidak sempurna.
Selamat menempuh hidup baru Ci Butet!
Jakarta, CNN Indonesia --
Saat itu Juni 2010. Saya bertekad berbicara dengan Kak Richard Mainaky, pelatih ganda campuran, untuk memasangkan saya dengan Greysia Polii. Kami sudah berpasangan selama beberapa bulan dan saya merasa ada chemistry dengannya.
Namun, belum sempat berbicara, Kak Richard berkata saya akan dipasangkan dengan Liliyana Natsir. Saya tak menyangka bakal dipasangkan dengan Liliyana karena masih ada pemain-pemain yang lebih senior daripada saya.
Itu jelas kejutan buat saya. Duet Nova Widianto/Liliyana Natsir adalah idola saya. Saya masih ingat saat menonton mereka melalui televisi di Kejuaraan Dunia 2005. Saat itu saya yang masih aktif bermain di nomor tunggal putra dan ganda putra mulai tertarik untuk bermain di nomor ganda campuran.
Saya dan Liliyana berpasangan di Makau Grand Prix Gold. Meski tak banyak bicara, namun dari pergerakan, cara main di lapangan, Ci Butet (biasa kami menyapa Liliyana) jelas ingin memberikan motivasi. Dia seorang senior yang mau bawa saya juara, padahal itu turnamen sekelas grand prix gold.
Penampilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir melesat sejak pertama kali dipasangkan. (AFP PHOTO/ROSLAN RAHMAN)
Setelah sejumlah turnamen diikuti, saya mendapat kejutan besar ketika Kak Richard mengatakan saya adalah pasangan Liliyana Natsir untuk Asian Games 2010.
"Wi, elu siap ga siap, elu harus main Asian Games, karena elu udah jadi partnernya Butet saat ini." Begitu kata Kak Richard saat itu.
Saya jelas kaget. Saya masih junior, belum banyak pengalaman, tapi menggantikan Nova/Butet yang merupakan unggulan pertama. Hasilnya memang tak bagus, kami kalah. Harusnya kami bisa menang, namun saya masih belum punya banyak pengalaman saat itu.
Setelah setahun penuh pertama berpasangan dengan Ci Butet di 2011, gelar bergengsi kami raih di All England 2012. Namun justru setelah itu ada perubahan besar dalam diri saya. Bila di 2011 saya bisa bermain lepas, tak memikirkan menang dan kalah, maka justru setelah juara All England saya merasa jadi terbeban. Main tidak bebas.
Tiba akhirnya saat kami berjuang di Olimpiade 2012. Waktu di Olimpiade kami jadi unggulan dan andalan Indonesia. Saat di semifinal kami jadi satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa.
Ada kesempatan untuk menjadi juara karena musuh yang dihadapi itu-itu saja. Namun status wakil satu-satunya yang mungkin jadi beban buat kami. Waktu kalah di semifinal, kami sudah drop luar biasa, drop habis dalam kondisi mental dan fisik.
Saat itu kami bertanding di babak semifinal pada sore hari dan kemudian esok paginya sudah pertandingan perebutan perunggu. Tentu saja kami tak bisa main dengan baik. Saya tak bisa tidur, sudah benar-benar down, banyak pikiran karena kami kalah berarti Indonesia tak mendapat medali emas. Itu pemikiran utama saya dan Ci Butet, karena harapan itu cuma ada kami.
Kami sama-sama drop, merenung masing-masing dan sudah habis. Dalam keadaan kecewa, kami main kacau balau.
Luka di Olimpiade itu membekas hingga berbulan-bulan, tak bisa langsung hilang. Kalah di Olimpiade, dunia serasa kiamat.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menelan kekecewaan karena gagal meraih medali di Olimpiade 2012. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)
Saat masuk ke 2013, kami tetap berpasangan namun belum berani berpikir tentang Olimpiade 2016. Berbeda dengan periode 2010-2012, komunikasi di antara kami lebih lancar di 2013.
Kami sukses mempertahankan gelar All England dan kemudian puncaknya menjadi juara dunia 2013. Saat itu kami seolah membuktikan Owi/Butet masih ada dan tak berakhir di Olimpiade 2012.
Di final Kejuaraan Dunia 2013 kami tertinggal 18-20 di gim penentuan. Namun dalam diri saya punya keyakinan ini adalah saatnya kami jadi juara dunia dan tidak ada kata menyerah.
Dengan berpikir seperti itu saya bisa fokus dan tak ada rasa takut kalah. Dengan komunikasi yang lebih baik, hal itu mendukung kami melewati situasi sulit. Ci Butet berkata pada saya 'Ayo kita coba Wi, kita mental juara.'
Setelah itu kami berhasil menyamakan kedudukan menjadi 20-20 dan akhirnya menang. Laga itu soal keyakinan dan percaya diri. Ci Butet membantu saya.
Usai jadi juara dunia 2013, tren penampilan kami terus bagus dan kami bisa mencatat hattrick All England. Penampilan kami terus membaik hingga akhirnya tiba saat di Asian Games 2014.
Kami menjalani turnamen dengan bagus dan lolos ke babak final untuk menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei. Saya ingat kami main sudah enak, saat itu kami sudah unggul 8-1 atau 12-7. Kemudian ada salah komunikasi. Kayak ada gesrekan atau bagaimana. Akhirnya mereka mengejar.
Kegagalan di final Asian Games sempat memunculkan masalah dalam duet Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (Dok. Humas PBSI)
Dari situ alur komunikasi kami agak hilang. Saya sadar Asian Games penting banget, bergengsi, dan bakal membekas kalau kalah. Itulah kenapa di 2015 kami terlihat agak kurang harmonis.
Saya dan Ci Butet akhirnya pernah dicoba pasangan dengan pemain lain. Saya dicoba dengan Debby Susanto sedangkan Ci Butet dicoba dengan Praveen Jordan. Mungkin dari perputaran pasangan itu akhirnya kami sadar kami tidak bisa dipisahkan. Kami itu satu. Apalagi saya, saya membutuhkan Ci Butet.
Saya membutuhkan Ci Butet dan mungkin Ci Butet juga berpikir jika bukan bersama saya hasilnya belum tentu bagus.
Dari situ akhirnya mulai ada komunikasi. Mungkin dari saya yang sebelumnya bersikap bodo amat, mulai berpikir tidak bisa tanpa Ci Butet. Bila kondisi begini terus, tentu tidak akan bisa berlanjut ke Olimpiade.
Kalau melihat prestasi, kami masih bisa bertahan hingga babak akhir. Dari 11 kali main, mungkin kami bisa sembilan kali masuk semifinal. Tetapi komunikasi kami ngadat, bila komunikasi baik, mungkin hasilnya lebih bagus dan jadi juara.
Peran Kak Richard demikian besar dalam situasi itu. Saat kami sudah down dan berpikir untuk selesai berpasangan, walau mungkin hanya dari segi gestur dan tak tersampaikan langsung. Kak Richard tetap memberikan kepercayaan kepada kami.
Saya ingat Kak Richard berkata 'Tet, elu bisa berjuang dengan Owi, begitu juga Owi. Gua yakin dari kacamata gua, elu masih bisa dapat emas Olimpiade". Mungkin itu yang dikatakan seorang pelatih yang punya insting bagus.
Oke setelah sepanjang 2015 komunikasi kurang berjalan bagus, termasuk saat kalah di semifinal Kejuaraan Dunia, kami berhasil perbaiki komunikasi. Dari situ komunikasi kami membaik dan akhirnya bisa jadi juara di Malaysia Super Series 2016. Saat kepercayaan diri kami mulai membaik, kami kembali drop karena hasil buruk di Indonesia dan Australia.
Namun saya lihat hasil buruk itu justru yang membuat kami mendapat pelajaran. Masih ada waktu sekitar dua bulan jelang Olimpiade, kami pelajari semua, bukan cuma teknik, tapi juga fisik, komunikasi, fokus, dan sisi psikologis.
Dengan komunikasi yang kembali bagus, kami saling mencari tahu kekurangan diri masing-masing. Setelah latihan fisik, kami latihan fokus, dan juga ada sesi bersama psikolog. Kepercayaan diri saya jauh lebih bagus dibandingkan di 2012.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjalani persiapan yang sangat matang menuju Olimpiade Rio de Janeiro 2016. (REUTERS/Marcelo del Pozo)
Saat menjalani laga lancar hingga semifinal di Olimpiade 2016, akhirnya kami berjumpa Zhang Nan/Zhao Yunlei di babak semifinal. Meski kami lebih sering kalah dalam beberapa pertemuan terakhir, saat itu kami tak berpikir untuk grogi melawan mereka.
Saya biasa saja melihat mereka, tidak ada perasaan gentar. Hanya ada sedikit terlintas pikiran tentang menang-kalah menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei saat itu. Selebihnya, saya fokus ke permainan tanpa banyak berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang muncul.
Tak ada beban berlebihan, akhirnya kami memenangkan pertandingan itu. Kami menang atas Zhang Nan/Zhao Yunlei dan menghadapi Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Masalah justru muncul jelang laga final tersebut.
Beruntung ada jeda satu hari, karena malam setelah semifinal saya tak bisa tidur. Padahal kami baru saja menjalani laga yang sengit lawan Zhang Nan/Zhao Yunlei, namun malah tak bisa tidur nyenyak. Andai laga final langsung digelar keesokan harinya, maka belum tentu saya bisa bermain dengan bagus.
Jelang laga final saya merasakan perasaan gugup. Hal itu mendorong saya untuk mengeluarkan kata-kata yang seolah tak saya sadari. Dalam perjalanan menuju arena, setiap 50 meter saya berkata, "Ci ayo Ci, bisa Ci, semangat Ci". Begitu terus. Berulang-ulang. Mungkin Ci Butet sampai keheranan melihat saya.
Saat permainan dimulai saya merasakan ketegangan. Grogi. Saya lalu berkata pada Ci Butet, "Ci, gua grogi, bagaimana nih Ci."
Ci Butet saya lihat bersikap tenang. Lalu saya ingat dia berkata, "Ya udah tenang aja Wi, nanti gua cover."
Ketika permainan akhirnya dimulai, rasa grogi dan gugup saya ternyata hilang. Saya bisa main dengan rileks dan enak. Seiring permainan berjalan, saya justru melihat Ci Butet yang kelihatan grogi. Ci Butet terlihat ragu-ragu. Skor sempat ketat di pertengahan gim kedua saat itu.
"Ayo Ci, sikat aja. Masak tidak berani main di depannya. Itu mah tidak ada apa-apanya". Begitu kata saya ke Ci Butet saat itu.
Akhirnya kami memenangkan pertandingan. Dalam persiapan pengalungan medali saya berkata pada Ci Butet, "Ci, kok bisa tenang begitu?"
Lalu Ci Butet berkata, "Apaan! Gua juga udah mau terkencing-kencing ini. Kalau gua grogi, nanti elu kebawa."
Itu salah satu pengalaman yang lucu juga menurut saya.
Arak-arakan peraih medali Olimpiade. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Selepas Olimpiade, Ci Butet sempat berpikir untuk pensiun. Namun saya jadi orang yang membujuk Ci Butet agar bermain 1-2 tahun lagi.
Usai Olimpiade, beban yang ada pada diri saya dan Ci Butet benar-benar terlepas. Kami bisa jadi juara di China dan Hong Kong di akhir 2016 padahal saat itu kami sangat kurang dalam latihan.
Kami merasa sangat nyaman dalam bermain. Hal itu yang mungkin akhirnya membuat Ci Butet sempat mengalami cedera. Kami bisa bermain bagus namun porsi latihan sebenarnya kurang.
Di 2017, kami berhasil jadi juara dunia. Jujur, saat itu kami pergi ke turnamen tanpa ada target untuk jadi juara. Di awal turnamen, kami bahkan nyaris kalah Sam Magee/Chloe Magee. Setelah gim pertama kami kalah, saya berkata kepada Ci Butet bahwa dia bermain seperti kurang bergairah.
Ci Butet kaget dan akhirnya bermain lebih baik di gim berikutnya. Lolos dari babak itu, kami masih belum banyak berpikir tentang juara. Barulah saat masuk semifinal, kami mulai berpikir bahwa bisa jadi juara dunia lagi di Glasgow.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil jadi juara dunia 2017. (REUTERS/Russell Cheyne)
Pada 2018 kami membidik Asian Games. Persiapan kami sangat matang dan bagus. Bahkan kami memilih untuk tidak bermain di Kejuaraan Dunia agar bisa fokus di Asian Games 2018. Namun memang karena lawan yang ada lebih muda dan lebih bagus saat itu, kami akhirnya kalah.
Harapan untuk Ci Butet, semoga Ci Butet bisa lebih sukses ke depannya. Lebih bahagia.
Terima kasih untuk Ci Butet atas pengalaman hidup yang saya dapatkan. Ini sejarah buat saya, keluarga, dan buat anak saya. Saya bisa bercerita kepada anak saya bahwa saya dan Ci Butet pernah mengukir sejarah untuk Indonesia. Hal itu tidak akan bisa terlupakan.
Saya harap bisa tetap berkomunikasi dan Ci Butet tetap bisa kasih masukan kepada saya. Sedih, tentu pasti ada karena kami sudah lama berpasangan dan melewati berbagai rintangan dan kenangan. Namun jelas, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Terima kasih telah melewati masa delapan tahun berpasangan dengan saya yang keadaannya seperti ini, tidak sempurna.