TESTIMONI

Surat Tontowi untuk Liliyana Natsir

Tontowi Ahmad | CNN Indonesia
Senin, 28 Jan 2019 19:37 WIB
Tontowi Ahmad mengungkapkan kesan-kesannya selama berduet dengan Liliyana Natsir sejak 2010 melalui Testimoni CNNIndonesia.com. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Puncak Prestasi Emas Olimpiade

Oke setelah sepanjang 2015 komunikasi kurang berjalan bagus, termasuk saat kalah di semifinal Kejuaraan Dunia, kami berhasil perbaiki komunikasi. Dari situ komunikasi kami membaik dan akhirnya bisa jadi juara di Malaysia Super Series 2016. Saat kepercayaan diri kami mulai membaik, kami kembali drop karena hasil buruk di Indonesia dan Australia.

Namun saya lihat hasil buruk itu justru yang membuat kami mendapat pelajaran. Masih ada waktu sekitar dua bulan jelang Olimpiade, kami pelajari semua, bukan cuma teknik, tapi juga fisik, komunikasi, fokus, dan sisi psikologis.

Dengan komunikasi yang kembali bagus, kami saling mencari tahu kekurangan diri masing-masing. Setelah latihan fisik, kami latihan fokus, dan juga ada sesi bersama psikolog. Kepercayaan diri saya jauh lebih bagus dibandingkan di 2012.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjalani persiapan yang sangat matang menuju Olimpiade Rio de Janeiro 2016.Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjalani persiapan yang sangat matang menuju Olimpiade Rio de Janeiro 2016. (REUTERS/Marcelo del Pozo)
Saat menjalani laga lancar hingga semifinal di Olimpiade 2016, akhirnya kami berjumpa Zhang Nan/Zhao Yunlei di babak semifinal. Meski kami lebih sering kalah dalam beberapa pertemuan terakhir, saat itu kami tak berpikir untuk grogi melawan mereka.

Saya biasa saja melihat mereka, tidak ada perasaan gentar. Hanya ada sedikit terlintas pikiran tentang menang-kalah menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei saat itu. Selebihnya, saya fokus ke permainan tanpa banyak berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang muncul.

Tak ada beban berlebihan, akhirnya kami memenangkan pertandingan itu. Kami menang atas Zhang Nan/Zhao Yunlei dan menghadapi Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Masalah justru muncul jelang laga final tersebut.

Beruntung ada jeda satu hari, karena malam setelah semifinal saya tak bisa tidur. Padahal kami baru saja menjalani laga yang sengit lawan Zhang Nan/Zhao Yunlei, namun malah tak bisa tidur nyenyak. Andai laga final langsung digelar keesokan harinya, maka belum tentu saya bisa bermain dengan bagus.

Jelang laga final saya merasakan perasaan gugup. Hal itu mendorong saya untuk mengeluarkan kata-kata yang seolah tak saya sadari. Dalam perjalanan menuju arena, setiap 50 meter saya berkata, "Ci ayo Ci, bisa Ci, semangat Ci". Begitu terus. Berulang-ulang. Mungkin Ci Butet sampai keheranan melihat saya.

Saat permainan dimulai saya merasakan ketegangan. Grogi. Saya lalu berkata pada Ci Butet, "Ci, gua grogi, bagaimana nih Ci."

Ci Butet saya lihat bersikap tenang. Lalu saya ingat dia berkata, "Ya udah tenang aja Wi, nanti gua cover."

Ketika permainan akhirnya dimulai, rasa grogi dan gugup saya ternyata hilang. Saya bisa main dengan rileks dan enak. Seiring permainan berjalan, saya justru melihat Ci Butet yang kelihatan grogi. Ci Butet terlihat ragu-ragu. Skor sempat ketat di pertengahan gim kedua saat itu.

"Ayo Ci, sikat aja. Masak tidak berani main di depannya. Itu mah tidak ada apa-apanya". Begitu kata saya ke Ci Butet saat itu.

Akhirnya kami memenangkan pertandingan. Dalam persiapan pengalungan medali saya berkata pada Ci Butet, "Ci, kok bisa tenang begitu?"

Lalu Ci Butet berkata, "Apaan! Gua juga udah mau terkencing-kencing ini. Kalau gua grogi, nanti elu kebawa."

Itu salah satu pengalaman yang lucu juga menurut saya.

Arak-arakan peraih medali Olimpiade.Arak-arakan peraih medali Olimpiade. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Selepas Olimpiade, Ci Butet sempat berpikir untuk pensiun. Namun saya jadi orang yang membujuk Ci Butet agar bermain 1-2 tahun lagi.

Usai Olimpiade, beban yang ada pada diri saya dan Ci Butet benar-benar terlepas. Kami bisa jadi juara di China dan Hong Kong di akhir 2016 padahal saat itu kami sangat kurang dalam latihan.

Kami merasa sangat nyaman dalam bermain. Hal itu yang mungkin akhirnya membuat Ci Butet sempat mengalami cedera. Kami bisa bermain bagus namun porsi latihan sebenarnya kurang.

Di 2017, kami berhasil jadi juara dunia. Jujur, saat itu kami pergi ke turnamen tanpa ada target untuk jadi juara. Di awal turnamen, kami bahkan nyaris kalah Sam Magee/Chloe Magee. Setelah gim pertama kami kalah, saya berkata kepada Ci Butet bahwa dia bermain seperti kurang bergairah.

Ci Butet kaget dan akhirnya bermain lebih baik di gim berikutnya. Lolos dari babak itu, kami masih belum banyak berpikir tentang juara. Barulah saat masuk semifinal, kami mulai berpikir bahwa bisa jadi juara dunia lagi di Glasgow.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil jadi juara dunia 2017.Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil jadi juara dunia 2017. (REUTERS/Russell Cheyne)
Pada 2018 kami membidik Asian Games. Persiapan kami sangat matang dan bagus. Bahkan kami memilih untuk tidak bermain di Kejuaraan Dunia agar bisa fokus di Asian Games 2018. Namun memang karena lawan yang ada lebih muda dan lebih bagus saat itu, kami akhirnya kalah.

Harapan untuk Ci Butet, semoga Ci Butet bisa lebih sukses ke depannya. Lebih bahagia.

Terima kasih untuk Ci Butet atas pengalaman hidup yang saya dapatkan. Ini sejarah buat saya, keluarga, dan buat anak saya. Saya bisa bercerita kepada anak saya bahwa saya dan Ci Butet pernah mengukir sejarah untuk Indonesia. Hal itu tidak akan bisa terlupakan.

Saya harap bisa tetap berkomunikasi dan Ci Butet tetap bisa kasih masukan kepada saya. Sedih, tentu pasti ada karena kami sudah lama berpasangan dan melewati berbagai rintangan dan kenangan. Namun jelas, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.

Terima kasih telah melewati masa delapan tahun berpasangan dengan saya yang keadaannya seperti ini, tidak sempurna.

Selamat menempuh hidup baru Ci Butet! (ptr/har)
HALAMAN :
1 2
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER