TESTIMONI

Indra Sjafri: Kantor Pos, Blusukan, dan Timnas Indonesia

Indra Sjafri, CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 08:02 WIB
Melatih Timnas Indonesia menjadi impian Indra Sjafri sejak awal. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiada kata yang pantas saya ucapkan selain Alhamdulillah atas karier yang saya jalani saat ini. Ya, menjadi pelatih Timnas Indonesia merupakan sebuah amanat sekaligus impian yang berubah menjadi kenyataan.

Menjadi bagian dari Timnas Indonesia memang impian saya sejak kecil. Namun, saya benar-benar tak menyangka bisa menjalankan amanat yang berat namun membanggakan. Mungkin sudah jalan dari Tuhan, seorang Indra Sjafri yang hanya pernah bermain di klub lokal seperti PSP Padang, kemudian pensiun dini jadi pemain, malah membawa misi Merah Putih.

Benar saya pensiun dari profesi sebagai pesepakbola pada usia sekira 28 tahun (pada 1990). PSP Padang bisa dibilang merupakan klub pertama dan terakhir saya sebagai pemain. Boleh dibilang saya pensiun dini sebagai pesepakbola.


Saya memilih menekuni jalan lain, fokus sebagai karyawan di PT Pos Indonesia di bagian tata usaha Cabang Kota Padang. Kali pertama bekerja sebagai karyawan di perusahaan itu seingat saya pada 1980-an.

Pada masa lalu sepak bola di Indonesia itu bukan termasuk olahraga profesional. Liga yang saya ikuti masih perserikatan. Saat itu jika pemain sudah dapat pekerjaan, sudah pasti berhenti dari sepak bola. Banyak pemain yang sibuk dengan pekerjaan (baru), akhirnya berhenti jadi pemain.

Indra Sjafri berhasil merebut dua gelar Piala AFF bersama Timnas Indonesia U-19 dan U-22.Indra Sjafri berhasil merebut dua gelar Piala AFF bersama Timnas Indonesia U-19 dan U-22. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Mungkin banyak yang bertanya-tanya sejarah saya akhirnya memilih pekerjaan di Pos Indonesia. Ketika masih bermain di PSP Padang, saya mendapat penghargaan dari Wali Kota Padang saat itu. Ketika itu bentuk penghargaan (bonus) untuk pemain sepak bola adalah pekerjaan, bukan duit seperti sekarang.

Tentu ada perasaan kaget juga biasa bermain bola di lapangan, kemudian menjadi karyawan di perusahaan kurir nasional. Saya sempat bergumam: "Kok seperti ini ya?". Sempat merasa pula, mungkin memang karier saya sampai jadi karyawan saja.

Terus terang saya memang tidak terlalu berhasrat bekerja seperti itu. Namun saya tentu harus menyambung hidup, minimal ada pekerjaan tetap waktu itu. Meski karier di Pos Indonesia berjalan lancar, dalam batin saya tetap berkata tak ingin hanya selesai bekerja di kantor pos.

Daftar 24 Pemain Timnas Indonesia U-23 Jelang Kualifikasi Pia
Sembari bekerja saya juga mulai menekuni sejumlah kursus kepelatihan. Saat itu sertifikasinya masih bernama S1, S2, dan S3. Motivasi saya tak lain karena tidak ingin terputus begitu saja dari olahraga kecintaan sejak kecil lantaran kesibukan sebagai salah satu karyawan.

Pensiun Dini

Saya semakin antusias menekuni ilmu kepelatihan. Saya 'sekolah' lagi dengan mengikuti kursus kepelatihan Lisensi C AFC di Semarang, Lisensi B AFC di Sawangan, kemudian Lisensi A AFC juga di Sawangan.

Mulai saat itu pula saya semakin serius untuk menggeluti profesi pelatih meski masih tercatat sebagai karyawan di PT Pos Indonesia. Saya masih ingat jabatan terakhir saya di perusahaan itu sebagai Kepala Kantor Pos Cabang Distribusi Bandara di Padang.

Indra Sjafri: Kantor Pos, Blusukan, dan Timnas Indonesia
Setelah 23 tahun mengabdi di Pos Indonesia saya memutuskan keluar dan ingin total berkecimpung di dunia kepelatihan sepak bola. Total sekira 11 tahun bekerja sebagai Kepala Cabang. Saya mencukupkan diri mengabdi dari perusahaan itu pada 2007 saat masih 46 tahun, jauh sebelum masa-masa pensiun lazimnya di sebuah perusahaan.

Tentu saya akui itu keputusan yang tidak mudah. Pasalnya, sempat ada kekhawatiran dari keluarga. Istri dan anak perempuan saya berharap tidak meninggalkan pekerjaan di Pos Indonesia yang sudah saya lakoni selama 23 tahun.

Saya pun memutuskan keluar dari pekerjaan tetap dan menggeluti sebagai pelatih setelah dapat dukungan dari putra saya. Keinginan untuk bercita-cita mengabdi di sepak bola Indonesia, termasuk di Timnas Indonesia, memang begitu kuat.

Meski demikian bukan berarti masa transisi berjalan mulus ketika saya ingin fokus di dunia kepelatihan. Saya beberapa kali merasakan yang namanya kesulitan ekonomi di keluarga kami.

Daftar 24 Pemain Timnas Indonesia U-23 Jelang Kualifikasi Pia
Memang saya masih bisa mendapatkan uang sebagai instruktur pelatih ketika ada proyek kursus kepelatihan. Namun, memang tak seperti di pekerjaan sebelumnya yang sudah pasti ada gaji setiap bulan.

Dinamika dan drama-drama seperti itu saya alami. Jalan yang ditetapkan Tuhan memang seperti itu dan Alhamdulillah bisa mengatasi masa-masa sulit tersebut.

Awal Pengabdian

Janji Allah memang tak pernah salah. Saya dipercaya untuk mengumpulkan dan melatih bakat-bakat muda Indonesia pada 2011. Awalnya ketika saya jadi instruktur pelatih di Jambi, ditelepon Om Bob Hippy (pengurus PSSI saat itu).

Dia menawarkan saya untuk melatih Timnas Indonesia U-16. Saya langsung bersedia. Waktu itu saya sudah mengantongi Lisensi A AFC. Saya segera bekerja dengan menggelar seleksi pemain. Itu awalnya saya hanya menerima 65 pemain dari PSSI. Saya seleksi, saya tidak tahu asal usulnya para pemain.

Waktu itu saya diberi kepercayaan untuk mengikuti kualifikasi Piala Asia di Bangkok dan gagal. Setelah itu saya evaluasi, ternyata 65 anak itu dari DKI Jakarta dan sekitarnya saja.

Dulu memang tim-tim usia muda tidak masuk hitungan (perhatian serius). Lalu saya berpikir, "Bagaimana saya cari pemain?". Nah, saya kemudian terinspirasi dari saya sendiri. Orang-orang seperti saya dulu di kampung tidak ada yang lihat, tapi punya prestasi.

Mulanya kami bikin seleksi umum di Cibubur. Ribuan pemain ketika itu. Tapi setelah itu saya ubah. Kalau mereka yang datang seleksi, saya dengar ada yang sampai menjual motor demi seleksi Timnas Indonesia.
Egy Maulana merupakan salah satu pemain dari hasil blusukan Indra Sjafri.Egy Maulana merupakan salah satu pemain dari hasil blusukan Indra Sjafri. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Akhirnya saya yang 'jemput bola' atau istilahnya blusukan. Saya datang pun ketika itu PSSI tidak punya uang. Ada uang dari teman-teman untuk bantu saya melakukan seleksi atau orang di sana dikirim surat pengantar dari PSSI bahwa saya akan melakukan seleksi.

Saya minta tolong ke Asprov atau semacamnya waktu itu agar mereka menanggung tiket pulang dan pergi serta akomodasi penginapan. Dari situ pendekatan saya dimulai dalam mencari bakat muda dengan memantau dan menyeleksi langsung ke sejumlah pelosok.

Selama menangani Timnas Indonesia usia muda, cobaan kembali menempa saya. PSSI sempat mengalami dualisme kepengurusan. Saya sebenarnya tak mau memikirkan persoalan macam itu, hanya ingin fokus melatih.

Saya juga pernah mengalami situasi berat tidak gajian bahkan sampai 17 bulan sebagai pelatih Timnas Indonesia U-16. Namun, saya tak mau menyerah. Saya tetap fokus dan menjawabnya dengan prestasi demi prestasi.

Baca Halaman Kedua: Memori Manis di Sidoarjo dan Phnom Penh (har)
1 dari 2