Eks Plt Ketum PSSI Joko Driyono Terancam Tujuh Tahun Penjara

CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 20:00 WIB
Eks Plt Ketum PSSI Joko Driyono Terancam Tujuh Tahun Penjara Mantan Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, terancam hukuman tujuh tahun penjara. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI Joko Driyono yang saat ini ditahan polisi terancam hukuman tujuh tahun penjara.

Setelah menjalani pemeriksaan, Jokdri ditetapkan sebagai tahanan selama 20 hari, sejak 25 Maret sampai 13 April, oleh Satgas Anti Mafia Bola untuk proses penyidikan selanjutnya.

Brigjen Pol Hendro Pandowo selaku ketua Satgas Anti Mafia Bola menerangkan Jokdri juga terkait dengan laporan pengaturan skor yang diajukan mantan manajer Persibara, Lasmi Indaryani, sehingga membuat mantan Sekretaris Jenderal PSSI itu terancam hukuman penjara selama tujuh tahun.


Eks Plt Ketum PSSI Joko Driyono Terancam Tujuh Tahun PenjaraMantan Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, resmi ditahan oleh pihak kepolisian. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
"Ini semua keterkaitan dengan Laporan Polisi pertama bu Lasmi. [Joko] Ditahan di rutan PMJ [Polda Metro Jaya]. Mulai 25 Maret sampai 13 April, hingga 20 hari ke depan. Ancaman 7 tahun penjara. Pencekalan 6 bulan dan belum habis sehingga cukup lakukan penahanan," ujar Hendro di Mabes Polri, Jakarta.

Jokdri pada awalnya ditetapkan sebagai tersangka karena tuduhan merusak barang bukti yang diduga terkait dengan kasus pengaturan skor. Dia ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis 14 Februari lalu.

Eks Plt Ketum PSSI Joko Driyono Terancam Tujuh Tahun Penjara
Pria yang pernah menjadi manajer kesebelasan Pelita Jaya itu diduga sebagai aktor intelektual yang memerintahkan tiga orang, yaitu Muhammad MM alias Dani, Mus Muliadi alias Mus dan Abdul Gofar untuk melakukan perusakan barang bukti di kantor Komisi Disiplin PSSI yang sempat digeledah Satgas Anti Mafia Bola.

Hendro menerangkan upaya perusakan barang bukti juga bertujuan untuk menggagalkan pengungkapan dugaan pengaturan skor.

"Motif dia ada beberapa hal yang kita akan dalami terkait peran dia dalam pengaturan skor untuk kasus yang lain sehingga ada upaya dari dia untuk menghilangkan, memusnahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan," jelasnya. (ani/jal)