ANALISIS

Kenapa Tak Ada Pembahasan Olahraga di Debat Capres?

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Rabu, 03/04/2019 08:45 WIB
Kenapa Tak Ada Pembahasan Olahraga di Debat Capres? Tak ada pembahasan spesifik di bidang olahraga pada debat Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Debat Pilpres 2019 memasuki sesi 'pertarungan' pemungkas pada Sabtu (13/4). Pada sesi terakhir debat menekankan tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan, serta Investasi.

Praktis tak ada satu pun tema spesifik yang membahas olahraga pada debat Capres 2019. Padahal, olahraga apalagi sepak bola termasuk 'lahan seksi' yang bisa mendulang suara.

Apalagi pemerintah saat ini juga sudah mulai bergerak mewujudkan proyek-proyek ambisius di dunia olahraga. Sebut saja kepastian Indonesia menjadi tuan rumah salah satu seri MotoGP 2021 di Mandalika, Lombok.


Pihak Dorna selaku operator MotoGP telah melakukan kesepakatan kerja sama dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) pada 29 Januari 2019 untuk menjadi tuan rumah MotoGP Indonesia mulai 2021.

Kerja sama itu juga tak akan terwujud jika tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Rencana ini juga mendapat sambutan luar biasa besar dari publik olahraga, terutama para penggila balap motor di Indonesia.

Belum lagi rencana pemerintah untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 setelah gelaran Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang dinilai sukses.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menyatakan surat pengajuan sebagai tuan rumah Olimpiade 2032 juga sudah dilayangkan ke Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach.

Upacara penyerahan medali emas cabor sepak takraw di Asian Games 2018. Upacara penyerahan medali emas cabor sepak takraw di Asian Games 2018. (Foto: ANTARA FOTO INASGOC/Wahyu Putro A)
"Dulu waktu ketemu ketua [Presiden] Olimpiade disampaikan bahwa kita memiliki keinginan untuk ikut (bersaing menjadi tuan rumah) Olimpiade," ujar Jokowi pada 20 Februari lalu.

Belum lagi soal kebijakan pemerintah melalui Kepolisian Republik Indonesia, juga telah melakukan upaya 'bersih-bersih' di sepak bola nasional. Polri membentuk Satgas Anti Mafia Bola untuk memberantas pengaturan skor di kompetisi profesional sepak bola Indonesia.

Pengamat olahraga yang merupakan Kepala Program Studi Sains Olahraga Institut Teknologi Bandung, Tommy Apriyantono, menilai ada poin besar yang telah dilewatkan kedua kandidat lantaran dunia olahraga sangat populer.

"Potensi elektabilitasnya cukup menjual bagi kandidat di debat Pilpres jika hal itu [dunia olahraga] dibahas dalam tema khusus. Prestasi olahraga yang selalu diiinginkan masyarakat Indonesia. Di situlah dua pasangan calon bisa 'menjual' program-program yang meyakinkan di dunia olahraga," ujar Tommy kepada CNNIndonesia.com.

Khusus kebijakan yang sudah dan tengah diupayakan pemerintah di bidang olahraga, bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi Paslon petahana Jokowi-Ma'ruf Amin.

Calon venue salah satu seri MotoGP 2021 di Mandalika Lombok, NTB. (Calon venue salah satu seri MotoGP 2021 di Mandalika Lombok, NTB. (Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/ama)
"Mereka bisa memaparkan pencapaian-pencapaian dan program berikutnya terkait prestasi olahraga Indonesia jika terpilih kembali," ucap Tommy.

"Contohnya Mandalika [calon venue MotoGP Indonesia 2021] itu sebenarnya amat terkait dengan pengembangan potensi ekonomi melalui pariwisata. Ajang-ajang olahraga bergengsi tingkat dunia ini pula yang menjadi promosi luar biasa bagi sebuah negara, terutama demi mendongkrak potensi pariwisata," ujar Tommy.

Tommy mencontohkan di era Presiden Sukarno yang begitu berambisi agar Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Untuk mewujudkannya, Sukarno membangun stadion termegah di Asia saat itu, Stadion Senayan.

"Di tengah krisis ekonomi Indonesia, Sukarno tetap bersikeras untuk menjadi tuan rumah Asian Games. Ia tahu betapa pentingnya proyek itu untuk promosi sebuah negara yang belum lama merdeka waktu itu," kata Tommy.

Meski condong menguntungkan petahana, bukan berarti program-program yang sudah dan tengah diupayakan pemerintah tak memberikan ruang bagi paslon penantang.

Paslon nomor 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, masih bisa mengkritisi kebijakan-kebijakan yang sudah dilakukan petahana sekaligus menyodorkan program-program yang lebih menjanjikan di bidang olahraga.

Capres Jokowi dan Prabowo Subianto di debat Pilpres 2019. (Capres Jokowi dan Prabowo Subianto di debat Pilpres 2019. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Melihat potensi besar dan popularitas dalam mendulang suara, memang cukup disayangkan jika pembahasan itu tak muncul di debat Pilpres secara khusus.

Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa bidang olahraga tetap tak dijadikan tema spesifik di debat Pilpres 2019?

Dunia olahraga tampak sekali belum menjadi keseriusan di Indonesia. Padahal lewat olahraga derajat dan harkat martabat sebuah negara bisa terangkat.

Tommy juga menyampaikan hal senada bahwa olahraga belum menjadi agenda penting dalam hal ini oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk dimunculkan dalam debat kandidat. Padahal, ia menilai pembangunan olahraga amat terkait dengan aspek lainnya macam ekonomi dan karakter bangsa.

"Contoh saja negara-negara maju seperti Amerika Serikat, China, Jepang, atau Korea Selatan. Mereka menempatkan olahraga sebagai prioritas setelah Pertahanan dan Ekonomi. Bukan hanya dari sisi prestasi, olahraga bisa membentuk masyarakat yang sehat seperti mengurangi penyakit degeneratif."

"Korea Utara sekali pun, amat serius melakukan pengembangan olahraga karena mereka tahu itu jadi promosi paling efektif," terang Tommy.

Setali tiga uang, pengamat olahraga yang merupakan Wakil Dekan III Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta, Mustara, menilai belum ada keseriusan secara politik untuk memajukan dunia olahraga di Indonesia.

Kenapa Tak Ada Pembahasan Olahraga di Debat Pilpres?
"Ini soal political will yang belum tampak di pemerintah. Coba tengok saja di Senayan yang seharusnya menjadi simbol karakter bangsa. Tanya saja di sana bagaimana akses para cabang olahraga untuk memakai fasilitas di sana."

"Memang amat disayangkan jika tak ada pembahasan program-program keolahragaan di debat Pilpres. Padahal penting sekali misalnya membahas rencana yang akan dilakukan pemerintah untuk menuju tuan rumah Olimpiade 2032," ucap Mustara saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Ia mencontohkan, kandidat sejatinya bisa membahas soal rencana dari sekarang membangun prestasi untuk Olimpiade nanti.

"Semisal coba mulai serius memperhatikan pengembangan calon-calon atlet yang saat ini usia 8-14 tahun untuk menjadi atlet andalan di Olimpiade 2032. Hajat tersebut bukan hanya sukses menjadi tuan rumah dalam hal fasilitas, tapi juga pengembangan sumber daya manusia, khususnya atlet-atlet potensial," tegas Mustara.

Yang jelas, ketiadaan pembahasan khusus olahraga di debat Pilpres 2019 merupakan poin penting yang dilewatkan. Meski belum garapan serius, seharusnya ranah ini bisa meyakinkan calon pemilih melihat program-program kandidat yang tengah bertarung. (har)