Mengingat 'Kebusukan' Rivaldo di Lapangan Hijau

CNN Indonesia | Jumat, 19/04/2019 12:26 WIB
Mengingat 'Kebusukan' Rivaldo di Lapangan Hijau Rivaldo pernah mengangkat trofi Piala Dunia bersama Brasil pada 2002. (REUTERS/Mariana Bazo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan gelandang timnas Brasil, Rivaldo, meginjak usia ke-47 tahun pada 19 April 2019. Peraih penghargaan Ballon d'Or pada 1999 tersebut juga dikenal dalam piawai memanfaatkan kondisi di lapangan.

Di lapangan, Rivaldo mungkin terlihat sebagai pemain yang semena-mena dan siap melakukan pelanggaran apapun demi keunggulan tim. Seperti aksi pura-pura jatuh dalam pertandingan melawan Turki di Grup C Piala Dunia 2002.


Ketika itu, gelandang Turki Hakan Unsal menendang bola ke arah badan Rivaldo yang menunggu di titik sepak pojok. Rivaldo langsung terjatuh sambil menutupi muka, Unsal pun harus mendapat kartu kuning kedua dan dikeluarkan dari lapangan pada menit 90+4.


"Saya senang melihat kartu merah tersebut. Pemain kreatif harus mampu mengekspresikan diri dia jika ingin menampilkan sebuah pertandingan sepak bola yang indah," kata Rivaldo usai pertandingan lawan Turki, seperti yang dikutip dari These Football Times pada Kamis (18/4).

"Terlalu banyak permainan busuk dan kekerasan dalam sepak bola. Tidak masalah di mana bola itu mengenai saya," katanya menambahkan.

Mengingat 'Kebusukan' Rivaldo di Lapangan HijauRivaldo (kiri) pernah meraih sukses bersama Barcelona. (Action Images / Darren Walsh)
Brasil menang dengan skor 2-1 atas Turki di hadapan kurang lebih 33 ribu penonton Stadion Munsu pada 3 Juni 2002. Dua gol Selecao dicatat Ronaldo (50') dan Rivaldo (87'), sedangkan satu-satunya gol Turki dicetak Hasan Sas (45+2).

Bersama Rivaldo, Brasil juara Piala Dunia 2002 usai mengalahkan Jerman dengan skor 2-0 di Stadion Internasional Yokohama pada 30 Juni 2002.

Selain Unsal, Peter Schmeichel juga pernah menjadi 'korban' dari permainan apik Rivaldo. Kiper asal Denmark itu adalah bintang di Manchester United.

Mengingat 'Kebusukan' Rivaldo di Lapangan Hijau
Pertandingan antara Man United dan Barcelona pada 16 September 1998 yang berakhir dengan skor 3-3 mungkin tak akan dilupakan Schmeichel.

Kiper berjuluk The Great Dane cukup ahli dalam membaca permainan dan mampu mengantisipasi pergerakan penyerang. Hingga akhirnya dia bertemu Rivaldo, spesialis pengacak pertahanan lawan.

Dalam pertandingan di Stadin Old Trafford itu, Rivaldo memang tidak mencetak gol. Akan tetapi, pemain asal Brasil itu berperan penting terhadap tiga gol yang diciptakan Barca.

Barca sempat tertinggal lebih dahulu 0-2 pada babak pertama. Namun memasuki babak kedua, hanya butuh 14 menit bagi Blaugrana untuk menyamakan kedudukan.

Mengingat 'Kebusukan' Rivaldo di Lapangan HijauRivaldo pernah memperkuat AC Milan. (Action Images via Reuters/Rudy Lhomme)
Gol pertama Barca tercipta setelah Rivaldo mencoba keluar dari kawalan empat pemain MU untuk masuk ke area kotak penalti. Ketatnya pengawalan empat pemain tersebut membuat bola yang dibawa Rivaldo terlepas dan langsung diamankan penyerang Barca, Anderson da Silva.

Tanpa ragu-ragu, Anderson langsung menembak dengan kaki kiri ke arah kiri gawang Schmeichel yang terpaku melihat tendangan tersebut. Barca memperkecil kedudukan menjadi 1-2 pada menit ke-47.

Berselang 12 menit kemudian, Rivaldo lagi-lagi berhasil menciptakan peluang eksekusi titik putih dengan terjatuh di area penalti lantaran berduel dengan Jaap Stam. Gelandang Giovanni Silva de Oliviera pun menyamakan kedudukan usai menyarangkan bola ke kiri atas gawang Schmeichel.

MU sempat membalikan kedudukan dengan tendangan bebas dari David Beckham pada menit ke-63. Namun kedudukan kembali disamakan pada menit ke-70 lewat tendangan penalti dari Luis Enrique.


Pada malam itu, Rivaldo begitu berani dan sulit ditebak. Ia bermain dengan ganas seakan menegaskan kualitas dia sebagai salah satu pemain terbaik di dunia.

Selama menjadi pemain sepak bola profesional, Rivaldo sukses dua kali membawa Barca juara La Liga pada 1997-1998 dan 1998-1999 serta juara Copa del Rey pada 1997-1998. Ia juga meraih gelar Liga Champions saat membela AC Milan pada 2002-2003. (map/nva)