Sebelum terjun ke dunia atletik, Eni merupakan seorang atlet renang. Saat berusia 15 tahun, Eni pernah mempersembahkan medali kepada Indonesia pada gelaran Asian Games 1962 dan 1965 di nomor renang tim estafet putri gaya bebas dan gaya ganti.
"Saya enggak pernah kepikiran buat jadi atlet atletik, lha wong saya enggak bisa lari," kata Eni dalam perbincangan bersama CNNIndonesia.com, Rabu (24/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga kembali dipercaya melatih perkumpulan atletik di Jakarta milik Bob yang diberi nama Fajar Mas Murni. Sampai pada tahun 2004 ia dipercaya menjadi pelatih Pelatda (Pelatnas Daerah) DKI Jakarta yang bakal tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang.
Lalu Zohri dituntut memiliki catatan waktu lebih bagus dari 10,13 detik untuk ke Olimpiade 2020. (Dok. PB PASI) |
Sederet atlet sudah mencetak prestasi dari tangan dingin Eni Nuraeni. Mulai dari Rita Matilda, Fadlin, Yaspi Boby, Iswandi, Suryo Agung sampai terakhir Lalu Zohri yang meraih medali emas di Kejuaraan Atletik Junior di Finlandia pada 2018 serta medali perak Kejuaraan Atletik Asia 2019 lalu.
Eni juga menjadi sosok dibalik sukses raihan medali perak tim estafet Indonesia di ajang Asian Games 2018. Medali dari cabang atletik yang sudah dinanti selama 52 tahun lamanya.
[Gambas:Instagram]
Namun itu belum membuat Eni merasa puas. Tekadnya masih begitu besar untuk kembali mencetak prestasi tinggi bagi para atletnya. Buat Eni, sebetulnya mencari bakat sprinter tidaklah sulit, hanya cukup melihat frekuensi langkah seseorang saat berlari sebelum melakukan tes lanjutan.
Resep utama mencetak sprinter andal versi Eni Nuraeni yakni dengan melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan atletnya. Selain tentunya menyuntikkan motivasi dan pola pikir untuk jadi juara kepada setiap anak asuhnya.
"Enggak ada kesulitan. Berjalan begitu saja. Resepnya memperlakukan atlet seperti ibu ke anak," ujarnya.
Usai 33 tahun mengabdi pada dunia atletik Tanah Air, pelatih 75 tahun itu akhirnya mendapatkan penghargaan sebagai Pelatih Atletik Terbaik Asia oleh Asosiasi Atletik Asia (AAA). Ia dianggap sebagai pelatih lokal yang sukses membawa atletnya meraih prestasi tinggi di kancah internasional.
Catatan Lalu Zohri kini sudah berada di 10.13 detik pada Kejuaraan Atletik Asia 2019 di Doha. Catatan waktu itu sekaligus membuat Zohri menjadi Manusia Tercepat di Asia Tenggara setelah sebelumnya dipegang seniornya, Suryo Agung yang mencatatkan rekor 10,17 pada SEA Games 2009 di Vientiane, Laos.
"Saya ingin ada sprinter Indonesia yang bisa lari di bawah 10 detik. Atlet Jepang saja bisa, padahal dari tinggi badannya sama Zohri tidak terlalu jauh. Kenapa kita enggak bisa? Saya ingin terus motivasi dan membantu atlet kita meraih prestasi di luar negeri," tutupnya (ttf/jun)
Lalu Zohri dituntut memiliki catatan waktu lebih bagus dari 10,13 detik untuk ke Olimpiade 2020. (Dok. PB PASI)