Ambisi Pelatih Zohri Cetak Waktu Sprinter di Bawah 10 Detik

CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 08:49 WIB
Ambisi Pelatih Zohri Cetak Waktu Sprinter di Bawah 10 Detik Eni Nuraeni Martodihardjo ingin punya pelari 100 meter dengan catatan di bawah 10 detik. (Dok. PB PASI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama 33 tahun, Eni Nuraeni Martodihardjo menjalankan profesinya sebagai pelatih atletik. Selama itu juga, dua atletnya didaulat sebagai 'Manusia Tercepat' di Asia Tenggara; Suryo Agung Wibowo dan Lalu Muhammad Zohri.

Sebelum terjun ke dunia atletik, Eni merupakan seorang atlet renang. Saat berusia 15 tahun, Eni pernah mempersembahkan medali kepada Indonesia pada gelaran Asian Games 1962 dan 1965 di nomor renang tim estafet putri gaya bebas dan gaya ganti.

Namun perempuan kelahiran Ciamis, 29 September 1947 itu mengaku hobi menyaksikan perlombaan atletik, khususnya nomor sprint.

"Saya enggak pernah kepikiran buat jadi atlet atletik, lha wong saya enggak bisa lari," kata Eni dalam perbincangan bersama CNNIndonesia.com, Rabu (24/4).


Eni yang merupakan lulusan Akademi Bahasa Asing Bandung itu memulai kariernya sebagai pelatih atletik pada tahun 1986. Ketika itu, ia dipercaya Bob Hasan untuk melatih sekolah atletik untuk anak-anak di usia sekolah dasar.

Ia juga kembali dipercaya melatih perkumpulan atletik di Jakarta milik Bob yang diberi nama Fajar Mas Murni. Sampai pada tahun 2004 ia dipercaya menjadi pelatih Pelatda (Pelatnas Daerah) DKI Jakarta yang bakal tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang.

Lalu Zohri dituntut memiliki catatan waktu lebih bagus dari 10,13 detik untuk ke Olimpiade 2020.Lalu Zohri dituntut memiliki catatan waktu lebih bagus dari 10,13 detik untuk ke Olimpiade 2020. (Dok. PB PASI)
"Saat itu di PON atlet saya ada yang dapat medali emas di nomor 200 dan 400 meter. Namanya, Ahmad Sumarsono Sakeh," sebut Eni.

Dua tahun berselang, Eni direkrut menjadi asisten pelatih Dikdik Jafar Sidik di nomor sprint oleh Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Sadar tidak menguasai dasar-dasar teknik berlari, ia pun mengikuti berbagai penataran pelatih atletik mulai dari tingkat dasar nasional sampai kini ia sudah mengantongi sertifikat pelatih internasional dari IAAF (Federasi Atletik Internasional).

Sederet atlet sudah mencetak prestasi dari tangan dingin Eni Nuraeni. Mulai dari Rita Matilda, Fadlin, Yaspi Boby, Iswandi, Suryo Agung sampai terakhir Lalu Zohri yang meraih medali emas di Kejuaraan Atletik Junior di Finlandia pada 2018 serta medali perak Kejuaraan Atletik Asia 2019 lalu.

Eni juga menjadi sosok dibalik sukses raihan medali perak tim estafet Indonesia di ajang Asian Games 2018. Medali dari cabang atletik yang sudah dinanti selama 52 tahun lamanya.

[Gambas:Instagram]
Namun itu belum membuat Eni merasa puas. Tekadnya masih begitu besar untuk kembali mencetak prestasi tinggi bagi para atletnya. Buat Eni, sebetulnya mencari bakat sprinter tidaklah sulit, hanya cukup melihat frekuensi langkah seseorang saat berlari sebelum melakukan tes lanjutan.

Resep utama mencetak sprinter andal versi Eni Nuraeni yakni dengan melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan atletnya. Selain tentunya menyuntikkan motivasi dan pola pikir untuk jadi juara kepada setiap anak asuhnya.

"Enggak ada kesulitan. Berjalan begitu saja. Resepnya memperlakukan atlet seperti ibu ke anak," ujarnya.

Usai 33 tahun mengabdi pada dunia atletik Tanah Air, pelatih 75 tahun itu akhirnya mendapatkan penghargaan sebagai Pelatih Atletik Terbaik Asia oleh Asosiasi Atletik Asia (AAA). Ia dianggap sebagai pelatih lokal yang sukses membawa atletnya meraih prestasi tinggi di kancah internasional.

Ambisi Eni Nuraeni Cetak Waktu Sprinter Di Bawah 10 Detik
Kini, target Eni adalah mampu meloloskan atlet atletik Indonesia ke Olimpiade 2020 Tokyo. Peluang datang dari Lalu Zohri yang bakal tampil di nomor 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik di Doha, Qatar, pada September mendatang.

Catatan Lalu Zohri kini sudah berada di 10.13 detik pada Kejuaraan Atletik Asia 2019 di Doha. Catatan waktu itu sekaligus membuat Zohri menjadi Manusia Tercepat di Asia Tenggara setelah sebelumnya dipegang seniornya, Suryo Agung yang mencatatkan rekor 10,17 pada SEA Games 2009 di Vientiane, Laos.

Untuk lolos ke Tokyo 2020, sprinter asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Timur harus bisa mencapai limit Olimpiade, yakni 10,05 detik atau masuk di peringkat 56 besar dunia.

"Saya ingin ada sprinter Indonesia yang bisa lari di bawah 10 detik. Atlet Jepang saja bisa, padahal dari tinggi badannya sama Zohri tidak terlalu jauh. Kenapa kita enggak bisa? Saya ingin terus motivasi dan membantu atlet kita meraih prestasi di luar negeri," tutupnya (TTF/jun)