Peraih medali emas di Kejuaraan Atletik Junior Dunia 2018 di Tampere, Finlandia itu mengakui hilang konsentrasi sehingga medali emas yang sudah di depan mata buyar.
Lalu Zohri pun harus puas meraih medali perak dengan catatan waktu 10,13 detik. Ia dikalahkan sprinter Jepang, Yoshihide Kiryu, dengan torehan 10,10 detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu Muhammad Zohri bersama sang pelatih Eni Nuraeni di Doha, Qatar. (Foto: Dok. PB PASI) |
Catatan waktu Lalu Zohri merupakan sebuah peningkatan setelah pada semifinal ia berada di posisi kedua dengan torehan 10,15 detik. Catatan waktu tersebut pun sudah melampaui rekor mantan sprinter nasional Suryo Agung yakni 10,17 detik.
Kini kompatriotnya asal Indonesia, Lalu Zohri, yang dinobatkan sebagai manusia tercepat di Asia Tenggara setelah mengalahkan rekor Suryo Agung.
"Iya, saya akan coba lebih baik dan baik lagi," tutur Lalu Zohri.
Sukses Lalu Zohri di nomor 100 meter ini sendiri tak lepas dari strategi jitu pelatihnya Eni Nuraeni Sumartoyo. Pelatih yang baru saja dianugerahi gelar pelatih terbaik Asia 2019 oleh Asosiasi Atletik Asia ini mengatakan sengaja menyimpan sprinternya untuk lari 100 meter karena nomor ini yang menjadi target Indonesia di Olimpiade 2020.
Lalu Zohri tidak diturunkan di nomor estafet 4x100 meter lantaran jadwal yang terlalu mepet dengan waktu lomba 100 meter. (bac)
Lalu Muhammad Zohri bersama sang pelatih Eni Nuraeni di Doha, Qatar. (Foto: Dok. PB PASI)