TESTIMONI

Rahmad Darmawan: Tangan Patah, Tentara, dan Persipura

Rahmad Darmawan, CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 09:17 WIB
Rahmad Darmawan meraih sukses bersama Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya lebih dahulu mengenal bulutangkis daripada sepak bola yang kini sudah mewarnai sebagian besar hidup saya. Hampir setiap malam saya bermain bulutangkis di kampung saya, kampung kecil di Tanggulangin, Punggur, Lampung Tengah. Waktu itu listrik belum masuk ke kampung. Kami main bulutangkis hanya bermodalkan lampu petromaks.

Buat saya waktu itu, untuk anak kelas 4 atau 5 SD, bermain bulutangkis di malam hari sangat membahagiakan. Sayang hobi saya itu tidak bertahan lama karena mulai kelas 6 SD, saya mulai tertarik dengan sepak bola. Alasannya sederhana, saya jarang punya teman sebaya untuk main bulutangkis.

Saya pun langsung jatuh cinta dengan sepak bola. Hampir setiap sore sepulang sekolah atau setelah salat asar saya pergi ke lapangan bola. Di saat banyak anak yang lain di kampung pergi mengaji selepas salat asar, saya malah lebih sering bolos karena ingin main bola.


Bagusnya orang tua mendukung hobi saya ini. Mereka tahu saya berbakat sekali di sepak bola. Saking besarnya dukungan, saya dibelikan hadiah bola dan sepatu bola saat diajak pergi Palembang, kira-kira usia saya waktu itu 11 atau 12 tahun. Begitu kembali ke kampung, saya jadi anak kecil pertama di kampung yang punya sepatu bola.

Rahmad Darmawan salah satu pelatih lokal tersukses di level klub.Rahmad Darmawan salah satu pelatih lokal tersukses di level klub. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Ketika masuk SMP, saya mulai bermain dengan anak-anak yang lebih dewasa meski badan saya paling kecil. Bahkan masuk kelas dua SMP saya sudah disewa untuk membela Sekolah Teknik Menengah. Hasilnya tangan saya patah dan agak bengkok sampai sekarang karena nekat bermain dengan orang yang lebih tua.

Jalan karier saya untuk jadi pesepakbola semakin cerah saat beranjak remaja. Saya masuk tim PON Lampung hingga akhirnya saya terpanggil untuk PSSI Garuda 1 meski akhirnya tim itu bubar setiba saya di Jakarta. Keinginan saya untuk berkarier sebagai pesepakbola semakin menggebu-gebu, tetapi di sisi lain saya juga ingin kuliah. Saya ingin sepak bola dan pendidikan bisa berjalan beriringan. Seperti pesan bapak.

Kebetulan saat mengikuti Sipenmaru, saya bisa masuk IKIP Jakarta. Saya bertekad dalam hati agar pendidikan dan sepak bola bisa berjalan beriringan. Saya ingat betul pesannya 'Kamu boleh main bola sampai mana saja, tapi bapak mau anak bapak bisa menyelesaikan kuliah'. Amanat itu yang terus saya simpan dalam benak saya. Jadi saya ikuti saran bapak dengan kuliah di IKIP Jakarta jurusan kepelatihan.

Saya kemudian main untuk Persija selama enam tahun, dari 1986 sampai 1992. Di era itu juga saya main untuk pertama kalinya bersama Timnas Indonesia U-23, kira-kira tahun 1987-1989.

Di tahun yang sama, saya pertama kali main di Timnas senior untuk Merdeka Games di Malaysia. Jujur, saya sangat senang sekali waktu itu karena bisa satu tim dengan pemain-pemain hebat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Bahkan, saya bisa satu kamar dengan Ricky Yakobi, pemain yang sangat terkenal di zaman itu. Saya jelas bangga bisa mendapatkan kesempatan yang belum tentu didapatkan pemain lain. Namun kebahagiaan saya itu tidak berlangsung lama. Saya yang sedang berada dalam puncak penampilan malah mengalami cedera lutut meniskus.

Cedera itu saya alami saat Timnas Indonesia menggelar pemusatan latihan untuk Pra Piala Dunia di Jerman. Saya ditabrak kiper lawan dalam laga uji coba melawan Bayer Uerdingen. Mimpi untuk jadi pemain inti Timnas kandas dan saya harus menepi satu tahun.

Rahmad Darmawan: Tangan Patah, Tentara, dan PersipuraRahmad Darmawan pernah memperkuat Persija dan Timnas Indonesia U-23. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Saya sempat terpukul. Namun dalam hidup selalu ada hikmah dari setiap masa sulit yang terjadi. Saya malah bisa menyelesaikan skripsi, suatu hal yang sulit dilakukan sebelumnya karena saya harus TC di luar negeri bersama timnas dan sibuk membela Persija.

Selesai kuliah, kira-kira tahun 1990-an, saya ditawari masuk ABRI lewat jalur prestasi oleh EE Mangindaan, mantan Ketua Badan Timnas Indonesia. Ketika itu mereka sedang membentuk tim PS ABRI Galatama.

Buat saya bisa masuk ABRI ibarat mimpi yang jadi kenyataan. Ayah saya kerap bercerita waktu kecil saya selalu pakai baju Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) setiap kali ikut Karnaval HUT Kemerdekaan RI. Saya ingat betul waktu itu raut wajah ayah saya begitu gembira ketika saya bilang ditawari masuk ABRI. Saya pun memutuskan mundur dari pekerjaan saya sebagai pegawai di salah satu bank milik negara.

Rahmad Darmawan: Tangan Patah, Tentara, dan Persipura
Ketika resmi jadi tentara, saya awalnya kaget karena gajinya kok lebih sedikit dibandingkan saat saya jadi pegawai bank. Dua tahun masa dinas berjalan, saya coba-coba tes di Bank Indonesia dan kemudian diterima. Saya pulang dan bilang ke orang tua kalau saya mau mundur dari KKO AL dan beralih profesi kerja di bank.

Beliau tidak marah tapi hanya bilang begini, "Rezeki itu datang bukan karena kamu kerja di bank terus dapat gaji lebih kecil atau lebih besar. Kalau memang rezeki kamu besar, kamu akan dapat yang lebih besar. Kedua, bapak itu punya anak, semuanya sudah ada yang kerja di bank. Ada yang jadi dosen, ada yang kerja di pemerintahan tapi bapak tidak punya anak yang jadi tentara". Omongan beliau ini membuat saya mengurungkan niat mundur dari kesatuan KKO AL.

Selama bertugas di KKO AL, saya pernah beberapa kali terlibat untuk tugas pengamanan. Saya pernah ikut pengamanan laut ketika Presiden berkunjung ke Semarang dan kerusuhan Trisakti tahun 1998. Saya ingat sekali waktu ada situasi panas di Jakarta dan saya diminta kesatuan untuk pulang walau sedang bersama Persikota Tangerang untuk melakoni sebuah pertandingan di Yogyakarta.

Sementara itu untuk mengetahui pengalaman karier Rahmad Darmawan di Persipura hingga saat ini, simak cerita di halaman selanjutnya.

Momen Manis Persipura

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2