PSSI Sepakat Gunakan VAR di Liga 1 2019

CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 21:57 WIB
PSSI Sepakat Gunakan VAR di Liga 1 2019 Liga Champions musim ini sudah menggunakan teknologi VAR. (Action Images via Reuters/John Sibley)
Jakarta, CNN Indonesia -- PSSI melalui Komite Eksekutif (Exco) sepakat penggunaan Video Assistant Referee (VAR) untuk Liga 1 2019.

Kesepakatan tercapai usai rapat Exco PSSI akhir pekan lalu. PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi pun diminta segera mempelajari anggaran dan infrastruktur untuk mewujudkan rencana penggunaan VAR.

Sementara PSSI sebagai induk sepak bola tanah air yang memutuskan kebijakan soal kompetisi Indonesia akan melakukan studi terkait regulasi sesuai aturan FIFA.


"PSSI tentunya juga akan menyiapkan wasit-wasit terbaik yang nantinya bertugas di belakang layar dalam pengoperasian VAR," kata Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, dikutip dari situs resmi PSSI.

PSSI melaui ketrangan Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria setuju penggunaan VAR di Liga 1 2019. (PSSI melaui ketrangan Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria setuju penggunaan VAR di Liga 1 2019. (Foto: CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Sebelumnya, sejumlah pelaku kompetisi nasional terutama klub-klub Liga 1 mendesak PT LIB untuk memberlakukan VAR. Desakan itu disampaikan karena kualitas wasit-wasit Indonesia yang masih buruk.

Metode VAR sendiri sudah diterapkan di sejumlah liga-liga di Eropa. Salah satunya adalah La Liga Spanyol yang sudah menggunakan VAR.

VAR juga sudah diberlakukan di Piala Dunia 2018. Penggunaan 'mata kedua' selain para perangkat pertandingan di lapangan melalui teknologi tayangan ulang dinilai membantu meminimalkan kesalahan-kesalahan pengamatan dari wasit.

PSSI Sepakat Gunakan VAR di Liga 1 2019
Bukan hanya alih teknologi yang membutuhkan biaya banyak, penggunaan VAR juga harus disertakan dengan alih pengetahuan kepada para perangkat pertandingan. Pasalnya, penggunaan VAR juga membutuhkan tambahan petugas sebagai operator dan petugas di belakang monitor.

Penggunaan VAR mirip dengan penggunaan teknologi Hawk-Eye di olahraga badminton maupun tenis. Namun, aturannya berbeda dari sepak bola.

Di pertandingan badminton, pemain berhak meminta penggunaan Hawk-Eye untuk keputusan wasit yang dinilai kurang meyakinkan. Pemain mendapat kuota tertentu setiap gim untuk mengajukan pantauan dari Hawk-Eye.

Berbeda dengan sepak bola, wasit yang berhak meminta VAR untuk lebih meyakinkan pengamatannya terhadap pelanggaran atau peristiwa krusial tertentu seperti gol atau offside.

Alih teknologi dan pengetahuan yang mahal dan tidak mudah ini pula membuat pihak PT LIB pesimistis VAR bisa diimplementasikan musim ini. Direktur PT LIB Dirk Soplanit menyatakan rencana VAR hanya bisa diwujudkan secara bertahap karena infrastruktur di sebagian besar stadion di Indonesia belum memenuhi syarat.

"Semalam [Minggu), kebetulan kami rapat Exco, juga sudah memutuskan untuk kemungkinan kami menjajaki penggunaan VAR. Tapi memang ini tidak mudah juga karena proses-prosesnya itu."

"Pertama, kualifikasi wasit. Itu [VAR] tidak bisa ujug-ujug [langsung] pasang, infrastruktur stadion mungkin atau tidak? Banyak hal yang harus dibicarakan," tutur Dirk.

Ia memperkirakan VAR secara normal baru bisa diterapkan di kompetisi Indonesia pada 2021.

"Tetapi, mungkin dari pembicaraan semalam, [akan] ada alat kontrol tertentu [semacam VAR] yang barangkali bisa digunakan ketika ada [kejadian] yang kontroversi. Itu semua dalam pembicaraan," ucapnya. (map/bac)