Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Lee Chong Wei, Tak Semua Legenda Harus Punya Mahkota

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 19:13 WIB
Lee Chong Wei, Tak Semua Legenda Harus Punya Mahkota Lee Chong Wei mendapat rasa hormat dan cinta dari penggemar bulutangkis di seluruh dunia. (AFP PHOTO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lee Chong Wei akhirnya pensiun tanpa status juara Olimpiade dan juara dunia. Namun ia layak untuk tetap dipuja, karena ia perwujudan pantang menyerah yang sebenarnya.

Lee Chong Wei sering gagal di langkah terakhir. Bukan satu, dua, atau tiga kali. Tetapi enam. Tiga di final Kejuaraan Dunia, tiga di Olimpiade.

Pebulutangkis 36 tahun itu sebenarnya pernah masuk final sebelum merebut medali perak di Kejuaraan Dunia 2014. Namun gelar itu dicabut karena ia diketahui tersangkut doping.


Menilik statistik tersebut, tak salah bila ada orang yang melabeli Lee Chong Wei sebagai pebulutangkis dengan nasib tersial yang pernah ada.

Kalah di langkah terdekat menuju juara adalah hal tersakit yang pernah ada. Kalah di langkah terdekat menuju juara pada turnamen akbar seperti Olimpiade dan Kejuaraan Dunia bisa jadi memunculkan tiga kali lipat rasa sakit dari turnamen biasa.

Enam kali kalah di langkah terdekat menuju juara di turnamen akbar, entah kata atau kalimat apa yang bisa mewakili perasaannya.

Lee Chong Wei harus puas jadi runner up di tiga final Olimpiade.Lee Chong Wei harus puas jadi runner up di tiga final Olimpiade. (Adek BERRY / AFP)
Deret 69 gelar, termasuk 47 gelar Super Series jadi bukti kehebatan dan konsistensi Lee Chong Wei di dunia bulutangkis. Empat gelar All England juga jadi bukti supremasi dalam perjalanan kariernya.

Lee Chong Wei berdiri sebagai pemain nomor satu dunia selama enam tahun beruntun dari 2008-2013. Karena itu sulit dipercaya dalam durasi tersebut tak sekalipun gelar juara dunia atau medali emas Olimpiade mampir ke tangannya. Makin sulit diterima akal sehat karena Chong Wei punya enam kali kesempatan untuk mendapatkannya.

"Saya sangat minta maaf karena telah mengecewakan. Saya mencoba yang terbaik, namun saya harus menerima kenyataan bahwa Chen Long bermain lebih baik dibandingkan saya."

"Saya bermain lebih baik dibandingkan Olimpiade 2012 dan seluruh final Kejuaraan Dunia. Ini bukan hari terbaik saya, namun saya tidak pernah menyerah," ucap Lee Chong Wei seusai kalah dari Chen Long.

Lee Chong Wei dan Pemandangan yang Sama

Lee Chong Wei hanya bisa terpana ketika shuttlecock yang ia kembalikan dinyatakan keluar. Chong Wei hanya bisa menyaksikan Lin Dan berlari meninggalkan lapangan merayakan kemenangan di Olimpiade 2012.

Lee Chong Wei kemudian jongkok dan terlihat sangat menyesali kegagalan di final Olimpiade untuk yang kedua kalinya di tangan Lin Dan.

Kekalahan di 2012 terasa lebih baik dibandingkan kekalahan telak di Beijing empat tahun sebelumnya. Namun Lee Chong Wei tentu sadar bahwa semua tetap berujung pada hal yang sama, medali perak di lehernya.

Empat tahun setelahnya, Lee Chong Wei bisa mengalahkan Lin Dan di Olimpiade untuk pertama kalinya. Namun sukses itu tak berujung manis karena ia gagal di babak final ketika menghadapi Chen Long.
Lee Chong Wei tidak pernah merasakan gelar juara dunia dan juara Olimpiade dalam kariernya.Lee Chong Wei tidak pernah merasakan gelar juara dunia dan juara Olimpiade dalam kariernya. (REUTERS/Antonio Bronic)
Chong Wei menghadapi pemandangan yang sama. Ia hanya terpana menyaksikan lawannya meluapkan kegembiraan bersama pelatih dan pendukungnya.

Hal yang sama juga terjadi di Kejuaraan Dunia. Chong Wei hanya tinggal berjarak satu poin dari gelar juara dunia di tahun 2011 saat ia unggul 20-19 di gim ketiga. Kesempatan kedua datang ketika ia unggul 21-20.

Namun smes-smes Lin Dan tak bisa dibendung sehingga Chong Wei berbalik tertinggal 21-22. Pukulan Lee Chong Wei yang membentur net membuat dirinya harus melihat Lin Dan bersorak gembira sambil membuka bajunya.

Dua tahun berikutnya, Lee Chong Wei harus puas dengan medali perak di partai final dengan kondisi ditandu ke luar lapangan, lagi-lagi saat menghadapi Lin Dan. Saat Lin Dan melakukan pukulan, Lee Chong Wei mati langkah dan kemudian berdiam dalam posisi jongkok.

Ia memegangi lutut kirinya dan kemudian mendapat perawatan di lapangan. Lee Chong Wei mencoba bangkit namun kemudian akhirnya ia tak kuat dan lantas menyalami Lin Dan sebelum ditandu ke luar lapangan.
Lee Chong Wei selalu berjuang keras di partai final.Lee Chong Wei selalu berjuang keras di partai final. (Foto: STR / AFP)
Usai medali perak Kejuaraan Dunia 2014 dicabut karena doping, Lee Chong Wei kembali punya kesempatan jadi juara dunia di Kejuaraan Dunia 2015.

Namun hari final lagi-lagi bukan jadi hari baik untuk Lee Chong Wei. Ia tampil di bawah level terbaik dan kalah 14-21, 17-21 dari Chen Long. Lee Chong Wei bertahan mati-matian namun akhirnya Chen Long bisa memastikan kemenangan lewat smes di depan net.

Chong Wei lagi-lagi hanya bisa terpana melihat Chen Long melempar raket tanda bahagia sebelum akhirnya menjatuhkan diri di lapangan.

Enam final turnamen besar, enam kali pula Lee Chong Wei melihat pemandangan yang sama. Melihat Lin Dan dan Chen Long berteriak bahagia.

Enam final turnamen besar, enam kali pula penonton melihat pemandangan yang sama. Melihat Lee Chong Wei yang berusaha tegar dengan raut wajah yang tetap menampakkan air muka kecewa.

Lee Chong Wei akhirnya pensiun tanpa status juara Olimpiade dan juara dunia. Namun ada peninggalan lain yang tetap membuatnya layak berdiri tegak sebagai legenda.

Kisah Lee Chong Wei adalah tentang perjuangan, tentang kegigihan, dan tentang menolak menyerah pada kegagalan.

Melihat Lee Chong Wei berdiri di lapangan selama ini, ada banyak rasa hormat dan cinta, bukan hanya dari penggemar bulutangkis di Malaysia. Karena Lee Chong Wei sudah berjuang sekuat tenaga, sebaik-baiknya, sehebat-hebatnya.

Mereka akan menerima bahwa tak semua legenda punya mahkota. (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS