Kemudian masuk senior pada 1991/1992. Harusnya saya ikut SEA Games 1992, tapi kabur dari pelatnas.
Orang-orang berpikir saya tidak tahan dengan gaya pelatihan Anatoli Polosin waktu itu. Namun, sebenarnya ada persoalan keluarga di Aceh sehingga saya harus kembali ke sana. Saat itu rupanya Timnas Indonesia raih emas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya terkesan dengan Uston Nawawi ketika itu, meskipun ia gagal penalti karena bolanya melambung. Uston itu pemain muda, dia baru muncul di Persebaya tapi tekniknya bagus. Dan saya rasa kekuatan Uston itu ketika passing.
Ada beberapa pemain senior mundur karena tidak berani ambil penalti, padahal sudah ditunjuk.
Akhirnya Uston masuk jadi pilihan dan dia menyatakan siap ketika saya tanya. Saat itu saya sebagai kapten.
Di ruang ganti dan bus, kami hanya terdiam. Sampai di hotel saya baru bicara dengan Uston.
"Uston, kenapa? Selama ini passing-mu bagus sekali. Kenapa tendangan penalti malah naik?" tanya saya.
Pernah membela Merah Putih sebagai pemain, Fakhri kini menangani Timnas Indonesia U-19. (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah) |
"Ketika nama saya dipanggil oleh wasit untuk tendang, saya jalan dari lingkaran tengah ke titik penalti itu seperti tidak menginjak rumput. Seperti melayang, betapa berat beban itu," jawabnya.
Bagaimanapun, saya salut ada anak muda yang punya keberanian untuk itu.
Pengalaman buruk lainnya setelah saya memperkuat Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Asia 1996. Kami lolos, tapi nama saya tidak ada saat putaran final di Uni Emirat Arab.
Saya sudah merasa tak akan dibawa. Pelatih saat itu Danurwindo mengatakan bahwa pertahanan saya tidak bagus. Belakangan saya tahu karena ada faktor non-teknis. Saya termasuk pemain yang vokal mengutarakan sikap kritis.
Usai kualifikasi, saya memang sempat debat soal jas pemain Timnas Indonesia.
"Loh, kenapa ini dikembalikan? Jas ini diukur atas badan kami, kamu mau kasih ini ke siapa? Ini kan tim nasional," saya bilang begitu di depan manajer.
Saya beruntung karena pernah dilatih tiga pelatih hebat: almarhum Ipong Silalahi, Risdianto, dan almarhum Ronny Pattinasarany.
Dari bang Ipong, saya belajar mengatur kesolidan cara pemain tengah bermain efisien, efektif, dan kreatif. Dari mas Risdianto, saya belajar soal menciptakan peluang dan mencetak gol. Sedangkan dari bang Ronny saya belajar cara mengatur permainan dari lini belakang dan kepemimpinannya di lapangan. (bac/jal)
Pernah membela Merah Putih sebagai pemain, Fakhri kini menangani Timnas Indonesia U-19. (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Fakhri Husaini saat ikut membawa Timnas Indonesia U-16 juara Piala AFF U-16 2018. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Fakhri (kiri) saat masih menangani Timnas Indonesia U-16. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Fakhri sempat tidak diizinkan menjadi pesepakbola oleh sang ayah. (Foto: CNN Indonesia/Artho Viando)
Fakhri merasa kualat karena sempat memandang remeh sepak bola di Bontang. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Fakhri justru bersyukur karena kualat yang membuatnya ke Bontang justru membawa nikmat. (CNN Indonesia/Artho Viando)