Pengamat: Jangan Sembarangan Ajukan Tuan Rumah Piala Dunia

CNN Indonesia | Senin, 01/07/2019 16:35 WIB
Pengamat: Jangan Sembarangan Ajukan Tuan Rumah Piala Dunia Ilustrasi Piala Dunia 2018 di Rusia. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Jakarta, CNN Indonesia -- PSSI berencana untuk ambil bagian dalam bidding Piala Dunia 2034. Pengamat olahraga nasional Tommy Apriantono menyebut keinginan itu harus dipikirkan ulang.

Bukan tanpa pemikiran yang jelas, Tommy mengatakan keinginan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 berdekatan dengan keinginan pemerintah untuk menjadikan Indonesia tuan rumah Olimpiade 2032 Jakarta-Jawa Barat. Namun, dari sisi infrastruktur maupun finansial hal itu dirasa sulit untuk diwujudkan.

"Saya apresiasi rencana itu [jadi tuan rumah Piala Dunia 2034]. Kita harus mengukur jelas kemampuan sebagai tuan rumah," kata Tommy melalui sambungan telepon, Senin (1/7).


Tommy melihat PSSI ingin seperti Brasil yang bisa menggelar Piala Dunia 2014 yang dilanjutkan dengan Olimpiade 2016 yang secara beruntun. Hanya saja, Brasil lebih siap dari sisi infrastruktur stadion ketimbang Indonesia.

Tak hanya itu, Tommy melanjutkan, Brasil juga disebut menggunakan anggaran dari pos kesehatan untuk membangun sistem akses transportasi sesuai standar. Hal itu berakhir pada beban di sektor ekonomi.

Meski disebut sebagai salah satu pagelaran Piala Dunia yang tersukses, tapi baik dari sisi ekonomi dan prestasi Brasil disebut gagal. Selain meninggalkan utang, prestasi Timnas Brasil yang hanya mampu finis di peringkat keempat di bawah Jerman, Argentina dan Belanda secara berurutan.

Pengamat: Jangan Sembarangan Ajukan Tuan Rumah Piala Dunia
"Indonesia siap tidak PSSI mendanai triliunan rupiah karena pemerintah bakal lebih jor-joran mengeluarkan uang untuk Olimpiade. Apalagi harus dipikirkan juga, Indonesia berencana memindahkan ibu kota ke Kalimantan," sebut Tommy.

Dari sisi infrastruktur, belum ada stadion selain Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta yang memenuhi standar FIFA. Selain kapasitas stadion yang mampu menampung 70 ribu penonton, tapi ketersediaan transportasi publik menuju GBK juga sudah terpenuhi dengan dibangunnya MRT (Mass Rapid Transportation).

"Tapi walaupun memenuhi standar, GBK ada track atletiknya. Di FIFA, bagaimana penonton bisa sedekat mungkin untuk mendengar teriakan pemain di lapangan. Pagar pembatas penonton tingginya tidak boleh lebih dari satu meter, karena kalau ada force majeur penonton boleh ke lapangan," jelasnya.

Pengamat: Jangan Sembarangan Ajukan Tuan Rumah Piala DuniaHanya SUGBK disebut yang layak untuk menggelar laga Piala Dunia. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Tommy berharap jangan sampai keinginan mengikuti bidding Piala Dunia 2034 sama seperti kejadian di era Nurdin Halid di 2010. Kala itu, PSSI berkeinginan untuk ikut bidding Piala Dunia 2022.

Namun, keinginan itu dianggap tidak serius untuk diwujudkan. Bahkan setelah dipastikan gagal, PSSI era Nurdin Halid masih meninggalkan utang.

"Kalau di Indonesia dan Australia butuh penerbangan, butuh waktu, butuh transportasi. Thailand saja membatalkan diri. Jangan membabi buta, harus punya dasar yang kuat, tolong dipikirkan."

"Brasil bisa pakai uang kesehatan, kalau saya jadi pemerintah pasti saya bakal lebih mementingkan pendidikan dan kesehatan yang jauh lebih penting dari Piala Dunia," tutup Tommy. (TTF/jal)