Indonesia Open: Menikmati Perang Saudara di Tanah Terjajah

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 22/07/2019 11:56 WIB
Indonesia Open: Menikmati Perang Saudara di Tanah Terjajah Podium ganda putra Indonesia Open dikuasai oleh pebulutangkis Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lagu 'Bagimu Negeri' mengiringi kedatangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan ke arena Istora Gelora Bung Karno, tempat yang baru saja dijajah oleh pebulutangkis dari belahan dunia lainnya.

Duel Kevin/Marcus lawan Ahsan/Hendra dalam All Indonesian Final di nomor ganda putra Blibli Indonesia Open 2019, Minggu (21/7), memang jadi penutup yang pantas untuk laga final.

Kevin/Marcus adalah perwakilan generasi baru Indonesia yang bisa diandalkan. Sedangkan Ahsan/Hendra adalah perwujudan kehebatan dan konsistensi dari generasi veteran.


Duel Kevin/Marcus lawan Ahsan/Hendra menyuguhkan permainan yang menarik. Penonton di Istora pun terbelah. Mereka sulit menentukan arah dukungan.

Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra masuk ke lapangan secara bersamaan di final Indonesia Open 2019.Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra masuk ke lapangan secara bersamaan di final Indonesia Open 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ketika ada dukungan untuk Kevin/Marcus, tak lama kemudian suara-suara untuk Ahsan/Hendra juga menggelegar. Pun begitu sebaliknya.

Meski 'kurang menegangkan' karena tak ada perasaan khawatir wakil Indonesia kalah, namun final ideal di turnamen level tinggi seperti ini adalah sebuah hal yang terus dirindukan.

Dengan All Indonesian Final, juara sudah pasti dalam genggaman. Pendukung badminton Indonesia hanya tinggal menanti siapa yang bakal naik di podium tertinggi.

Siapapun yang menang, maka pendukung badminton Indonesia dipastikan bakal bersorak senang.

Indonesia Open: Menikmati Perang Saudara di Tanah Terjajah
Di laga final Indonesia Open kemarin, penonton sudah dibuat haru oleh kedatangan dua pasang ganda secara bersamaan diiringi lagu 'Bagimu Negeri'. Ketika pertandingan berakhir, tepuk tangan terdengar dari tiap sudut Istora saat Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra berjabat tangan.

Pemandangan di podium pun terasa nikmat dan memikat.

Ahsan/Hendra dan Kevin/Marcus telah membuktikan status unggulan di atas kertas adalah sebuah hal yang pantas. Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra melewati laga-laga berat dalam perjuangan mewujudkan All Indonesian Final.

Kevin/Marcus berhasil jadi juara Indonesia Open 2019.Kevin/Marcus berhasil jadi juara Indonesia Open 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Indonesia Open, Tuan Rumah yang Terjajah

All Indonesian Final di nomor ganda putra Indonesia Open sendiri adalah kebahagiaan di tengah kesedihan. Penampilan Kevin/Marcus lawan Ahsan/Hendra adalah keriaan di tengah kemuraman.

Secara keseluruhan, dengan mengesampingkan duel All Indonesian Final di nomor ganda putra, cerita Indonesia di Indonesia Open adalah cerita tentang kekecewaan.

Wakil-wakil Indonesia terus bertumbangan secara bergantian. Ketika turnamen sudah memasuki babak perempat final, hanya ada lima wakil tersisa. Saat turnamen maju selangkah ke semifinal, peluang Indonesia sudah tinggal bersandar pada nomor ganda putra.

Jonatan Christie gagal memanfaatkan kesempatan emas untuk melaju jauh di Indonesia Open 2019.Jonatan Christie gagal memanfaatkan kesempatan emas untuk melaju jauh di Indonesia Open 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Nomor tunggal putra yang diharapkan bisa berbicara banyak seperti halnya di Asian Games ternyata hanya sanggup bertahan hingga babak delapan besar.

Anthony Ginting dan Jonatan Christie gagal memanfaatkan peluang menang yang sempat terbuka di depan mata. Ginting kalah di tangan Kantaphon Wangcharoen sedangkan Jonatan takluk di hadapan Chou Tien Chen yang menjadi juara.

Padahal peluang jadi pemenang di nomor tunggal putra terbuka lebar seiring banyaknya pemain unggulan yang bertumbangan.

Di nomor tunggal putri, wakil-wakil Indonesia kesulitan untuk unjuk gigi. Fitriani dan Gregoria Mariska masih belum sanggup membuat kejutan di hadapan pemain-pemain bintang.

Menikmati Perang Saudara di Tanah Terjajah
Pada nomor ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu harus menerima kenyataan bahwa persaingan makin ketat. Sementara itu Della Destiara/Rizki Amelia Pradipta belum bisa membuktikan bahwa mereka bisa jadi ganda yang didorong jadi alternatif andalan di samping Greysia/Apriyani.

Di nomor ganda campuran, Praveen Jordan/Melati Daeva dan Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja tampil mengecewakan. Praveen/Melati dan Hafiz/Faisal kalah di babak awal meski mereka menyandang status pemain unggulan.

Sudah lama Indonesia tidak bisa meraih tiga gelar atau lebih di ajang Indonesia Open. Bahkan, target satu gelar kemudian seringkali jadi target realistis yang diutarakan. Cerita Indonesia Open kemudian seringkali tentang pemain-pemain asing yang merayakan kemenangan.

Gambaran prestasi wakil tuan rumah di Indonesia Open tentu merefleksikan posisi Indonesia di kompetisi dunia. Indonesia saat ini kesulitan bersaing dengan sama baiknya di lima nomor yang ada.

Praveen Jordan/Melati Daeva gagal tersingkir di babak awal Indonesia Open.Praveen Jordan/Melati Daeva gagal tersingkir di babak awal Indonesia Open. (Reuters/Andrew Boyers)
Khusus untuk saat ini, setahun jelang Olimpiade, hanya nomor ganda putra yang benar-benar bisa diharapkan. Empat nomor lain masih harus berjuang keras untuk bisa bersaing dengan pebulutangkis dari negara-negara lain.

Dalam waktu satu tahun ke depan, publik berharap bisa ada lonjakan besar dalam perjalanan menuju Olimpiade. Melihat 'perang saudara' pada turnamen besar di empat nomor lain memang masih jadi harapan yang terlihat muluk, namun PBSI wajib bisa mendorong tiap nomor memiliki wakil yang bisa diandalkan di tiap kejuaraan, bukan hanya sekadar partisipan.

Untuk ganda putra, publik jelas berharap 'perang saudara' bisa sering terjadi di turnamen-turnamen berikutnya. Karena di balik dilema pilihan dukungan yang ada, di akhir pertandingan tetap Indonesia yang akan bergembira. (har)