Rivalitas dengan Larry Bird, Perayaan Sukses Magic Johnson

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 14:53 WIB
Rivalitas dengan Larry Bird, Perayaan Sukses Magic Johnson Magic Johnson (kiri) bersama dengan Larry Bird. (Andy Lyons/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bersaing untuk menjadi yang terbaik tak luput terjadi dalam dunia olahraga. Demikian persaingan antara legenda bola basket NBA, Earvin 'Magic' Johnson dengan Larry Bird.

Dilansir dari berbagai sumber, duel antara Magic Johnson dan Larry Bird pertama kali terjadi di kancah bola basket universitas. Johnson yang membela Michigan State mengalahkan Bird di Indiana State dengan skor 75-64 dalam final turnamen basket Divisi I Asosiasi Atletik Perguruan Tinggi Nasional (NCAA) di Special Events Center, Utah, Amerika Serikat, pada 1979.

Johnson pun mendapat penghargaan sebagai MVP dalam turnamen tersebut. Dalam sebuah dokumenter pada 2010, Bird menyebut kekalahan pertama dari sang rival merupakan kekalahan terberat yang pernah ia rasakan.


Rivalitas itu berlanjut dalam Asosiasi Bola basket Nasional (NBA). Bird masuk dalam draft keenam NBA dan dipilih Boston Celtics pada 1978. Akan tetapi, Bird belum dapat dimainkan Celtics sampai ia lulus dari Indiana State pada 1979.

Sementara Johnson terpilih sebagai pilihan pertama Los Angeles Lakers pada draft NBA 1979. Setahun setelah dipilih dari draft NBA, Johnson yang saat itu berusia 20 tahun menjadi pemain termuda dan pendatang baru pertama yang dianugerahi MVP dalam NBA Final 1980. Pada tahun yang sama, Bird pun mendapat penghargaan NBA Rookie of The Year.

Rivalitas dengan Larry Bird, Perayaan Sukses Magic JohnsonMagic Johnson salah satu legenda bola basket NBA. (Harry How/Getty Images/AFP)
Berdasarkan CNN, rivalitas Johnson dan Bird salah satu yang terpanas dalam sejarah NBA.

Persaingan itu menjadi penting karena sebelum ada Johnson dan Bird, minat masyarakat Amerika terhadap olahraga basket sempat menurun. Mereka disebut penyelamat NBA dari kebangkrutan.

Sejumlah jurnalis menilai rivalitas Johnson dan Bird juga terlihat menarik karena mewakili hal lain di luar basket, yakni persaingan antara kulit hitam dan putih.

Dalam buku 'The Crossoer: A Brief History of Basketball and Race, from James Naismith to LeBron James', penulis Doug Merlino menyebut NBA menjadi liga basket yang didominasi atlet kulit putih pada 1980-an.

Setelah itu kedatangan para pemain kulit hitam sempat memunculkan ketakutan akan kemerosotan jumlah penonton.

"Dengan banyak para pemain kulit hitam yang ditandatangani, para eksekutif khawatir tidak ada lagi yang menyaksikan atau mendukung sebuah liga 'hitam'," tulis Merlino.

Rivalitas dengan Larry Bird, Perayaan Sukses Magic JohnsonMagic Johnson bermain di NBA sejak 1979 hingga 1991 dan sempat kembali pada tahun 1995 hingga 1996. (AFP PHOTO/Tiziana SORGE)
Kombinasi antara perbedaan ras, geografi, dan ketenaran dalam turnamen basket itu menciptakan sebuah tontonan televisi yang luar biasa bagi para penggemar. Situs NBA menyebut mereka sebagai rivalitas paling hebat dalam sejarah NBA.

Sebagai pemain bintang, Johnson dan Bird kerap diperbandingkan. Dalam hal kepribadian, Johnson memiliki kepribadian yang terbuka dan Bird cenderung pendiam dan tertutup.

Semasa bermain di NBA, baik Johnson maupun Bird, mengaku saling mengawasi hasil pertandingan satu sama lain.

Rivalitas mencapai klimaks ketika Bird dari Boston Celtics dan dari Johnson Los Angeles Lakers bertemu di final NBA pada 1984, 1985, dan 1987. Lakers memenangkan dua gelar juara dari tiga pertemuan itu yakni pada 1984 dan 1987.

Rivalitas dengan Larry Bird, Perayaan Sukses Magic Johnson
Pada era 1980-an, hampir mustahil membicarakan Johnson tanpa menyinggung Bird, begitupun sebaliknya. Meskipun bersaing di dalam lapangan, Johnson dan Bird malah menjadi teman dekat selama pembuatan iklan sepatu Converse pada 1984. Walaupun tetap saja dalam iklan tersebut mereka digambarkan saling bermusuhan.

Dalam iklan tersebut, ditampilkan Johnson dan Bird main basket satu lawan satu dengan masing-masing menggunakan sepatu Converse. "Ayo, tunjukkan kemampuanmu!" kata Bird.

Johnson dan Bird juga sempat berada satu tim dan memenangkan medali emas Olimpiade di Barcelona pada 1992. Saat itu, tim basket Amerika yang berisi pemain-pemain nomor wahid disebut sebagai 'The Dream Team'.

Johnson sempat menunjukkan bukti pertemanannya secara tulus dengan hadir di acara pensiun Bird pada 1992. Ia juga menyebut Bird sebagai seorang 'sahabat selamanya' dalam Hall of Fame.

Pada 2009, Johnson dan Bird berkolaborasi dengan jurnalis Amerika, Jackie MacMullan untuk sebuah buku non-fiksi berjudul 'When the Games Was Ours (Saat Pertandingan Jadi Milik Kita)'. Pada tahun yang sama, film dokumenter berjudul 'Magic & Bird: A Courtship of Rivals' pun dirilis.

"Rival Anda bisa memberikan penampilan terbaik dari diri Anda dan menjadikan Anda pemain yang lebih baik. Larry Bird melakukan itu terhadap saya. Saya harap saya juga seperti itu di mata dia," ucap Johnson kepada CNN pada 2012.

Hingga kini persahabatan antara mereka berdua terjalin erat. Dan hari ini, Johnson tepat berusia 60. Selamat ulang tahun, Magic Johnson! (map)