TESTIMONI

Lika-liku Markus Horison Si Legenda Timnas Indonesia

Markus Horison, CNN Indonesia | Senin, 30/09/2019 08:32 WIB
Puncak Karier dan Rehat dari Lapangan Hijau Markus Horison saat membela Timnas Indonesia di Piala Asia 2007. (Foto: JEWEL SAMAD / AFP)

Puncak Karier dan Rehat dari Lapangan Hijau

Perjuangan saya untuk menembus skuat utama PSMS tidak sebentar. Butuh waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya rutin dipercaya sebagai starter.

Saya berhasil unjuk gigi di Piala Bang Yos 2005 dan mulai sering mendapat menit bermain. Kemudian pada 2006 mendapat kepercayaan penuh setelah M. Halim hengkang.

Prestasi terbaik saya di PSMS terjadi pada ISL 2007/2008. Kami berhasil lolos ke final namun harus puas meraih posisi runner up karena kalah dari Sriwijaya FC.


Penampilan konsisten bersama PSMS membuka kesempatan kembali membela Timnas Indonesia di Piala Asia 2007. Saat itu saya bersaing dengan dua kiper ternama, Jendri Pitoy dan Ferry Rotinsulu.
Lika-liku Markus Horison Si Legenda Timnas IndonesiaMarkus Horison terkenal sebagai kiper berkepala plontos. (CNN Indonesia/ Jun Mahares)
Sebenarnya saya berstatus kiper ketiga, tapi pelatih Ivan Kolev memberikan kepercayaan saya menjalani debut sebagai starter di laga ketiga melawan Korea Selatan. Saya melakukan beberapa penyelamatan penting, tapi sayang Indonesia kalah 0-1 di akhir laga.

Sejak saat itu saya rutin dipanggil Timnas Indonesia. Piala AFF 2010 jadi salah satu momen tak terlupakan dalam karier saya bersama Timnas Indonesia.

Dihuni para pemain terbaik Indonesia di eranya, kami berhasil menembus final. Sayang, saya dan kawan-kawan gagal membawa pulang juara setelah kalah agregat 2-4 dari Malaysia.
Kegagalan ini cukup menyakitkan karena kami dianggap terlibat mafia bola. Bahkan isu pengaturan skor baru muncul setelah beberapa tahun kemudian.

Saya tak ambil pusing gosip di luar sana. Yang pasti saya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan orang-orang. Di momen inilah banyak yang menyebut saya menghilang karena persoalan keluarga.

Rehat Sejenak
Saya akui sempat menghilang sejenak dari dunia sepak bola pada 2011. Di momen ini saya harus membereskan masalah rumah tangga.

Saya tak ingin membuka cerita lama agar tidak ada yang terluka. Yang pasti saat itu saya memilih cuti dari Persib Bandung untuk membereskan masalah pribadi.

Bagi saya, masalah harus dihadapi. Itulah mengapa saya meminta cuti sekitar enam bulan supaya tak mengganggu konsentrasi tim.

Momen tersebut benar-benar menguras energi. Hanya bantuan Allah saya bisa kembali bangkit dan menjalani karier sepak bola.

Memang karier saya tak lagi secemerlang sebelumnya. Tapi saya sempat kembali ke level tertinggi saat memperkuat PSM Makassar pada ISL 2015. Sayang, pada saat itu kompetisi terhenti karena konflik PSSI dan Kemenpora.

Pada 2017 saya sempat menjajal Liga Timor Leste bersama klub Assalam FC. Cukup menyenangkan bermain di Timor Leste, tapi saya merasa harus menyudahi karier di akhir musim.

Saya merasa harus mulai membangun mimpi sebagai pelatih. Kursus kepelatihan yang digelar PSSI pun saya lahap. Setelah lulus C AFC saya lanjut ambil kursus Goal Keeper Level 1 AFC.
Lika-liku Markus Horison Si Legenda Timnas Indonesia
Tak lama berselang, saya mendapat kepercayaan menjadi pelatih kiper Aceh United di Liga 2 2018. Pada tahun berikutnya, saya mendapat tawaran langsung dari Bima Sakti untuk mendampinginya melatih Timnas Indonesia U-16. Alhamdullilah, langsung saya iyakan.

Saya senang bisa kembali lagi ke Timnas Indonesia meski dengan tugas yang berbeda. Kali ini saya mendapat kesempatan untuk membagikan pengalaman saya kepada adik-adik.

Selain soal teknis kiper, saya utamakan pembentukan mental. Sebab, teknik individu tidak akan bisa keluar maksimal tanpa mental yang kuat. Seperti halnya prinsip hidup saya, hadapi segala tantangan dengan berani dan ikhlas. Insya Allah pasti ada jalan.
(jun)
HALAMAN :
1 2