Tolle mendapatkan dua kartu kuning yang berujung kartu merah dari wasit Zetman Pangaribuan yang memimpin jalannya pertandingan. Kartu kuning kedua didapat setelah pemain asal Makassar itu kedapatan memukul pemain Persis, Mochamad Shulton Fajar di tambahan waktu babak kedua yang membuatnya terusir dari lapangan pertandingan.
Belum puas, Tolle yang masih emosi mendatangi Shulton dan langsung mengejar sambil menendangnya. Tak hanya itu, Tolle juga mengintimidasi dan memnita seorang jurnalis untuk menghapus aksi tendangan anarkisnya itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, pertandingan antara PSIM dengan Persis tersebut mulanya berlangsung ketat karena memperebutkan satu tiket ke babak delapan besar Liga 2 2019. Namun, jatah tersebut direbut Martapura FC.
Martapura FC berhasil menang 1-0 atas PSBS Biak dan memastikan lolos ke babak delapan besar pada saat PSIM masih melanjutkan pertandingan bersama Persis.
[Gambas:Video CNN]
"Secara historis kedua tim dan suporternya punya rivalitas yang cukup besar. Terlebih PSIM dengan materi yang dijagokan dan membuat suporternya punya ekspektasi besar timnya untuk dijagokan. Apa yang terjadi bisa jadi ungkapan frustrasi suporter yang meledak di laga kemarin," terangnya.
Tindakan anarkis, keributan antarsuporter maupun pemain di ranah kompetisi sepak bola Indonesia menjadi potret yang sering terjadi. Sayangnya, lanjut Towel, hal itu tidak dibarengi dengan perbaikan dari sisi manajemen di PSSI.
"Seperti terjadi pembiaran, didukung dengan siaran langsung pertandingan di televisi yang terbatas yang membuat kurangnya pengawasan. Ini kalau bahasa jawanya, ndablek," ujar Towel. (ttf/bac)
