Para voter atau pemilik suara adalah penentu masa depan PSSI. Nasib calon Ketua Umum dan Exco PSSI berada di tangan mereka. Di pundak voter pula muruah PSSI menjadi rusak karena politik uang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Video CNN]
"Jadi orang-orang yang jelas-jelas sudah gagal, terlibat mafia bola, jangan lagi dipilih, jangan takut diintimidasi, ditekan, dan juga jangan mau diiming-imingi uang hanya untuk memilih calon tertentu," kata Vijaya dalam program Mata Najwa, Rabu (30/10).
La Nyalla Mattalitti yang pernah menjabat Ketua Umum PSSI tak membantah keberlangsungan praktik politik uang yang melibatkan voter.
"Itu (politik uang) hal biasa di PSSI. Mudah-mudahan para voter kalau sadar mereka tidak akan mau melaksanakan Kongres tanggal 2 November. Lebih baik 25 Januari seperti rekomendasi FIFA," ujarnya.
Komite Pemilihan (KP) PSSI memang jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti praktik politik uang pada Kongres Pemilihan PSSI 2019. KP mengimbau setiap calon ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif (Exco) untuk tidak melakukan 'serangan fajar' terhadap para pemilik suara.
Para voter PSSI selain berdaulat juga punya tanggung jawab moral kepada pencinta sepak bola Indonesia. Jika salah pilih, maka jutaan pencinta sepak bola Indonesia kembali jadi korban politik uang pemilik suara PSSI. (jun/har)
