ANALISIS

Sindrom Musim Keempat Guardiola dan Inkonsistensi Man City

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Rabu, 13/11/2019 07:04 WIB
Sindrom Musim Keempat Guardiola dan Inkonsistensi Man City Pep Guardiola mengalami kesulitan di musim keempatnya bersama Manchester City. (Joe Giddens/PA via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laju Manchester City hingga pekan ke-12 Liga Inggris tak semulus musim-musim sebelumnya. Skuat asuhan Pep Guardiola itu sudah tiga kali tersandung karena masalah konsistensi.

Kekalahan paling anyar diderita Man City saat takluk 1-3 dari Liverpool di Stadion Anfield, akhir pekan lalu. Dominan menguasai bola, The Citizens tidak cukup tajam soal penyelesaian akhir.

Alhasil tiga gol bisa disarangkan Liverpool melalui Fabinho, Mohamed Salah, dan Sadio Mane. Sedangkan Man City hanya sanggup membalas satu gol melalui sumbangsih Bernardo Silva.


Kekalahan dari Liverpool jadi yang ketiga diderita Man City dari 12 pertandingan. Selain dari Liverpool, racikan Guardiola tak bertuah saat tim asal Manchester itu ditekuk Wolverhampton Wanderers 0-2 dan Norwich City 2-3.

Mitos Musim Keempat Guardiola dan Inkonsistensi Man CityManchester City berselisih sembilan poin dari puncak klasemen yang ditempati Manchester City. (AP Photo/Jon Super)
Rapor ini terbilang buruk untuk Man City jika mengacu torehan musim lalu. Di periode yang sama, Sergio Aguero dkk belum tersentuh kekalahan.

Hasil negatif baru dialami Man City saat Liga Inggris memasuki bulan Desember. Tiga kekalahan diderita sang juara bertahan Liga Inggris dari Chelsea, Crystal Palace, dan Leicester City.

Di musim tersebut, Man City mengakhiri musim dengan empat kali kalah. Pasukan Guardiola musim ini hanya berjarak satu kekalahan dari musim lalu dengan Liga Inggris yang masih berjalan hingga Mei 2020.

Seusai kekalahan dari Liverpool, media-media di Inggris ramai memberitakan rencana transfer klub milik Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyam. Bahkan Daily Mail melansir bahwa manajemen menyiapkan dana 100 juta Poundsterling agar Guardiola bisa belanja pemain baru.

Dana yang tergolong kecil itu bakal digunakan untuk mencari suksesor Vincent Kompany, pengganti David Silva yang akan pergi akhir musim nanti, dan penerus Sergio Aguero yang kian menua.

Problem terbesar Man City sebenarnya ada di lini belakang. Bek termahal Man City, Aymeric Laporte absen hingga awal tahun depan karena cedera lutut parah.

Mitos Musim Keempat Guardiola dan Inkonsistensi Man CityGuardiola menelan kekalahan ketiga bersama Man City di Liga Inggris musim ini. (AP Photo/Jon Super)
Cedera Laporte membuat Guardiola terpaksa menempatkan Fernandinho sebagai bek tengah darurat. Sedangkan di sektor bek kiri, Benjamin Mendy sulit bugar sepanjang musim.

Pilihan makin minim karena Oleksandr Zinchenko harus menepi karena cedera. Oleh karena itu, opsi paling rasional adalah menurunkan Angelino yang sebenarnya jadi pilihan kesekian di sektor tersebut.

Jika menengok ke belakang, inkonsistensi Man City musim ini masuk akal, terutama mengacu pada rekam jejak Guardiola di musim terakhirnya bersama Barcelona.

Sepanjang karier sebagai manajer, Guardiola baru menukangi empat tim yaitu Barcelona B, Barcelona, Bayern Munchen, dan Man City. Dari empat tersebut, hanya Barcelona B dan Munchen yang tidak dilatih pria asal Spanyol sampai musim keempat.

[Gambas:Video CNN]
Guardiola jadi pelatih Barcelona dari 2008 sampai 2012. Total 14 gelar diberikan manajer berusia 48 tahun untuk tim Catalonia.

Tiga musim pertama di Barcelona, Guardiola mencatat sukses besar. Tiga gelar Liga Spanyol dan dua gelar Liga Champions berhasil diberikan untuk Blaugrana.

Namun, tangan dingin Guardiola seperti tak lagi bertuah memasuki musim keempat. Di Liga Spanyol, Barcelona hanya finis kedua karena kalah bersaing dengan rival abadi, Real Madrid.

Di Liga Champions musim yang sama, langkah Barcelona terhenti di babak semifinal. Praktis satu-satunya trofi yang bisa diraih Guardiola pada musim terakhirnya bersama Barcelona hanya gelar Piala Raja.

Mengacu salah satu bagian dari buku yang ditulis oleh Marti Perarnau berjudul 'Pep Confindetial'' terungkap alasan Guardiola meninggalkan Barcelona tahun 2012.

Mitos Musim Keempat Guardiola dan Inkonsistensi Man City
"Pada hari saya melihat cahaya padam di mata para pemain, saya tahu ini waktunya untuk pergi". Kalimat yang mengindikasikan hilangnya rasa lapar gelar para pemain Barcelona.

Catatan buruk Guardiola di Barcelona itu berpotensi besar terulang di Man City musim ini. Setelah memenangi persaingan dengan Liverpool dalam perburuan Liga Inggris musim lalu, pasukan Guardiola justru terancam jadi pecundang.

Selain Liverpool begitu konsisten di awal musim ini, Man City hanya menempati posisi keempat Liga Inggris. Rival sekota Manchester United itu berada di bawah Chelsea dan Leicester City serta terpaut sembilan poin dari Liverpool.

Liga Inggris musim ini memang masih panjang namun Man City dituntut bekerja lebih keras untuk mengikis jarak poin sembari berharap Liverpool kehilangan poin di momen krusial seperti musim lalu. Tetapi jika akhirnya hal itu tidak bisa dilakukan, kutukan musim keempat sepertinya memang belum lepas dari Guardiola. (jal)