Analisis

Rossi Unjuk Gigi Ompong di MotoGP 2019

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Sabtu, 16/11/2019 10:18 WIB
Rossi Unjuk Gigi Ompong di MotoGP 2019 Valentino Rossi menjalani musim buruk di MotoGP 2019. (JOSE JORDAN / AFP
Jakarta, CNN Indonesia -- Valentino Rossi tidak bisa berbuat banyak di MotoGP 2019. Rossi harus terus-menerus bersikap realistis di tiap balapan yang ia lakukan.

Rossi memulai musim 2019 dengan hasil cukup bagus yaitu finis di posisi kelima di MotoGP Qatar lalu jadi runner up di dua seri beruntun, yaitu di MotoGP Argentina dan MotoGP Amerika Serikat. Rossi pun masuk bursa juara.

Namun ketika balapan menginjak tanah Eropa, Rossi mengalami penurunan performa yang drastis. Seri-seri yang biasanya akrab dengan Rossi seperti MotoGP Spanyol dan MotoGP Prancis tidak mampu diakhiri dengan catatan finis podium.


Ketika Rossi kali ketiga gagal finis di tiga seri beruntun di Italia, Catalunya, dan Belanda, semua tahu peluang Rossi meraih gelar juara dunia MotoGP 2019 telah berakhir saat balapan baru memasuki paruh akhir musim pertama.

Bila Rossi tampil menggila di paruh kedua, maka tiga kali gagal finis tersebut yang bakal jadi kambing hitam kegagalan Rossi jadi juara dunia. Nyatanya, Rossi tidak pernah menunjukkan penampilan sensasional. Finis terbaik Rossi setelah paruh musim adalah di posisi keempat yang didapat di MotoGP Austria, MotoGP Inggris, MotoGP San Marino, dan MotoGP Malaysia.

Rossi Unjuk Gigi Ompong di MotoGP 2019Valentino Rossi meraih hasil buruk di MotoGP 2019. (Bradley Collyer/PA via AP)
Rossi tak lagi bisa bermimpi jadi juara dunia karena juara sebuah seri saja sudah sulit untuk digapai. Jangankan sebuah kemenangan seri, naik podium saja sudah jadi mimpi yang jarang jadi nyata bagi Rossi.

Tiap seri dilalui Rossi dengan komentar yang hampir sama. Motor YZR-M1 miliknya tak bergerak sesuai keinginan dan tidak cukup kompetitif untuk bersaing di baris depan.

Padahal di waktu yang sama, Maverick Vinales masih mampu mencicipi dua kemenangan seri musim ini meski pebalap Spanyol tersebut juga tidak bisa konsisten punya performa bagus dari seri ke seri.

Fabio Quartararo yang juga menunggangi Yamaha bahkan beberapa kali merebut pole position dan jadi musuh utama Marc Marquez dalam sejumlah seri.

Valentino Rossi jarang bersaing di baris depan.Valentino Rossi jarang bersaing di baris depan.  (Marco Bertorello / AFP)
Pengalaman bersaing di baris depan seperti yang dilakukan Vinales dan Quartararo adalah pengalaman yang makin jarang dirasakan Rossi.

The Doctor lebih sering berkutat di papan tengah, bersusah-payah berebut posisi di tengah kepadatan pebalap-pebalap lain. Hal tersebut sering terjadi karena posisi start Rossi yang tidak bagus.

Di saat Rossi bersusah-payah di kepadatan pebalap, Marquez dan kawan-kawan terus melesat di rombongan depan sehingga mustahil bisa dikejar Rossi ketika ia sudah keluar dari kerumunan pebalap lain.

Rossi mengakhiri MotoGP 2019 dengan hasil terburuk bila dibandingkan musim-musim lainnya bersama Yamaha.

[Gambas:Video CNN]
Motor yang belum kompetitif dan konsisten patut diakui sebagai salah satu faktor penghambat Rossi. Namun faktor Rossi yang juga sudah mulai kehilangan taring di MotoGP juga tidak bisa dikesampingkan.

Dengan usia 40, Rossi harus bertarung menghadapi jadwal padat yang menguras fokus dan stamina. Ia harus beradu dengan pebalap-pebalap yang belasan tahun lebih muda dan memiliki keunggulan dalam dua faktor tersebut.

Menatap MotoGP 2020

Rossi sudah mulai memikirkan musim MotoGP 2020 dengan melakukan sejumlah uji coba pada motor. Seperti musim lalu, Rossi merasa motor Yamaha YZR M1 tidak cukup menggigit meski ia mengakui Quartararo dan Vinales bisa mengendalikan motor dengan lebih baik.

Rossi juga sudah melakukan pergantian kepala mekanik sebagai persiapan menyambut musim depan. Hal tersebut diyakini sebagai jurus terakhir The Doctor untuk mengubah peruntungan di musim depan.

Kontrak Rossi dengan Yamaha bakal berakhir di MotoGP 2020. Sejauh ini belum ada pembicaraan lanjutan tentang kontrak Rossi dengan Yamaha.

Valentino Rossi tinggal punya sisa kontrak satu musim di Yamaha.Valentino Rossi tinggal punya sisa kontrak satu musim di Yamaha. (AP Photo/Petr David Josek)
Menilik Rossi tentu tidak bisa sekadar dari kacamata teknik seorang pebalap. Rossi sudah melewati batas-batas tersebut.

Yamaha tidak akan rugi bila memilih mempertahankan Rossi selepas MotoGP 2020 karena The Doctor masih punya nilai jual tinggi di MotoGP.

Namun tekad Rossi juga jadi penentu penting dalam pengambilan keputusan. Bila Rossi menerima ia mulai jadi sekadar penggembira, ia akan sukarela bertahan di Yamaha meski kembali meraih hasil buruk di MotoGP 2020.

Tetapi bila mental juara dan harga diri Rossi dominan, pebalap Italia itu bakal memilih mundur karena tak lagi sanggup mengikuti ritme pebalap-pebalap lain.

Hasil bagus MotoGP 2020 tentu bakal jadi jalan tengah yang diinginkan Rossi dan Yamaha. Jika Rossi bisa berprestasi di MotoGP 2020, peluang untuk tetap balapan di musim berikutnya terasa lebih memungkinkan, baik dari sudut pandang Yamaha maupun The Doctor.

Rossi Unjuk Gigi Ompong di MotoGP 2019
Sebelum berbicara lebih jauh tentang peluang juara dunia MotoGP 2020, Rossi harus mengembalikan satu per satu kepercayaan publik terhadap kemampuannya. Mulai dari kembali naik podium lalu mengakhiri puasa juara sebuah seri MotoGP yang sudah bertahan lebih dari dua tahun.

Tanpa itu, Rossi bakal kembali jadi 'ompong' di tahun depan, seperti yang ia tunjukkan musim ini.