Analisis

Sihir Lampard yang Ubah Chelsea

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 07:56 WIB
Sihir Lampard yang Ubah Chelsea Frank Lampard berhasil membawa Chelsea ke papan atas klasemen Liga Inggris. (AP Photo/Ian Walton)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chelsea racikan Frank Lampard berhasil membuat kejutan hingga pekan ke-12 Liga Inggris musim ini. The Blues yang diperkirakan bakal kesulitan bersaing di papan atas malah bisa nangkring di peringkat ketiga klasemen.

Posisi Chelsea bahkan satu tingkat di atas sang juara bertahan, Manchester City. Jarak tim London Barat dengan puncak klasemen yang ditempati Liverpool pun tidak terlalu jauh, yakni hanya delapan poin.

Di luar sensasi Leicester City pada awal musim ini, pencinta sepak bola dunia tentu sulit untuk tidak sepakat dengan prestasi yang diukir Chelsea. Meskipun habitat tim pengoleksi enam gelar Liga Inggris itu memang bersaing di zona papan atas.


Sorotan lantas mengarah ke Lampard. Pria yang hanya berbekal pengalaman melatih Derby County itu terbukti bisa membalikkan prediksi banyak pihak.

Sihir Lampard yang Ubah ChelseaChelsea menempati peringkat ketiga klasemen sementara Liga Inggris. (AP Photo/Alastair Grant)
Sebelum musim bergulir, pria berusia 41 tahun itu diprediksi laman judi ternama, Betfair, akan jadi manajer pertama yang dipecat. Posisi Lampard setara dengan manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, yang sulit menghadirkan konsistensi buat The Red Devils.

Prediksi itu muncul bukan tanpa dasar. Selain minim jam terbang melatih sebuah tim Liga Inggris, Lampard hanya dibekali skuat ala kadarnya karena Chelsea dijatuhi sanksi larangan membeli pemain selama dua periode bursa transfer.

Hukuman itu dijatuhkan FIFA karena Chelsea terbukti bersalah merekrut pemain asing di bawah usia 18 tahun.

Alhasil, legenda Chelsea itu tidak bisa menghamburkan uang seperti manajer-manajer sebelumnya macam Jose Mourinho, Antonio Conte, atau Maurizio Sarri. Belum lagi Chelsea kehilangan ikon tim, Eden Hazard yang hengkang ke Real Madrid.

Kepergian Hazard coba ditambal dengan kedatangan Christian Pulisic dari Borussia Dortmund yang direkrut pada bursa transfer Januari 2019. Pemain asal Amerika Serikat itu berpotensi jadi
bintang tapi butuh waktu agar bisa menyamai level Hazard.

Sihir Lampard yang Ubah ChelseaChelsea kehilangan Eden Hazard yang hengkang ke Real Madrid. (AP Photo)
Dengan segala keterbatasan tersebut, Lampard coba menata ulang kekuatan tim. Lampard yang semasa ia aktif akrab dengan pemain bintang kini membangun tim dengan fondasi para pemain muda.

Tiga pemain binaan akademi yang bersinar di pentas Championship yakni Fikayo Tomori (21 tahun), Mason Mount (20 tahun), dan Tammy Abraham (22 tahun), diberikan menit bermain lebih oleh Lampard. Abraham bahkan sudah mencetak 10 gol dan bersaing untuk memperebutkan gelar top skor Liga Inggris.

Belakangan satu pemain muda lain, Reece James (19 tahun) sukses mencuri perhatian. Pemain yang musim lalu dipinjamkan ke Wigan Athletic itu selalu tampil bagus saat diplot menggantikan Cesar Azpilicueta.

Deretan pemain muda itu plus Pulisic (21 tahun) dikombinasikan dengan pemain senior yang sudah ada di tim. Sebut saja Azpilicueta, Jorginho, Kepa Arrizabalaga, N'Golo Kante, hingga Willian.

Perpaduan pemain junior dan senior ala Lampard tidak langsung berbuah hasil manis karena The Blues takluk 0-4 dari MU di laga pembuka Liga Inggris. Setelah bongkar pasang starting eleven dan hanya sekali menang dari lima pertandingan pertama di semua kompetisi, bentuk terbaik Chelsea perlahan muncul.

Titik balik kebangkitan Chelsea terjadi di Piala Liga Inggris. The Blues menang telak atas Grimsby Town dengan skor 7-1. Setelah itu, Chelsea sulit dihentikan dan sihir Lampard berbuah tujuh kemenangan beruntun di semua ajang.

Sihir Lampard yang Ubah ChelseaCatatan tujuh kemenangan beruntun Chelsea dihentikan MU. (AP Photo/Ian Walton)
Torehan apik itu terhenti saat Chelsea tersingkir di babak keempat Piala Liga Inggris karena kalah 1-2 dari MU di Stamford Bridge. Namun lagi-lagi anak asuh Lampard bisa bangkit dengan tidak terkalahkan di tiga laga terakhir.

[Gambas:Video CNN]
Masa bulan madu Lampard di Chelsea faktanya bukan hanya karena racikan taktik yang jitu. Mantan manajer Derby County itu juga pandai meminimalisir potensi konflik dan tipikal manajer yang sangat disiplin.

Lampard berhasil meredam masalah yang muncul saat insiden penalti gagal Ross Barkley kontra Valencia di fase grup Liga Champions. Barkley sempat beradu argumen dengan Willian dan Jorginho di lapangan.

Namun, masalah itu bisa diselesaikan Lampard dan tidak menjadi konsumsi publik. Lampard pula yang bisa meyakinkan Callum Hudson-Odoi untuk tetap bermain di Chelsea setelah merasa dipinggirkan pada era Sarri.

Sihir Lampard yang Ubah Chelsea
Hal lain yang juga krusial di era Lampard adalah persoalan disiplin. Ada 12 aturan internal tim yang tidak boleh dilanggar oleh seluruh pemain di musim ini.

Mantan pemain timnas Inggris itu memberikan denda besar untuk pemain yang melanggar aturan. Denda termahal diberikan ke pemain yang terlambat datang latihan. Bagi pemain yang telat harus membayar 20 ribu poundsterling atau setara Rp361,88 juta.

Pendekatan teknis dan nonteknis Lampard sejauh ini berjalan positif. Dan tuah Lampard akan diuji saat Chelsea tandang ke markas Man City setelah jeda pertandingan uji coba internasional.


Jika hasil positif bisa dibawa pulang dari Stadion Etihad, Chelsea punya kans besar untuk finis di bawah Liverpool musim ini. Di Liga Champions pun tim London Barat bisa melangkah jauh karena tinggal punya peluang besar lolos ke 16 besar. (ptr)