Air Seni di Sepatu dan Kisah-kisah Tarkam Bayu Gatra

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 13:25 WIB
Air Seni di Sepatu dan Kisah-kisah Tarkam Bayu Gatra Sebelum menjadi pemain profesional Bayu Gatra sempat menjadi pemain tarkam. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memori Bayu Gatra melayang jauh kembali ke masa kanak-kanak ketika mengingat turnamen tarkam. Masa di mana pemain PSM Makassar itu bisa hampir setiap hari bermain di turnamen non-profesional tersebut.

Bayu mengorek-ngorek ingatannya tentang tarkam ketika menerima CNNIndonesia.com di apartemennya pada Oktober lalu. Saat itu ia masih menjalani masa pemulihan cedera. Meski demikian, dia tampak sehat bugar. Perawakannya masih seperti pemain muda kendati usianya sudah 26, beristri dan satu anak.

Bayu bukan berasal dari keluarga yang berada. Situasi itu yang mendorongnya mencari tambahan uang dengan bermain tarkam. Kebetulan, Bayu dianugerahi bakat sepak bola yang istimewa.


Bayu sudah menjajal turnamen tarkam sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saat masih 15 tahun. Bahkan, kala duduk di bangku kelas dua SMP, anak muda asal Jember, Jawa Timur ini sudah bermain di turnamen tarkam di kampung halamannya.

Turnamen tarkam semacam ini tidak ada batasan usia. Mulai dari pemain muda seperti Bayu hingga pemain senior boleh tampil di tarkam.

Air Seni di Sepatu dan Kisah-kisah Tarkam Bayu GatraBayu Gatra sudah bermain di turnamen tarkam sejak usia 15 tahun. (Dok. Pribadi)
Syarat tampil di tarkam hanya ada dua. Punya nyali dan kemampuan olah bola bagus.

Di turnamen tarkam pertamanya, bayaran yang didapat Bayu tak seberapa. Pemain jebolan PON Kaltim 2012 hanya menerima Rp15 ribu dan paling besar Rp20 ribu. Dalam satu pekan, Bayu bisa bermain tiga kali.

"Kan uangnya lumayan buat sekolah saya," ujar Bayu dengan nada senang.

Bakat sepak bola yang istimewa membuat nama Bayu cepat populer di sepak bola tarkam. Bayu pun dengan antusias bercerita bahwa saat duduk di bangku SMA, tawaran main tarkam semakin banyak untuk dirinya.

Di usianya yang belum genap 18 tahun, Bayu sudah pernah merasakan bermain tarkam di berbagai daerah. Dari Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Banyuwangi.

Dia hampir setiap hari menghabiskan waktunya dengan bermain tarkam, dari Senin sampai Minggu. Terkadang ia sampai bolos sekolah demi memperkuat sebuah tim di turnamen tarkam.

Uang dari hasil bermain tarkam itu pun ia kumpulkan untuk membeli beragam keperluan, termasuk membeli gawai pertamanya.

"Tapi badan saya remek [hancur]. Tiap malam saya wajib makan telur ayam kampung. Diambil kuningnya dan dicampur madu. Itu setiap hari [minum], sebelum tidur," aku Bayu, mengenang.

Air Seni di Sepatu dan Kisah-kisah Tarkam Bayu GatraIlustrasi sepakbola tarkam. Bayu Gatra menjadi pemain tarkam sebelum dilirik klub profesional. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Beragam cerita konyol hingga menegangkan pun pernah dialami Bayu saat masih mengasah mentalnya di sepak bola tarkam. Ia pernah menolak dapat bayaran lebih besar, diremehkan juragan tarkam, sampai dapat ancaman dari suporter lawan.

Saat bermain di Bondowoso, Bayu yang biasanya hanya dibayar Rp25 ribu sampai Rp35 ribu justru dapat honor sampai Rp75 ribu. Karena masih lugu, Bayu memilih untuk mengembalikan uang yang diberikan juragan tarkam tersebut.

"Waktu itu saya kembalikan karena dulu biasanya saya hanya dikasih kadang Rp35 ribu, kadang Rp25 ribu. Saya bilang uang honor saya kebanyakan. Tapi juragannya bilang honor buat pemain yang tampil di Bondowoso memang Rp75 ribu. Ya lumayan dapat uang lebih. Rezeki," tutur Bayu.

Bayu juga pernah diajak main tarkam hingga ke Banyuwangi. Jarak dari Jember, tempatnya tinggal ke Banyuwangi mencapai 103 kilometer.

Butuh waktu sekitar tiga jam buat Bayu untuk bisa sampai ke sana demi bermain tarkam. Begitu tiba di kediaman juragan tarkam, sang bos kaget karena melihat postur Bayu.

Ketika itu, Bayu memiliki badan paling mungil daripada teman-temannya yang lebih senior. Bayu pun masih mengingat dengan baik kalau dirinya sempat disebut masih anak kecil oleh sang juragan tarkam.
Air Seni di Sepatu dan Kisah-kisah Tarkam Bayu GatraBukan hanya menjadi pemain profesional, Bayu Gatra pun membela timnas Indonesia. (Ye Aung Thu / AFP)
Namun, hati kecilnya tidak ciut dan justru makin tertantang untuk membuktikan diri. Meskipun lawan yang dihadapi timnya tidak gampang karena diperkuat para pemain yang tampil di kompetisi Indonesia bersama Persewangi Banyuwangi.

"Juragannya sempat bilang bisa apa anak ini? Lawan kami itu pemain-pemain terkenal. Tapi yang bawa saya bilang 'Pak, kalau anak ini nanti main enggak bagus, gaji kami [masing-masing Rp150 ribu] tidak usah dibayar. Tapi kalau anak ini main bagus, bapak bayar dua kali lipat," ucap Bayu meniru ucapan seniornya tersebut.

Sebelum bertanding, Bayu mengungkapkan sempat melakukan ritual dengan mengencingi sepatu yang akan dipakainya. Hal itu untuk menangkal jampi-jampi dukun lawan yang memang sudah lumrah terjadi di turnamen tarkam, seperti pesan sang kakek saat berangkat dari rumah.

[Gambas:Video CNN]

Benar saja, Bayu tampil luar biasa di laga itu. Ia berhasil mencetak dua gol untuk membawa timnya menang 3-1. Bayu pun dipuja bak pahlawan. Tubuh mungilnya dilempar-lempar rekan-rekan tim ke udara karena girang melihat penampilannya.

"Setelah pertandingan bosnya minta maaf karena sempat ngeremehin saya. Dia juga minta saya terus ikut bermain. Saat pamit pulang, saya dikasih uang tambahan Rp50 ribu, jadi saya dapat uang Rp200 ribu," katanya.

Saat bermain di tarkam pula, Bayu mengalami patah hidung karena disikut lawan sehingga membuat hidungnya bengkok sampai sekarang. Dan yang paling menyeramkan, Bayu dan teman-temannya pernah ditakut-takuti menggunakan celurit oleh penonton.

Air Seni di Sepatu dan Kisah-kisah Tarkam Bayu GatraIlustrasi sepakbola tarkam. Bayu Gatra memiliki banyak kisah menarik ketika bermain di level tarkam. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Bayu mengungkapkan saat itu timnya menghadapi tuan rumah. Suasana pertandingan pun mencekam karena teror dari penonton yang seluruhnya pendukung tuan rumah.

"Pertandingan sampai adu penalti. Begitu adu penalti, penonton yang bawa celurit sengaja memukulkan celuritnya ke tiang gawang. Kami pun ketakutan dan bos tim langsung minta kami mengalah aja. Dia bilang tendang asal-asalan saja daripada ada apa-apa."

Pengalaman lucu pun pernah dialami Bayu saat tampil di sebuah turnamen tarkam. Ia pernah diminta juragan tarkam untuk menendang bola kick off ke salah satu sudut lapangan.

Sang juragan beralasan Bayu harus melakukan hal tersebut sesuai petunjuk dari sesepuh atau orang pintar agar peruntungan timnya bagus. Bayu mengiyakan arahan sang juragan. Namun saat laga berakhir, ia dihampiri para petaruh karena melakukan hal tersebut. Rupanya, bos tim yang diperkuat Bayu ikut taruhan.

"Pas pulang saya malah didatangi petaruh. Mereka tanya kenapa saya buang bola ke arah sana? Saya enteng saja bicara karena bos disuruh sesepuh. Mereka [petaruh] bilang: 'sesepuh dari mana? Bosnya itu tadi menang lima juta karena kamu tendang bola begitu,'" ucap Bayu dengan raut muka jengkel.

Bayu pun tak memungkiri pengalaman bermain di tarkam ikut membentuk karakternya jadi pemain profesional seperti sekarang. Permainan keras dan tekanan dari penonton di tarkam sukses mengasah mentalnya jadi lebih matang saat melakoni pertandingan.
Selain Bayu Gatra, Budi Sudarsono juga menjadi pemain yang berangkat dari tarkam dan kemudian menjadi pemain profesional.Selain Bayu Gatra, Budi Sudarsono juga menjadi pemain yang berangkat dari tarkam dan kemudian menjadi pemain profesional. (AFP PHOTO/ADEK BERRY)

Selain bermain tarkam, Bayu pernah fokus merintis karier di usia muda lewat Persid Jember dan kemudian Persekap Kabupaten Pasuruan. Dari sana, karier Bayu terus menanjak hingga akhirnya tampil bagus membela tim Kalimantan Timur di PON Riau 2012.

Saat ini, Bayu tercatat sebagai pemain PSM. Sebelum membela tim Juku Eja, ayah dari dua orang anak itu memperkuat Persisam Samarinda [sekarang Bali United], Sriwijaya FC, dan Madura United.

Bukan hanya Bayu pemain profesional kasta tertinggi Indonesia yang lahir dari rahim tarkam.

Sebut saja Widodo Cahyono Putro, Budi Sudarsono, Rahmat Affandi, Erwin Ramdani, dan Dika Bhayangkara. Mereka merintis karier dari turnamen tersebut.

Nasib membawa mereka tampil di kasta tertinggi kompetisi tanah air bahkan hingga pernah memperkuat Timnas Indonesia macam Budi Sudarsono.

Ketika masih merumput di tarkam, Budi mengaku pernah dibayar hanya dengan teh botol usai pertandingan.


Tulisan ini merupakan bagian dari liputan khusus CNNIndonesia.com bertajuk Merekam Sepakbola Tarkam. Simak selengkapnya di sini



(bac/vws)




BACA JUGA