Para pendekar 'si kulit bundar' dari etnik Tionghoa ini turut andil mengharumkan nama bangsa saat memperkuat Timnas Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pesepakbola Tionghoa ini ikut berjuang bersama kiper Maulwi Saelan dan Ramang.
Kiper legendaris dunia dari Uni Soviet, Lev Yashin. (Kroon, Ron / Anefo via wikimedia commons (CC-BY-SA-3.0-NL)) |
Saat itu belum ada aturan tentang perpanjangan waktu 2x15 menit dan adu penalti. Pertandingan pun diulang keesokan harinya lantaran hasil imbang.
Pada leg kedua ini, Indonesia kalah 0-4 dari Uni Soviet lantaran banyak pemain yang mengalami cedera.
"Mereka [Uni Soviet] tahu waktu di pertandingan pertama tidak bisa lagi main 'normal' lawan Indonesia. Harus main kasar kalau mau menang."
"Hampir semua pemain banyak yang cedera kakinya. Rasanya seperti sudah tidak bisa lari lagi," ujar Tan Liong ketika itu.
Salah satu pernyataan Tan Liong yang paling dikenal soal pengorbanan orang-orang Tionghoa di Timnas Indonesia.
Ilustrasi atlet Uni Soviet pada gelaran Olimpiade 1956 di Melbourne. (Photo by STF / AFP) |
Bukan hanya di Timnas Indonesia, Tan Liong juga jadi ikon Persija Jakarta. Julukannya adalah 'Macan Betawi'.
"Bapak saya menamakan saya dengan dua unsur kejayaan yaitu Naga dan Macan [Liong Houw]. Makanya saya sering dijuluki 'Si Macan', 'Macan Betawi'," ucapnya lagi.
[Gambas:Video CNN]
Pengalaman masa kelam dialaminya usai Piala Asia 1962. Dia dan sejumlah pemain keturunan Tionghoa lainnya mundur dari Timnas Indonesia lantaran santer isu suap saat itu. Dalam laga menghadapi Yugoslavia, Malmo, Thailand, dan Vietnam Selatan timnas bermain buruk.
Karier sepak bola juga sempat diteruskan kepada sang anak, Wahyu Tanoto dan Budi Tanoto pada era 1970-1980-an. Budi pernah memperkuat Timnas Indonesia. Namun, karier sang anak di sepak bola tak bertahan lama.
Nama besar lainnya yang tak bisa dilupakan di sepak bola Indonesia adalah Endang Witarsa yang bernama Tionghoa Liem Soen Joe.
Sukses terbesarnya diraih saat dia menjadi pelatih Timnas Indonesia. Total lima gelar internasional pernah dipersembahkan untuk Merah Putih.
Gelar tersebut antara lain juara Kings Cup di Thailand (1968), Merdeka Games, Malaysia, (1969), Agha Khan Cup, Pakistan. (1969), Piala Sukan Singapura (1972), dam Anniversary Cup (1972).
Selain kejeniusan dalam meracik strategi tim, Endang dikenal sebagai pelatih yang amat disegani. Memiliki karakter keras dan disiplin serta akrab dengan kata-kata makian bagi pemain yang tak menjalankan instruksi dengan baik.
Banyak pemain yang berhasil dipolesnya dan kemudian jadi tulang punggung Timnas Indonesia. Iswadi Idris, Djamiat Dalhar, Sucipto Suntoro, Yudo Hadianto, Mulyadi, Surya Lesmana hingga Widodo C Putro pun lahir dari gemblengan keras sang dokter gigi.
Cucu Endang Witarsa, Tessa Witarsa Abadi, pernah berbagi cerita tentang sang kakek. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
CNNIndonesia.com pernah mewancarai sang cucu, Tessa Witarsa Abadi, pada 2017. Dia pernah menceritakan soal sikap kakeknya terkait isu identitas dan sepak bola.
Endang pernah marah besar mendengar usulan gelaran kompetisi sepak bola antarklub-klub Tionghoa di Indonesia. Kata-kata kasar pun berhamburan dari mulutnya.
"Pipa [panggilan akrab kakek di keluarga Witarsa] sangat marah sekali dengan usulan tersebut. Pencetus ide dimaki sejadi-jadinya dengan kata-kata kasar termasuk binatang," kata Tessa saat berbincang khusus dengan CNNINdonesia.com.
Satu lagi pendekar Timnas Indonesia keturunan Tionghoa yang dikenal luas. Dia adalah Thio Him Tjiang, yang merupakan lulusan di Olimpiade Melbourne.
Selain di Olimpiade 1956, dia pernah tampil di ajang bergengsi lainnya bersama Timnas Indonesia. Ajang itu antara lain Kualifikasi Piala Dunia di China (1957), Merdeka Games di Kuala Lumpur (1957 dan 1958), Asian Games Tokyo (1958), dan Pra-Olimpiade Roma (1960).
Thio Him meninggal pada 2015. Namun, namanya tetap dikenang sebagai salah satu pesepakbola keturunan Tionghoa yang pernah berjasa di Timnas Indonesia. (bac/jun)
Kiper legendaris dunia dari Uni Soviet, Lev Yashin. (Kroon, Ron / Anefo via wikimedia commons (CC-BY-SA-3.0-NL))
Ilustrasi atlet Uni Soviet pada gelaran Olimpiade 1956 di Melbourne. (Photo by STF / AFP)
Cucu Endang Witarsa, Tessa Witarsa Abadi, pernah berbagi cerita tentang sang kakek. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)