Mengenang Para Pendekar Timnas Indonesia Keturunan Tionghoa

CNN Indonesia | Sabtu, 25/01/2020 09:44 WIB
Mengenang Para Pendekar Timnas Indonesia Keturunan Tionghoa Ilustrasi para suporter Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pesepakbola keturunan Tionghoa punya peran besar dalam sejarah sepak bola tanah air, terutama di Timnas Indonesia.

Para pendekar 'si kulit bundar' dari etnik Tionghoa ini turut andil mengharumkan nama bangsa saat memperkuat Timnas Indonesia.

Sejak masih era Hindia Belanda, beberapa nama pemain dari keturunan Tionghoa ikut ambil bagian di Piala Dunia 1938. Mereka adalah, Tan Hong Djien, Tan See Handi, dan kiper Tan Mo Heng.


Namun di antara nama-nama itu, ada sederet nama lainnya yang sangat melegenda di timnas Indonesia. Mereka antara lain Endang Witarsa (Liem Soen Joe), Latief Harris Tanoto (Tan Liong Houw), Kiat Sek Kwee, dan Thio Him Tjiang.

Para pesepakbola Tionghoa ini ikut berjuang bersama kiper Maulwi Saelan dan Ramang.

Mereka pernah mengharumkan nama Indonesia ketika menahan Uni Soviet tanpa gol di perempat final Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Saat itu Soviet diperkuat kiper top dunia, Lev Yashin.

Kiper legendaris dunia dari Uni Soviet, Lev Yashin. (Kiper legendaris dunia dari Uni Soviet, Lev Yashin. (Kroon, Ron / Anefo via wikimedia commons (CC-BY-SA-3.0-NL))

Saat itu belum ada aturan tentang perpanjangan waktu 2x15 menit dan adu penalti. Pertandingan pun diulang keesokan harinya lantaran hasil imbang.

Pada leg kedua ini, Indonesia kalah 0-4 dari Uni Soviet lantaran banyak pemain yang mengalami cedera.

"Mereka [Uni Soviet] tahu waktu di pertandingan pertama tidak bisa lagi main 'normal' lawan Indonesia. Harus main kasar kalau mau menang."

"Hampir semua pemain banyak yang cedera kakinya. Rasanya seperti sudah tidak bisa lari lagi," ujar Tan Liong ketika itu.

Salah satu pernyataan Tan Liong yang paling dikenal soal pengorbanan orang-orang Tionghoa di Timnas Indonesia.

Mengenang Para Pendekar Timnas Indonesia Keturunan TionghoaIlustrasi atlet Uni Soviet pada gelaran Olimpiade 1956 di Melbourne. (Photo by STF / AFP)
"Jangan pernah meragukan nasionalisme kami [orang-orang Tionghoa]. Kami siap mati di lapangan demi membela Indonesia di sepak bola," kata-kata yang kerap kali dia lontarkan.

Bukan hanya di Timnas Indonesia, Tan Liong juga jadi ikon Persija Jakarta. Julukannya adalah 'Macan Betawi'.

"Bapak saya menamakan saya dengan dua unsur kejayaan yaitu Naga dan Macan [Liong Houw]. Makanya saya sering dijuluki 'Si Macan', 'Macan Betawi'," ucapnya lagi.

[Gambas:Video CNN]

Pengalaman masa kelam dialaminya usai Piala Asia 1962. Dia dan sejumlah pemain keturunan Tionghoa lainnya mundur dari Timnas Indonesia lantaran santer isu suap saat itu. Dalam laga menghadapi Yugoslavia, Malmo, Thailand, dan Vietnam Selatan timnas bermain buruk.

Karier sepak bola juga sempat diteruskan kepada sang anak, Wahyu Tanoto dan Budi Tanoto pada era 1970-1980-an. Budi pernah memperkuat Timnas Indonesia. Namun, karier sang anak di sepak bola tak bertahan lama.

Nama besar lainnya yang tak bisa dilupakan di sepak bola Indonesia adalah Endang Witarsa yang bernama Tionghoa Liem Soen Joe.

Mengenang Para Pendekar Timnas Indonesia Keturunan Tionghoa
Endang merupakan rekan dari Tan Liong di Timnas Indonesia pada Olimpiade 1956. Dia rela meninggalkan kesempatan bergelimang uang menjadi dokter gigi. Meski lulus sebagai sarjana kedokteran di Surabaya, Endang memilih bergelut di sepak bola.

Sukses terbesarnya diraih saat dia menjadi pelatih Timnas Indonesia. Total lima gelar internasional pernah dipersembahkan untuk Merah Putih.

Gelar tersebut antara lain juara Kings Cup di Thailand (1968), Merdeka Games, Malaysia, (1969), Agha Khan Cup, Pakistan. (1969), Piala Sukan Singapura (1972), dam Anniversary Cup (1972).

Selain kejeniusan dalam meracik strategi tim, Endang dikenal sebagai pelatih yang amat disegani. Memiliki karakter keras dan disiplin serta akrab dengan kata-kata makian bagi pemain yang tak menjalankan instruksi dengan baik.

Banyak pemain yang berhasil dipolesnya dan kemudian jadi tulang punggung Timnas Indonesia. Iswadi Idris, Djamiat Dalhar, Sucipto Suntoro, Yudo Hadianto, Mulyadi, Surya Lesmana hingga Widodo C Putro pun lahir dari gemblengan keras sang dokter gigi.

Cucu Endang Witarsa, Tessa Witarsa Abadi, pernah berbagi cerita tentang sang kakek. (Cucu Endang Witarsa, Tessa Witarsa Abadi, pernah berbagi cerita tentang sang kakek. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Endang Witarsa meninggal pada 2 April 2008 dan dimakamkan di pemakaman San Diego Hills.

CNNIndonesia.com pernah mewancarai sang cucu, Tessa Witarsa Abadi, pada 2017. Dia pernah menceritakan soal sikap kakeknya terkait isu identitas dan sepak bola.

Endang pernah marah besar mendengar usulan gelaran kompetisi sepak bola antarklub-klub Tionghoa di Indonesia. Kata-kata kasar pun berhamburan dari mulutnya.

"Pipa [panggilan akrab kakek di keluarga Witarsa] sangat marah sekali dengan usulan tersebut. Pencetus ide dimaki sejadi-jadinya dengan kata-kata kasar termasuk binatang," kata Tessa saat berbincang khusus dengan CNNINdonesia.com.

Satu lagi pendekar Timnas Indonesia keturunan Tionghoa yang dikenal luas. Dia adalah Thio Him Tjiang, yang merupakan lulusan di Olimpiade Melbourne.

Thio Him merupakan bek kiri tangguh yang sempat membuat para penyerang Uni Soviet kesulitan menembusnya.

Selain di Olimpiade 1956, dia pernah tampil di ajang bergengsi lainnya bersama Timnas Indonesia. Ajang itu antara lain Kualifikasi Piala Dunia di China (1957), Merdeka Games di Kuala Lumpur (1957 dan 1958), Asian Games Tokyo (1958), dan Pra-Olimpiade Roma (1960).

Thio Him meninggal pada 2015. Namun, namanya tetap dikenang sebagai salah satu pesepakbola keturunan Tionghoa yang pernah berjasa di Timnas Indonesia. (bac/jun)