ANALISIS

Rossi Masih Terlalu Muda untuk Pensiun dari MotoGP

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Minggu, 16/02/2020 14:14 WIB
Rossi Masih Terlalu Muda untuk Pensiun dari MotoGP Valentino Rossi kini 41 tahun. (AFP PHOTO / PIERRE-PHILIPPE MARCOU)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rumor Valentino Rossi ingin pensiun dari MotoGP makin terdengar seiring kepastian ia pisah jalan dengan Yamaha. Padahal 'The Doctor' masih terlalu muda untuk pensiun.

Rossi resmi berusia 41 tahun pada 16 Februari 2020. Usia tersebut dianggap masuk sebagai usia tua di dunia olahraga.

Salah satu indikator terbaru bahwa usa 41 tahun sudah merupakan usia yang tua adalah keputusan Jorge Lorenzo untuk pensiun di akhir musim lalu. Jorge Lorenzo memutuskan pensiun di usia 32 tahun.


Padahal saat Lorenzo berstatus sebagai rookie di MotoGP, Rossi sudah jadi pebalap veteran yang berusia 29 tahun.


Namun batas usia pensiun adalah batas-batas yang sejatinya tak pernah ada. Tidak ada peraturan dari FIM dan MotoGP tentang usia maksimal seorang pebalap yang berkompetisi.

Batas-batas pensiun akhirnya ditetapkan oleh banyak pebalap itu sendiri. Tiap pebalap punya banyak definisi tentang batas pensiun sehingga pada akhirnya usia pensiun tiap pebalap berbeda-beda.

Lorenzo pensiun di usia 32 tahun karena merasa tak kompetitif di Honda plus mengalami trauma akibat kecelakaan hebat di musim lalu.

Casey Stoner memilih pensiun di usia 27 tahun. Alasannya, karena ia kehilangan gairah berlomba di MotoGP.

Rossi Masih Terlalu Muda untuk Pensiun dari MotoGP(CNN Indonesia/Haryanto Tri Wibowo)
Dari dua contoh di atas, sejatinya tidak ada yang benar-benar pensiun karena alasan sudah tua. Semua punya alasan masing-masing ketika memutuskan karier mereka berakhir di MotoGP.

Rossi sendiri sejauh ini tidak pernah secara gamblang menyebut ia akan pensiun karena merasa terlalu tua. Yang dilakukan Rossi selama ini adalah terus menyoroti performa Yamaha dan kualitasnya di atas motor. Dua batas itulah yang dijadikan acuan oleh Rossi untuk mengambil keputusan di pertengahan musim nanti.

Sejak jadi runner up MotoGP 2015 dan 2016, penampilan Rossi tidak sepenuhnya bisa dikatakan mutlak menurun. Pasalnya, penurunan penampilan Rossi bisa disebut sebagai imbas dari penurunan performa Yamaha secara keseluruhan.

[Gambas:Video CNN]

Sejak Michelin menggantikan Bridgestone sebagai ban resmi MotoGP, Yamaha selalu mengatakan kesulitan terhadap cengkraman motor di aspal. Akibat hal tersebut, Yamaha sering kehilangan kecepatan dan akselerasi di lap-lap terakhir balapan.

Tak hanya itu, Yamaha juga kurang lihai saat keluar dari tikungan dan masih kalah dalam duel kecepatan di trek lurus.

Alasan-alasan tersebut tidak hanya keluar dari mulut Valentino Rossi. Maverick Vinales juga merasakan hal yang serupa. Sebagai bukti, Vinales juga tak bisa masuk dalam persaingan juara selama tiga musim di Yamaha.

Yamaha putuskan duet Fabio Quartararo dengan Maverick Vinales di musim depan.Yamaha putuskan duet Fabio Quartararo dengan Maverick Vinales di musim depan. (LLUIS GENE / AFP)
Berharap Gairah Rossi Membara

Palu dari Yamaha sudah diketuk. Mereka memutuskan mengontrak Maverick Vinales dan Fabio Quartararo untuk balapan MotoGP 2020. Yamaha sudah menunggu Rossi bergerak, namun 'The Doctor'tak mau buru-buru menentukan masa depan karena ingin memantau keadaan selama setengah tahun ke depan.

Alhasil, Rossi yang akhirnya ditinggalkan oleh Yamaha. Yamaha juga perlu buru-buru bergerak lantaran Ducati sudah memantau situasi untuk mendapatkan Fabio Quartararo dan Maverick Vinales.

Rossi Masih Terlalu Muda untuk Pensiun dari MotoGP
Dalam tiap balapan, gairah Rossi untuk terus berada di lintasan masih terus menyala. Ia bisa konsisten menghabiskan hari-hari penuh latihan berat meski terkadang beberapa kalimat putus asa karena performa Yamaha tak kunjung meningkat sering keluar dari mulutnya.

Di awal musim ini, Rossi menunjukkan penampilan signifikan lewat hasil tes Yamaha di Sepang. Meski bukan jaminan musim MotoGP 2020 bakal berjalan sukses, setidaknya Rossi dan Yamaha ada di jalur yang benar saat ini.

Yamaha sudah menawarkan motor kualitas motor pabrikan bila Rossi mau tetap berlaga di tim satelit tahun depan. Garansi ini setidaknya membuat Rossi tak perlu mengemis meminta ruang pada tim-tim lain di akhir musim.

Usia 41 tahun tidak akan jadi halangan. Sepanjang Rossi masih punya gairah berkompetisi, beberapa tahun berlalu setelah ini pun tidak bakal jadi persoalan. Pasalnya Rossi termasuk pebalap yang memiliki cedera kambuhan.

Salah satu hal yang membuat Rossi bisa memutuskan perpanjangan kontrak adalah performa kompetitif di lintasan. Tak usah muluk-muluk berharap juara dunia, cukup berharap Rossi bisa selalu bersaing menjadi pemenang di tiap balapan.

Cepat atau lambat, Valentino Rossi bakal tetap pergi dari MotoGP. Namun masih banyak yang berharap keputusan tersebut tidak diambil tahun ini. (har)