ANALISIS

Liverpool Habis Akal di Markas Atletico

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Rabu, 19/02/2020 09:15 WIB
Liverpool dibuat mati kutu oleh permainan agresif dan pertahanan ketat ala Diego Simeone saat kalah dari Atletico Madrid di Liga Champions. Liverpool tak bisa keluar dari perangkap taktik Atletico Madrid. (AP Photo/Bernat Armangue)
Jakarta, CNN Indonesia -- Liverpool seperti kehilangan arah di Stadion Wanda Metropolitano, markas Atletico Madrid pada leg pertama 16 besar Liga Champions, Selasa (18/2) waktu setempat. The Reds yang biasanya selalu punya solusi untuk setiap situasi kali ini tidak bisa berbuat apapun.

Kali ini, tim kota pelabuhan harus angkat topi pertanda salut untuk racikan taktik Diego Simeone. Pelatih berjuluk El Cholo itu membuat permainan anak asuh Jurgen Klopp buntu selama 90 menit.

Tanda-tanda Liverpool akan kalah di laga ini sudah muncul saat laga baru berjalan empat menit. Gelandang Atletico, Saul Niguez berhasil membobol gawang Alisson Becker.


Saul dengan tenang menceploskan bola ke gawang lawan setelah memanfaatkan peluang dari tendangan pojok. Pemain asal Spanyol itu dengan cepat merespons bola liar di kotak penalti.

Liverpool Habis Akal di Markas AtleticoMohamed Salah tidak bisa berbuat banyak karena dikawal ketat Renan Lodi. (AP Photo/Bernat Armangue)
Setelah gol cepat dari Saul, Atletico bermain lebih hati-hati. Los Colchoneros tetap bermain agresif tetapi tidak lagi berani terlalu menekan.

Tuan rumah fokus bertahan dan memainkan bola-bola panjang langsung ke pertahanan Liverpool. Atletico membiarkan para pemain Liverpool menguasai bola.

Tugas Saul dkk hanya fokus memastikan tidak ada satupun pemain Liverpool yang leluasa memberikan ancaman pada Jan Oblak.

Kesan yang muncul laga seperti berat sebelah. Liverpool seolah superior meski sebenarnya gaya bermain Atletico adalah anti strategi yang diciptakan Simeone.

Simeone agaknya sadar permainan menyerang bukan gaya mereka. Dan, tampil ofensif meski di hadapan publik sendiri melawan tim sekelas Liverpool sama saja dengan bunuh diri.

Permainan menyerang akan membuat banyak celah kosong di lini belakang tim ibukota Spanyol. Hal ini bakal memudahkan Mohamed Salah, Sadio Mane, hingga Roberto Firmino mencetak gol.

Liverpool Habis Akal di Markas AtleticoSaul Niguez mencetak gol yang menentukan kemenangan Atletico atas Liverpool. (AP Photo/Bernat Armangue)
Taktik bertahan yang dikombinasikan dengan permainan agresif ala Simeone terbukti jitu. Salah dan Mane mati kutu karena kesulitan menembus pertahanan Atletico.

Salah berhasil dimatikan bek kiri asal Brasil, Renan Lodi yang pantas disebut pemain terbaik laga ini. Hal serupa dialami Mane yang terus dipepet Sime Vrsaljko hingga akhirnya pemain asal Senegal itu digantikan Divock Origi pada awal babak kedua.

Statistik Mane terbilang buruk karena tidak sekalipun melepaskan tembakan. Origi yang masuk menggantikan Mane juga mengukir catatan buruk serupa.

Salah memang sedikit lebih baik ketimbang Mane dan Origi dengan dua kali melakukan usaha mencetak gol. Tetapi dari dua usaha itu tidak satupun yang tepat mengarah ke gawang Jan Oblak.

[Gambas:Video CNN]

Sementara Firmino yang juga ditugaskan untuk mencetak gol kerap turun hingga ke lini tengah untuk mencari bola. Alhasil tidak ada ancaman yang juga bisa dibuat Firmino di laga ini.

Mantan pemain Hoffenheim itu memang sempat membobol gawang Atletico karena blunder Oblak di babak pertama. Namun, gol Salah dianulir wasit karena Firmino offside sebelum memberi umpan kepada pemain Mesir itu.

Ketidakmampuan pemain depan mencetak gol membuat Liverpool memakai rencana cadangan. Tendangan jarak jauh coba dilakukan pemain dari lini kedua seperti Jordan Henderson hingga Fabinho tetapi tak juga membuahkan hasil.

Bahkan, Atletico yang hanya sesekali menyerang bisa saja menang dengan skor lebih 1-0. Sialnya peluang emas yang didapat Alvaro Morata tidak bisa dieksekusi dengan sempurna.

Liverpool Habis Akal di Markas Atletico
Morata tidak sempurna menyambut umpan dari sisi kiri penyerangan tim yang membuat peluang tuan rumah terbilang percuma.

Setelah itu, orientasi Atletico makin condong ke pertahanan. Simeone cukup puas dengan skor 1-0 karena yang terpenting gawang timnya tidak kebobolan untuk modal menatap laga leg kedua yang akan berlangsung tiga pekan mendatang.

Kekalahan ini jadi bukti kemenangan taktik Simeone yang mengandalkan permainan pragmatis. Sebaliknya buat Liverpool, kekalahan ini membuat Klopp harus berpikir lebih keras untuk mengatasi permainan agresif dan bertahan yang diperagakan Atletico.

Hal ini lantaran gaya bermain Atletico di leg kedua 16 besar diyakini tidak akan banyak berubah. Modal kemenangan 1-0 akan membuat Los Rojiblancos tampil bertahan sejak menit pertama di Anfield untuk memastikan sang juara bertahan tersingkir lebih cepat. (jal)