Entah bagaimana virus tersebut bisa masuk tubuh Yunan. Pelatih 45 tahun itu hanya ingat setelah Barito Putera kalah 0-4 dari Madura United di Stadion Gelora Pamekasan, 29 Februari lalu, dia sempat merasa tidak enak badan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, baru sehari keluar rumah sakit badan Yunan terasa semakin tidak nyaman. Demam tinggi, batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas sempat dialami Yunan.
"Saya tidak tahu kena [virus corona] di mana, tertular dari siapa. Kapan tertularnya, apa waktu di Madura atau di Surabaya saya tidak tahu. Kita kan tidak tahu, orang yang saat itu dekat dengan kita batuk atau seperti apa," ujar Yunan.
Saat dokter menyarankan diisolasi, Yunan tak pikir panjang untuk langsung menyetujuinya. Ia sadar kondisinya bisa mengancam keselamatan orang-orang terdekat, termasuk rekan satu tim di Barito Putera, istri dan anak-anaknya.
Pengecekan untuk memastikan paparan virus corona di tubuh Yunan dilakukan tim dokter. Termasuk tes swab pertama yang hasilnya positif covid-19.
Hari-hari isolasi dijalani Yunan sebatang kara di sebuah ruangan sambil merasakan sakit tenggorokan dan kesulitan bernapas yang membuatnya harus menggunakan alat bantu pernapasan atau ventilator.
"Saya menjalani hari-hari berat di lima hari pertama isolasi. Itu masa kritis yang saya alami. Demam tinggi, sesak napas, badan lemas pakai oksigen karena napas saat itu pendek banget. Saya sendirian menahan sakit," ujar Yunan.
Yunan Helmi mulai merasa tidak enak badan usai Barito Putera melawan Madura United. (ANTARA FOTO/SAIFUL BAHRI) |
"Dukungan dari keluarga, tim di Barito Putera menimbulkan semangat buat saya harus sembuh. Saya mau sembuh, kasihan keluarga, istri dan anak-anak kalau sampai ikut terpapar juga. Makanya saya juga setuju buat isolasi waktu itu," ujar Yunan.
Setelah melewati masa kritis di lima hari pertama, kondisi Yunan terus membaik. Selang ventilator dilepas, begitu juga dengan jarum infus yang menancap di tangannya terlepas.
Hari-hari di pengasingan dihabiskan Yunan untuk beribadah sembari menjalani pengobatan. Ia juga tidak melupakan olahraga yang dilakukan di dalam kamar.
[Gambas:Video CNN]
Sesekali Yunan mendengarkan musik, menonton acara televisi sambil membaca berita untuk mendapatkan informasi terkini. Hampir setiap hari ia melakukan video call dengan keluarga untuk menghilangkan rasa rindu.
Tiga pekan setelah 14 Maret 2020 sejak Yunan diisolasi, namun tiga kali tes swab yang dijalani masih menunjukkan hasil positif yang membuatnya belum diperbolehkan pulang.
"Sekarang kondisi saya sangat bagus, tidak ada keluhan baik sesak napas, demam, batuk sudah tidak ada. Tapi saya masih isolasi sudah hampir tiga minggu karena hasil swab masih positif jadi belum bisa pulang," ucap Yunan.
Meski sudah tidak ada lagi keluhan yang dirasakan, Yunan paham kondisinya belum aman sampai hasil tes swab berubah jadi negatif. Ia juga tahu, meski badannya kini sudah bugar, tapi virus corona masih menempel dan berpotensi menular ke orang lain.
"Hasil swab ada masih positif. Mudah-mudahan beberapa hari ke depan tes lagi dan hasilnya negatif untuk bisa memastikan saya boleh keluar [rumah sakit]," harap Yunan.
"Alangkah baiknya kalau kira ikut tes karena itu bisa bantu deteksi dini dan pengobatannya. Kalau kita merasa sayang dengan orang yang kita sayangi, ikuti anjuran pemerintah. Jangan sampai ego kita membuat orang-orang di sekitar kita ikut terkontaminasi," ucap Yunan. (ttf/har)

Yunan Helmi mulai merasa tidak enak badan usai Barito Putera melawan Madura United. (ANTARA FOTO/SAIFUL BAHRI)