3 Tantangan BWF Gelar Turnamen Badminton di 2020

CNN Indonesia | Sabtu, 30/05/2020 15:10 WIB
Jonatan Christie di French Open 2019. (dok. PBSI) Banyak tantangan bagi BWF untuk menggelar turnamen di 2020. (dok.PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Federasi Badminton Dunia (BWF) sudah menyusun kalender badminton untuk paruh akhir 2020. Berikut tantangan yang bakal dihadapi BWF dan panitia lokal tiap negara untuk menyelenggarakan pertandingan.

Pada bulan Agustus, Hyderabad Open dan China Master Super 100 jadi agenda awal dari seri turnamen BWF. Setelah itu jadwal turnamen makin padat memasuki bulan September, Oktober, November, hingga Desember.


Berikut sejumlah tantangan yang dihadapi oleh BWF untuk menyusul sejumlah kompetisi olahraga lain seperti Bundesliga dan UFC yang sudah lebih dulu menggelar roda kompetisi:


1. Izin Tiap Negara

Turnamen badminton BWF berbeda dengan Bundesliga. Penerapan Bundesliga lebih mudah dari segi izin lantaran itu merupakan kompetisi domestik. Ketika pihak berwenang termasuk pihak kesehatan sudah memberikan izin, mereka bisa berjalan.

Sementara untuk turnamen BWF, BWF harus bisa menunggu izin tiap negara untuk memperbolehkan panitia setempat menggelar pertandingan. Hal ini akan sulit bagi BWF dan panitia setempat lantaran pengurusan izin butuh proses dan peninjauan berkali-kali sebelum izin tersebut tembus.

Kesulitan soal izin makin mendapat ujian ketika turnamen badminton BWF memiliki jadwal padat. Dalam rilis BWF, jadwal turnamen yang dijadwalkan bakal berlangsung padat.
This picture taken on May 21, 2016 shows national badminton coach Li Yongbo of China holding the trophy after his women's team won the women's finals group match at the Uber Cup badminton tournament in Kunshan, eastern China's Jiangsu Province. - hina's national badminton coach Li Yongbo declared his players were still among the best in the world but urged fans to be patient and expect occasional defeats after the host's shock exit from the Thomas Cup. (Photo by JOHANNES EISELE / AFP) / TO GO WITH Badminton-Thomas-Uber-CHN-Li by David STOUTPiala Thomas-Uber termasuk turnamen yang bakal digelar di 2020. ( JOHANNES EISELE / AFP)

Misal Korea Open, China Open, dan Japan Open bakal berlangsung tiga minggu beruntun mulai 8 September hingga 27 September. Sulit bagi tiap negara untuk langsung memberikan izin mengingat tiap atlet berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Salah satu kompetisi yang serupa dengan turnamen badminton BWF adalah MotoGP. Sejauh ini MotoGP belum terlaksana dan dalam kabar terakhir Inggris memilih untuk tidak menggelar MotoGP Inggris tahun ini. Seiring dengan banyaknya penundaan dan pembatalan, MotoGP 2020 belum berjalan saat ini.

2. Ratusan Peserta Terlibat

UFC sudah menyelenggarakan pertarungan yang melibatkan banyak petarung dari berbagai negara. Namun jumlah petarung yang terlibat hanya sekitar 20-30 orang. Sedangkan untuk turnamen badminton, peserta bakal mencapai lebih dari 200 orang.

Bila berhitung tiap nomor diikuti 32 orang untuk nomor tunggal dan 64 orang untuk nomor ganda, bakal ada 256 atlet yang terlibat. Belum lagi bila menghitung jumlah pelatih hingga ofisial pertandingan.

Meski badminton bukan olahraga kontak sehingga risiko penularan saat pertandingan berlangsung kecil, jumlah atlet yang hadir di saat bersamaan di satu arena pertandingan memiliki risiko penularan yang besar.

Social distancing harus diterapkan dengan baik namun hal ini terbilang sulit mengingat jadwal turnamen badminton sangat padat, terutama di babak pertama.
Indonesia's Melati Daeva Oktavianti, right, and Jordan Praveen embrace after winning gold during their mixed doubles badminton finals match against Malaysia at the 30th South East Asian Games in Muntinlupa, south of Manila, Philippines on Monday Dec. 9, 2019. (AP Photo/Aaron Favila)BWF perlu menerapkan protokol kesehatan ketat karena ratusan atlet berkumpul. (AP Photo/Aaron Favila)

Protokol kesehatan yang diterapkan tentu harus lebih ketat dengan pemeriksaan berlapis dan berkala. UFC sendiri bahkan menggelar tes PCR hingga empat kali sebelum ajang tersebut digelar.

Hal tersebut mungkin bisa diakali oleh BWF dan panitia lokal dengan menyiapkan lebih dari satu venue sehingga jumlah atlet yang hadir dalam satu arena yang sama bisa berkurang. Lantaran kemungkinan turnamen tanpa penonton, tentu ukuran venue yang kecil dari standar tidak akan menjadi kendala.

3. Tak Dihitung Poin Olimpiade

Salah satu tantangan lain adalah turnamen-turnamen yang ada di paruh kedua kompetisi tahun ini adalah turnamen-turnamen yang diselenggarakan tidak masuk dalam perhitungan poin menuju Olimpiade.

Hal itu mengurangi urgensi pemain untuk ikut turnamen dalam paruh akhir kompetisi tahun ini. Dengan jadwal yang padat, muncul kemungkinan tiap atlet bakal selektif memilih turnamen lantaran tak ingin mengalami cedera jelang Olimpiade tahun depan. (ptr/ptr)

[Gambas:Video CNN]