Jejak Mr. Runner Up Joko Suprianto ke Puncak Dunia
Joko Suprianto | CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2020 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Joko Suprianto legenda bulutangkis Indonesia. (AFP/TOMMY CHENG)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dari usia delapan tahun saya sudah menekuni badminton dengan serius. Di Solo saya bisa jadi juara di kategori pemula pada 1979. Di usia 13 saya bisa jadi juara Jawa Tengah.
Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika saya kelas 3 SMP. Di sekolah ada pengumuman sekolah diliburkan, tetapi tiap siswa diminta keluar ke Jl. Slamet Riyadi. Siswa diminta menyambut arak-arakan juara dunia Icuk Sugiarto.
Momen itu benar-benar terngiang-ngiang dalam ingatan saya. Saya sendiri sudah kenal Mas Icuk cukup lama, terutama karena Mas Icuk berteman dengan kakak saya dan kenal keluarga saya. Di PB Abadi, saya juga sudah sering melihat Mas Icuk meski usia kami terpaut jauh. Saya masih anak-anak, dia sudah dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat memenangi Wali Kota Cup, salah satu pencari bakat bernama Slamet Rudiyanto melihat saya. Saya ditawari pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan Tangkas. Pelita juga memberi tawaran pada saya, namun akhirnya saya pilih Tangkas.
Di Tangkas prestasi saya tidak sebagus saat saya masih di daerah. Mungkin karena sudah banyak pesaing. Saya sempat mau mundur, bahkan sudah pernah bermain di nomor ganda bersama Herry IP di awal 1985. Kami sempat masuk semifinal di kejuaraan di Surabaya dan Bandung.
Dalam situasi sulit itu, saya mendapat bimbingan dari Hadi Nasri. Mungkin beliau melihat potensi saya masih ada. Dari bimbingan beliau, saya bisa fokus dan ikut seleksi untuk tampil di Indonesia Open.
Joko Suprianto menyabet tiga gelar Piala Thomas bersama Indonesia. (Dok. Pribadi)
Saya lolos seleksi dan bisa tampil di Indonesia Open. Di Indonesia Open saya mampu mengalahkan Lius Pongoh dan Nick Yates hingga lolos ke perempat final. Prestasi ini yang kemudian mengantar saya masuk ke pelatnas.
Saya terbilang beruntung, mungkin memang itu rezeki saya. Saya punya kesempatan dan hal itu yang kemudian saya manfaatkan. Saat itu sudah ada proyek untuk Olimpiade 1992.
Di pelatnas saya masuk pratama. Meski saya anggota baru, umur saya terbilang sudah agak telat karena menjelang 20 tahun. Pemain lain seperti Ricky Soebagdja yang lebih dulu masuk saat itu masih 16 tahun.
Awalnya, saya masih ada di lapis dua. Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, Hermawan Susanto, Fung Permadi, dan Richard Mainaky masih jadi pemain yang diprioritaskan untuk Olimpiade 1992.
Setelah digembleng tiga bulan, Rudy Hartono yang waktu itu jadi pelatih melihat potensi saya. Akhirnya saya bergabung dengan pemain-pemain lain dan masuk proyeksi untuk Olimpiade 1992.
Menjadi pemain pelatnas tidak berarti segalanya menjadi mudah. Sejak 1985 hingga 1991, saya tidak pernah jadi juara. Bahkan saya sempat dijuluki Mr. Runner Up.
Saya beberapa kali masuk final namun selalu kalah. Benar-benar tidak pernah juara. Tidak ada gelar sama sekali, termasuk dari turnamen kecil.
Akhirnya kebuntuan itu pecah di tahun 1992, tepatnya di turnamen Swiss Open. Saya masuk final bertemu Hariyanto Arbi. Saya pecah telur di turnamen itu dan akhirnya bisa jadi juara.
Dalam kegagalan demi kegagalan itu, saya merasa terlalu memikirkan hasil. Saya terlalu berambisi untuk jadi yang terbaik. Hal itu justru membuat saya tak bisa mengontrol permainan sehingga akhirnya fisik terkuras. Kegagalan demi kegagalan juga membuat trauma kekalahan sering muncul.
Di final Swiss Open, saya mencoba lebih tenang. Saya coba menikmati pertarungan. Saya coba menampilkan hal yang berbeda setelah di turnamen terdahulu saya lebih sering tegang di kamar sebelum final.
Gagal Lolos ke Olimpiade, Juara Dunia Setelahnya
Meski tak pernah juara dalam rentang waktu yang lama, peringkat dunia saya bagus dan berada di 10 besar. Saat itu Indonesia diyakini bisa meloloskan tiga wakil ke Olimpiade Barcelona 1992.
Beberapa bulan sebelum Olimpiade, peringkat saya ada di bawah Ardy dan Alan. Sebelum kejuaraan di Jerman dan Belanda, saya nomor tiga.
Kondisi saat itu berbeda dengan sekarang. Peringkat dunia tidak bisa dicek setiap saat seperti saat ini, yang bisa dengan mudah dilihat lewat handphone setiap saat. Saya pikir saat itu sudah lolos ke Olimpiade dan tidak berangkat ke Jerman dan Belanda.
Hermawan berangkat ke turnamen itu dan mendapat hasil bagus. Posisi saya akhirnya tergeser oleh Hermawan.
Tentu sedih juga karena tiap pemain ingin tampil di Olimpiade. Saya mendapat masukan dan semangat dari orang tua, pelatih, dan mantan pelatih. Intinya, saya tidak boleh kehilangan motivasi hanya karena kejadian ini.
Saya lalu berpikir bahwa hal ini sudah terjadi. Saya tak berpikir untuk menyerah dan pensiun karena saya sudah merasakan nikmat berdiri di podium tertinggi. Saya ingin mengulangi hal itu.
Setelah gagal lolos ke Olimpiade, saya berlatih lebih keras. Setelah Subuh saya mulai latihan, entah itu latihan lari atau footwork. Hari Kamis dan Minggu saat latihan libur saya pergunakan untuk memperkuat otot kaki dan otot perut. Bagi saya yang terpenting menambah jam latihan dari latihan reguler yang didapat.
Saya bisa jadi juara Badminton World Cup 1992. Di final saya mengalahkan Hermawan. Saya ingin menunjukkan bahwa saya juga bisa berprestasi di turnamen besar seperti Badminton World Cup.
Jangan lewatkan cerita Joko Supriyanto merasa telat matang di badminton pada halaman kedua.
Usai jadi juara Badminton World Cup, saya lebih yakin pada diri saya sendiri di usia yang sudah menginjak 26 tahun.
Banyak yang bilang saya telat matang. Memang saya merasa saya lebih menikmati permainan di usia 26. Saya lebih matang di lapangan, beda dengan tahun-tahun sebelumnya saat saya kurang menikmati.
Di 1993 saya kalah dari Hariyanto Arbi di final All England. Kekalahan itu saya jadikan motivasi untuk tampil bagus di Kejuaraan Dunia 1993. Saya ingin membuktikan bisa kembali meraih juara di kejuaraan besar macam Kejuaraan Dunia.
Kunci keberhasilan saya di Kejuaraan Dunia 1993 sebetulnya ada di babak semifinal saat bertemu Ardy. Saya selalu kalah dari Ardy bila bertemu sebelumnya namun kali itu saya lihat Ardy yang justru lebih menanggung beban mental.
Setelah bisa mengalahkan Ardy, saya menghadapi Hermawan di babak final. Dari segi kepercayaan diri, saya lebih yakin ketika bertemu Hermawan.
Kejuaraan Dunia 1993 bersama Piala Thomas yang tiga kali saya ikut menangi untuk Indonesia adalah sebuah pengalaman terindah dalam karier saya sebagai pemain badminton. Saya juga bisa jadi pemain nomor satu dunia pada 1993 hingga 1996 meski sempat beberapa saat digeser Hariyanto Arbi.
Joko Suprianto beberapa kali menyabet gelar juara dunia bulutangkis. (TOMMY CHENG / AFP)
Di Olimpiade 1996, saya mengalami kekecewaan karena gagal meraih medali Olimpiade. Jelang Olimpiade saya sebetulnya jadi salah satu pemain yang difavoritkan meraih medali.
Ternyata saat di Olimpiade, saya tidak bisa tampil rileks seperti yang sudah saya terapkan dan pelajari di turnamen-turnamen sebelumnya. Saya kalah dari Rashid Sidek di perempat final, padahal sebelumnya saya sempat menang mudah lawan dia di pertemuan terakhir.
Ambisi bahwa saya ingin menunjukkan kepantasan saya tampil di Olimpiade muncul kembali. Hal itu membebani saya. Kegagalan meraih medali di Olimpiade adalah salah satu hal yang mengganjal dalam karier saya. Andai saya bisa mendapat medali di Olimpiade, saya merasa karier saya bisa kelihatan lebih lengkap.
Di generasi saya pemainnya memang banyak sekali yang berkualitas. Andai tidak hadir di saat bersamaan, mungkin lebih enak. Mungkin gelar juara saya lebih banyak, hahahaha.
Namun dengan punya pemain berkualitas yang banyak di saat bersamaan, angkatan saya memiliki standar yang tinggi dan hal ini menguntungkan saat latihan. Kami bisa saling jegal di turnamen. Indonesia pun jadi punya banyak senjata dan amunisi di tiap turnamen. Kami saling sikut di turnamen namun hal ini bagus buat Indonesia.
Sebagai seorang pemain yang sempat akrab dengan kegagalan, saya melalui banyak proses. Sesuatu yang diraih tak semudah dibayangkan. Dalam perjalanan, tentu ada belokan, jalan terjal yang harus saya lalui untuk bisa mencapai puncak.
Prinsip yang coba saya pertahankan adalah keyakinan bahwa saya bisa jadi pemain yang bagus, bahwa saya punya kapasitas untuk menjadi pemain yang baik. Hal itu yang terus saya pupuk meski tentu tidak mudah untuk terus melakukannya.
Bila saat ini ada seorang pemain yang merasa susah juara seperti yang sempat saya alami, pola pikirnya harus diubah. Jangan terlalu memikirkan hasil. Jangan berpikir harus nomor satu. Yang perlu dipersiapkan justru adalah cara main yang matang.
Cara main misalnya memikirkan strategi A untuk kondisi tertentu, lalu nanti berubah jadi strategi B. Harus berpikir mengalir. Berusaha semaksimal mungkin dan jangan sampai terbebani ambisi ingin juara yang justru membuat pemain melupakan cara main yang telah disusun dengan baik sebelum pertandingan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Dari usia delapan tahun saya sudah menekuni badminton dengan serius. Di Solo saya bisa jadi juara di kategori pemula pada 1979. Di usia 13 saya bisa jadi juara Jawa Tengah.
Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika saya kelas 3 SMP. Di sekolah ada pengumuman sekolah diliburkan, tetapi tiap siswa diminta keluar ke Jl. Slamet Riyadi. Siswa diminta menyambut arak-arakan juara dunia Icuk Sugiarto.
Momen itu benar-benar terngiang-ngiang dalam ingatan saya. Saya sendiri sudah kenal Mas Icuk cukup lama, terutama karena Mas Icuk berteman dengan kakak saya dan kenal keluarga saya. Di PB Abadi, saya juga sudah sering melihat Mas Icuk meski usia kami terpaut jauh. Saya masih anak-anak, dia sudah dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat memenangi Wali Kota Cup, salah satu pencari bakat bernama Slamet Rudiyanto melihat saya. Saya ditawari pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan Tangkas. Pelita juga memberi tawaran pada saya, namun akhirnya saya pilih Tangkas.
Di Tangkas prestasi saya tidak sebagus saat saya masih di daerah. Mungkin karena sudah banyak pesaing. Saya sempat mau mundur, bahkan sudah pernah bermain di nomor ganda bersama Herry IP di awal 1985. Kami sempat masuk semifinal di kejuaraan di Surabaya dan Bandung.
Dalam situasi sulit itu, saya mendapat bimbingan dari Hadi Nasri. Mungkin beliau melihat potensi saya masih ada. Dari bimbingan beliau, saya bisa fokus dan ikut seleksi untuk tampil di Indonesia Open.
Joko Suprianto menyabet tiga gelar Piala Thomas bersama Indonesia. (Dok. Pribadi)
Saya lolos seleksi dan bisa tampil di Indonesia Open. Di Indonesia Open saya mampu mengalahkan Lius Pongoh dan Nick Yates hingga lolos ke perempat final. Prestasi ini yang kemudian mengantar saya masuk ke pelatnas.
Saya terbilang beruntung, mungkin memang itu rezeki saya. Saya punya kesempatan dan hal itu yang kemudian saya manfaatkan. Saat itu sudah ada proyek untuk Olimpiade 1992.
Di pelatnas saya masuk pratama. Meski saya anggota baru, umur saya terbilang sudah agak telat karena menjelang 20 tahun. Pemain lain seperti Ricky Soebagdja yang lebih dulu masuk saat itu masih 16 tahun.
Awalnya, saya masih ada di lapis dua. Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, Hermawan Susanto, Fung Permadi, dan Richard Mainaky masih jadi pemain yang diprioritaskan untuk Olimpiade 1992.
Setelah digembleng tiga bulan, Rudy Hartono yang waktu itu jadi pelatih melihat potensi saya. Akhirnya saya bergabung dengan pemain-pemain lain dan masuk proyeksi untuk Olimpiade 1992.
Menjadi pemain pelatnas tidak berarti segalanya menjadi mudah. Sejak 1985 hingga 1991, saya tidak pernah jadi juara. Bahkan saya sempat dijuluki Mr. Runner Up.
Saya beberapa kali masuk final namun selalu kalah. Benar-benar tidak pernah juara. Tidak ada gelar sama sekali, termasuk dari turnamen kecil.
Akhirnya kebuntuan itu pecah di tahun 1992, tepatnya di turnamen Swiss Open. Saya masuk final bertemu Hariyanto Arbi. Saya pecah telur di turnamen itu dan akhirnya bisa jadi juara.
Dalam kegagalan demi kegagalan itu, saya merasa terlalu memikirkan hasil. Saya terlalu berambisi untuk jadi yang terbaik. Hal itu justru membuat saya tak bisa mengontrol permainan sehingga akhirnya fisik terkuras. Kegagalan demi kegagalan juga membuat trauma kekalahan sering muncul.
Di final Swiss Open, saya mencoba lebih tenang. Saya coba menikmati pertarungan. Saya coba menampilkan hal yang berbeda setelah di turnamen terdahulu saya lebih sering tegang di kamar sebelum final.
Gagal Lolos ke Olimpiade, Juara Dunia Setelahnya
Meski tak pernah juara dalam rentang waktu yang lama, peringkat dunia saya bagus dan berada di 10 besar. Saat itu Indonesia diyakini bisa meloloskan tiga wakil ke Olimpiade Barcelona 1992.
Beberapa bulan sebelum Olimpiade, peringkat saya ada di bawah Ardy dan Alan. Sebelum kejuaraan di Jerman dan Belanda, saya nomor tiga.
Kondisi saat itu berbeda dengan sekarang. Peringkat dunia tidak bisa dicek setiap saat seperti saat ini, yang bisa dengan mudah dilihat lewat handphone setiap saat. Saya pikir saat itu sudah lolos ke Olimpiade dan tidak berangkat ke Jerman dan Belanda.
Hermawan berangkat ke turnamen itu dan mendapat hasil bagus. Posisi saya akhirnya tergeser oleh Hermawan.
Tentu sedih juga karena tiap pemain ingin tampil di Olimpiade. Saya mendapat masukan dan semangat dari orang tua, pelatih, dan mantan pelatih. Intinya, saya tidak boleh kehilangan motivasi hanya karena kejadian ini.
Saya lalu berpikir bahwa hal ini sudah terjadi. Saya tak berpikir untuk menyerah dan pensiun karena saya sudah merasakan nikmat berdiri di podium tertinggi. Saya ingin mengulangi hal itu.
Setelah gagal lolos ke Olimpiade, saya berlatih lebih keras. Setelah Subuh saya mulai latihan, entah itu latihan lari atau footwork. Hari Kamis dan Minggu saat latihan libur saya pergunakan untuk memperkuat otot kaki dan otot perut. Bagi saya yang terpenting menambah jam latihan dari latihan reguler yang didapat.
Saya bisa jadi juara Badminton World Cup 1992. Di final saya mengalahkan Hermawan. Saya ingin menunjukkan bahwa saya juga bisa berprestasi di turnamen besar seperti Badminton World Cup.
Jangan lewatkan cerita Joko Supriyanto merasa telat matang di badminton pada halaman kedua.
Joko Suprianto Menuju Kematangan
Joko Suprianto dianggap telat matang di bulutangkis Indonesia. (AFP/TOMMY CHENG)
Usai jadi juara Badminton World Cup, saya lebih yakin pada diri saya sendiri di usia yang sudah menginjak 26 tahun.
Banyak yang bilang saya telat matang. Memang saya merasa saya lebih menikmati permainan di usia 26. Saya lebih matang di lapangan, beda dengan tahun-tahun sebelumnya saat saya kurang menikmati.
Di 1993 saya kalah dari Hariyanto Arbi di final All England. Kekalahan itu saya jadikan motivasi untuk tampil bagus di Kejuaraan Dunia 1993. Saya ingin membuktikan bisa kembali meraih juara di kejuaraan besar macam Kejuaraan Dunia.
Kunci keberhasilan saya di Kejuaraan Dunia 1993 sebetulnya ada di babak semifinal saat bertemu Ardy. Saya selalu kalah dari Ardy bila bertemu sebelumnya namun kali itu saya lihat Ardy yang justru lebih menanggung beban mental.
Setelah bisa mengalahkan Ardy, saya menghadapi Hermawan di babak final. Dari segi kepercayaan diri, saya lebih yakin ketika bertemu Hermawan.
Kejuaraan Dunia 1993 bersama Piala Thomas yang tiga kali saya ikut menangi untuk Indonesia adalah sebuah pengalaman terindah dalam karier saya sebagai pemain badminton. Saya juga bisa jadi pemain nomor satu dunia pada 1993 hingga 1996 meski sempat beberapa saat digeser Hariyanto Arbi.
Joko Suprianto beberapa kali menyabet gelar juara dunia bulutangkis. (TOMMY CHENG / AFP)
Di Olimpiade 1996, saya mengalami kekecewaan karena gagal meraih medali Olimpiade. Jelang Olimpiade saya sebetulnya jadi salah satu pemain yang difavoritkan meraih medali.
Ternyata saat di Olimpiade, saya tidak bisa tampil rileks seperti yang sudah saya terapkan dan pelajari di turnamen-turnamen sebelumnya. Saya kalah dari Rashid Sidek di perempat final, padahal sebelumnya saya sempat menang mudah lawan dia di pertemuan terakhir.
Ambisi bahwa saya ingin menunjukkan kepantasan saya tampil di Olimpiade muncul kembali. Hal itu membebani saya. Kegagalan meraih medali di Olimpiade adalah salah satu hal yang mengganjal dalam karier saya. Andai saya bisa mendapat medali di Olimpiade, saya merasa karier saya bisa kelihatan lebih lengkap.
Di generasi saya pemainnya memang banyak sekali yang berkualitas. Andai tidak hadir di saat bersamaan, mungkin lebih enak. Mungkin gelar juara saya lebih banyak, hahahaha.
Namun dengan punya pemain berkualitas yang banyak di saat bersamaan, angkatan saya memiliki standar yang tinggi dan hal ini menguntungkan saat latihan. Kami bisa saling jegal di turnamen. Indonesia pun jadi punya banyak senjata dan amunisi di tiap turnamen. Kami saling sikut di turnamen namun hal ini bagus buat Indonesia.
Sebagai seorang pemain yang sempat akrab dengan kegagalan, saya melalui banyak proses. Sesuatu yang diraih tak semudah dibayangkan. Dalam perjalanan, tentu ada belokan, jalan terjal yang harus saya lalui untuk bisa mencapai puncak.
Prinsip yang coba saya pertahankan adalah keyakinan bahwa saya bisa jadi pemain yang bagus, bahwa saya punya kapasitas untuk menjadi pemain yang baik. Hal itu yang terus saya pupuk meski tentu tidak mudah untuk terus melakukannya.
Bila saat ini ada seorang pemain yang merasa susah juara seperti yang sempat saya alami, pola pikirnya harus diubah. Jangan terlalu memikirkan hasil. Jangan berpikir harus nomor satu. Yang perlu dipersiapkan justru adalah cara main yang matang.
Cara main misalnya memikirkan strategi A untuk kondisi tertentu, lalu nanti berubah jadi strategi B. Harus berpikir mengalir. Berusaha semaksimal mungkin dan jangan sampai terbebani ambisi ingin juara yang justru membuat pemain melupakan cara main yang telah disusun dengan baik sebelum pertandingan.