TESTIMONI

Mission Impossible Rexy Mainaky

Rexy Mainaky, CNN Indonesia | Rabu, 19/08/2020 19:11 WIB
Rexy Mainaky tak berminat jadi pemain badminton namun akhirnya pensiun dengan status juara dunia, juara Olimpiade, juara All England. Rexy Mainaky melalui perjalanan yang sulit hingga akhirnya bisa jadi legenda badminton Indonesia. (Photo by STEPHEN SHAVER / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya dibesarkan di keluarga yang mencintai olahraga dari pasangan Jantje Rudolf Mainaky dan Venna Mainaky. Papa adalah sosok yang gemar olahraga. Karena itu beliau juga menekankan pada anak-anak untuk berolahraga apa saja. Papa dan Mama mengarahkan kami untuk berolahraga agar kami tidak salah arah.

Di lingkungan kami, banyak anak muda suka minum minuman keras. Kalau sudah minum, mabuk, dan akhirnya ribut. Papa tak mau kami jadi seperti itu. Orang tua tidak mau kami kehilangan arah.

Di badminton kami sudah diajarkan memegang raket dengan benar dan cara memukul. Di antara kami, Richard dan Rionny adalah anak yang benar-benar lebih dulu serius menekuni badminton. Saat itu, saya masih lebih banyak menghabiskan waktu di luar lapangan badminton.


Jelas saat itu saya tidak terpikir impian ingin jadi seperti siapa, memiliki mimpi seperti apa. Meski saya nonton Rudy Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat, dan Christian Hadinata, saya hanya menonton saja. Tidak ada antusiasme di dalam diri.

Namun bila saya menonton Piala Dunia, antusiasme dalam diri saya justru terasa. Hal itu terbawa saat bermain, saya bisa membayangkan ingin jadi pemain level dunia.

Saya memang tetap menemani Richard dan Rionny latihan. Misalnya saya diminta untuk membantu latihan bertahan dengan cara melakukan smes. Saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Saya melompat tinggi dan melakukan smes. Tetapi saat diminta melakukan itu selama 10 menit, begitu 10 menit selesai, saya langsung pergi main sepak bola.

Indonesia men's double players, Rexy Mainaky makes a backhand return in the quarter final of JVC Asian Badminton Championship at the Senayan indoor stadium in Jakarta, 03 November 2000.  Mainaky will start a new career as a coach of the England's national team next year.   AFP PHOTO/Amin (Photo by AMIN / AFP)Cinta pertama Rexy Mainaky bukan pada badminton melainkan sepak bola. Ia bisa sangat antusias bermain dan menonton laga Piala Dunia. (AFP/AMIN)

Kalau malam tiba saya lebih suka melihat Rionny dan Richard bermain badminton bersama teman-teman di lapangan belakang rumah. Saya baru bermain kalau orangnya kurang. Kalau orangnya lengkap, saya hanya menonton mereka main. Bila saya main, saya bakal dibuat jadi bahan guyonan di lapangan.

Suatu waktu, Papa saya masuk kamar dan menjanjikan untuk memberikan hadiah bila saya berhasil masuk peringkat 10 besar.

Saya belajar dengan serius dan berhasil masuk 10 besar. Papa pikir saya akan meminta raket, ternyata saya meminta sepatu sepak bola dan kaos kaki. Dengan status sebagai pegawai negeri biasa, papa mewujudkan harapan saya dengan menelepon ke toko olahraga dan saya disuruh ambil hadiah tersebut. Papa saya mengutang dan baru dibayar ketika akhir bulan tiba.

Perkembangan di sepak bola juga sebenarnya tidak mengarah ke level yang serius. Saya memang ikut kompetisi antardaerah, namun kondisinya sulit. Papa saya tak mau saya terus berada di situasi seperti itu. Papa lalu berbicara pada saya.

"Di sepak bola, bila ada 11 pemain belum tentu juara. Kalau tim kompak bakal jadi bagus, tetapi bila tidak kompak bakal kacau balau."

"Sedangkan di badminton, sudah tercatat nama Rudy Hartono, Liem Swie King, Tan Joe Hok. Kalau kamu bisa jadi juara nasional di badminton, kamu punya kemungkinan untuk jadi juara dunia. Karena badminton Indonesia sudah dikenal dunia."

Begitu kata Papa saya. Papa saya juga tidak langsung menuntut saya untuk langsung memberi keputusan. Namun ternyata tak butuh waktu lama, saya kemudian lebih serius menekuni badminton dan sudah menyerah soal sepak bola. Momen itu terjadi di usia 14 tahun.

Saya lalu ikut seleksi se-Maluku untuk bisa jadi wakil di Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI). Saya berhasil terpilih jadi wakil Maluku untuk POPSI. Di POPSI, saya kalah dari atlet asal Yogyakarta, Surabaya dan akhirnya gagal lolos dari penyisihan grup.

Namun tanpa disangka, Maluku mengirim usulan agar saya bisa berlatih di Sekolah Atlet Ragunan. Mereka ingin saya dibimbing dan dipantau sedangkan soal biaya pembinaan bakal jadi tanggung jawab Maluku.

Dari Ternate, lalu saya terbang ke Ambon. Awalnya, saya disebut hanya perlu menunggu satu bulan sebelum ke Jakarta pada 1985. Namun saya baru berangkat ke Jakarta enam bulan kemudian. Saya merasa rugi karena sekolah saya sempat terlantar.

Saya akhirnya bisa berangkat ke Jakarta. Richard lalu menjemput saya dan kemudian membawa ke Ragunan. Saya berlatih, menunjukkan keseriusan sehingga akhirnya saya bisa menjadi penghuni tetap di Ragunan.

Kabid Binpres PBSI, Rexy Mainaky. (CNN Indonesia/Putra Tegar)Setelah serius menekuni badminton, Rexy Mainaky terpilih jadi wakil Maluku di POPSI dan akhirnya masuk Sekolah Atlet Ragunan. (CNN Indonesia/Putra Tegar)

Di 1986 saya sempat bertemu dan mengalahkan Ricky Soebagdja di Kejurnas. Saat itu Ricky sudah disebut sebagai pemain masa depan. Namun saya tak berhasil jadi juara karena kalah dari Faris/Nunung yang saat itu memang juara di berbagai turnamen.

Setelah itu saya makin semangat latihan. Saya mewakili Indonesia di Kejuaraan Pelajar ASEAN di Singapura. Saya main di tunggal putra dan ganda putra dan berhasil jadi juara. Sayang, tak boleh main di tiga nomor. Kalau boleh, mungkin saya juara juga di ganda campuran hahaha..

Ditempa Keras Ibu Kota, Diabaikan Pelatnas PBSI

Sesudah tamat sekolah, seharusnya saya masuk PB Djarum. Om Darius Pongoh sudah telepon Richard dan meminta saya masuk Djarum. Saya dan Richard sudah hampir sampai di tempat latihan PB Djarum di Petamburan. Kami berdua sudah masuk ke belokan Petamburan lalu Richard ditelepon Om Justian Suhandinata,

"Saya tak mau tahu, adik kamu harus masuk Tangkas," begitu kata Om Justian di telepon.

Akhirnya Richard tak bisa kasih keputusan. Padahal saat itu saya sudah senang banget bisa masuk Djarum. Richard sempat berbicara dengan Om Darius untuk berunding dan di satu sisi Richard terus ditekan sama Om Justian. Ya sudah, saya masuk Tangkas.

Namun ternyata saat masuk Tangkas, tiga tahun saya tidak tinggal di asrama, jadi saya harus tinggal di Depok. Sedangkan latihan di Ancol. Padahal kalau di PB Djarum, saya sudah masuk asrama.

Bayangkan, zaman dulu saya harus naik bus dari Depok menuju tempat latihan di Ancol. Saya berangkat jam 05.00 pagi, dan baru pulang sampai Depok pukul 02.00 dini hari.

Latihan pagi dan sore, dan tiap hari saya harus cari jalan untuk bisa makan karena uang yang saya punya hanya cukup untuk ongkos transportasi. Jadi, makan tinggal menunggu belas kasihan orang.

Puji Tuhan, setiap hari ada saja jalannya. Ada saja pelatih yang bertanya dan mengajak makan.

Tentu kalau tidak makan, saya akan kesulitan di latihan sore. Sedangkan kalau tidak makan lalu lanjut tidak latihan sore, malah saya merasa jadi rugi dua kali karena sudah tidak makan ditambah lagi tidak latihan. Karena itu kalau kebetulan tidak makan, modal nekat saja untuk tetap latihan.

Sampai waktu pulang latihan, kadang saya dan Rionny makan di warung mie rebus pinggir jalan.

"Bang, utang dulu, kalau ada duit baru saya bayar."

Begitu kata saya. Karena sudah lama kenal, jadi saya boleh utang. Yang terpenting bagi saya saat itu adalah makan, tak apa tanpa makan nasi. Terkadang mie rebus itu yang jadi bekal tenaga untuk latihan esok pagi.

Di Depok saya tinggal di rumah saudara dari Papa. Karena menumpang, tentu saya juga harus bantu-bantu. Saya tentu tidak mau hanya numpang tidur, karena itu ikut bantu bersih-bersih. Jadi begitu sampai rumah, saya kadang cuci baju, cuci piring. Terkadang baru selesai jam 04.00 pagi.

Pelatih ganda campuran Indonesia, Richard Mainaky. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)Richard Mainaky lebih dulu lolos jadi pemain pelatnas dan ikut memantau perkembangan Rexy Mainaky. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)

Tidur sebentar lalu berangkat lagi. Mental saya makin terbentuk di momen itu. Saya terus ditempa untuk berjuang dan bisa survive di kondisi yang sulit.

Lucunya selama tiga tahun di luar saya dan Rionny banyak memberikan gelar untuk Tangkas. Sedangkan pemain-pemain yang menghuni asrama justru amburadul.

Kehidupan selama tiga tahun itu benar-benar sulit dan keras. Karena itu ketika saya jadi pemain nasional, lawan siapapun saya tak lagi takut. Latihan sesulit apapun saya jalankan. Saya beranggapan bahwa dalam kehidupan yang sulit pun saya bisa lewati, jadi pada kondisi lain tentu saya bisa bertahan dan tak boleh saya sia-siakan.

Meski berprestasi, saya sempat down dan mau berhenti dari badminton. Saya berkeinginan untuk sekolah lalu pulang kampung. Hal itu terjadi karena saya tidak dipanggil pelatnas, padahal saya sudah juara DKI Jakarta, juara seleksi nasional, tetapi tak juga dipanggil pelatnas.

Saya berpasangan dengan Rionny dan juara seleksi nasional. Tetapi yang dipanggil justru pemain yang hanya sampai delapan besar. Ada sistem like and dislike. Dominasi di PBSI saat itu Pelita Jaya. Pelita Jaya bisa disebut big rival Tangkas. Jadi tentu mana mau mereka bila orang Tangkas lebih banyak masuk pelatnas.

Sistem saat itu tidak adil karena banyak pemain bagus tidak diberi kesempatan. Jadilah Indonesia terpuruk. Cuma ada Eddy Hartono/Gunawan yang bagus di ganda putra.

Pernah di Indonesia Open saya menang atas Fung Permadi. Saat itu saya dijanjikan kalau saya menang lawan Fung, esoknya saya diberi surat masuk pelatnas. Saya menang, namun tidak dipanggil juga.

Bertemu Christian Hadinata, Ditinggal Papa Tercinta

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2