Liliyana Natsir dan Rasa Lapar Gelar yang Mengakar

x, CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 13:25 WIB
Bukan hanya soal teknik dan mental yang bisa dicontoh dari Liliyana Natsir, melainkan juga soal lapar gelar yang terbilang mengakar. Liliyana Natsir sudah pensiun dari badminton pada 2019. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Liliyana Natsir memang hebat soal urusan teknik di lapangan badminton. Namun satu lagi yang perlu dicontoh dari sang legenda adalah rasa lapar gelar miliknya yang terlihat benar-benar mengakar.

Salah satu tantangan terberat seorang pemain adalah mempertahankan rasa lapar gelar, menjaga keinginan untuk memenangkan kejuaraan.

Hal ini memang terasa aneh karena kemenangan akan selalu menyenangkan dan mustahil seorang atlet tidak gembira bila terus berselancar di gelombang kejayaan.


Dalam ucapan dan lisan, keinginan untuk mempertahankan dan merebut banyak gelar akan sangat mudah diucapkan, sangat gampang dikeluarkan. Namun yang terberat dalam menjaga lapar adalah mendefinisikan tekad itu dalam perbuatan di keseharian.

Sebagai pemain, Liliyana Natsir sudah menjadi juara dunia di usia 19 tahun pada 2005. Di satu sisi ini adalah prestasi yang mengejutkan, namun di balik itu ada beban besar yang ditanggung oleh Liliyana.

Liliyana Natsir (L) and Nova Widianto of Indonesia play against Sudket Prapakamol and Thoungthongkam Saralee of Thailand in their mixed doubles quarter-final badminton match during the 2008 Beijing Olympic Games at the Beijing University of Technology Gymnasium on August 14, 2008. Natsir and Widianto won the match 21-13, 21-19.   AFP PHOTO/Indranil MUKHERJEE (Photo by INDRANIL MUKHERJEE / AFP)Liliyana Natsir sudah jadi juara dunia sejak 19 tahun namun tak kehilangan rasa lapar gelar. (AFP PHOTO/Indranil MUKHERJEE)

Perjalanan Liliyana Natsir selanjutnya sudah menjadi jawaban bahwa betapa gelar-gelar bergengsi di awal karier tak menyurutkan keganasan Liliyana untuk terus berprestasi di tahun-tahun yang terus berjalan.

Dalam perjuangan merebut gelar demi gelar bergengsi mulai dari juara dunia empat kali, hattrick All England, dan emas Olimpiade tersebut, kemenangan bukan hanya ditentukan oleh mental dan teknik Butet di lapangan.

Jauh dari sebelum hari H pertandingan, Liliyana Natsir sudah meniti tangga menuju kemenangan lewat komitmen dan konsistensi dalam latihan.

Pelatih ganda campuran, Richard Mainaky sudah berkali-kali menegaskan bahwa Liliyana adalah sosok yang sangat serius dalam menjaga diri dan mempersiapkan latihan untuk menghadapi pertandingan demi pertandingan. Liliyana bahkan sempat protes ketika ia mendapatkan keringanan dalam program latihan pada persiapan menuju Olimpiade 2016.

Perselisihan yang sempat terjadi antara Tontowi dan Liliyana pun erat kaitannya dengan rasa tak mau kalah yang dimiliki oleh Butet.

Gold medalists Indonesia's Tontowi Ahmad (L) and Indonesia's Liliyana Natsir hold their medals on the podium following the mixed doubles Gold Medal badminton match at the Riocentro stadium in Rio de Janeiro on August 17, 2016, at the Rio 2016 Olympic Games. (Photo by GOH Chai Hin / AFP)Tontowi/Liliyana sukses jadi juara Olimpiade. (GOH Chai Hin / AFP)

Liliyana tidak memposisikan diri sebagai penguasa ganda campuran yang sudah aman dari berbagai ancaman. Liliyana selalu menjadikan dirinya sebagai penguasa yang resah, yang selalu waspada dan tak pernah lengah lantaran kemenangan bisa melayang hanya lantaran kesalahan kecil di momen yang menentukan.

Karena itu, Liliyana bakal resah ketika ia kalah. Rasa tak mau kalah dan lapar gelar yang dimilikinya sudah mengakar, menjalar di tiap-tiap aspek kehidupannya.

Liliyana Natsir tentu pernah menelan kekalahan. Liliyana Natsir tentu pernah tenggelam dalam kekecewaan.

Nyaris mustahil seorang atlet tidak pernah menelan kekalahan. Namun memegang tekad tak mau kalah dengan perwujudan komitmen kuat di keseharian seharusnya sudah menjadi keharusan.

Dan untuk melakukan itu, Liliyana Natsir adalah salah satu contoh terbaik yang pernah ada.

Selamat ulang tahun, Liliyana Natsir!

(ptr/sry)

[Gambas:Video CNN]