WAWANCARA EKSKLUSIF

Susy Susanti: Kevin/Marcus Trauma Kejuaraan Dunia

x, CNN Indonesia | Sabtu, 10/10/2020 10:05 WIB
Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Kabid Binpres PBSI Susy Susanti terkait prestasi badminton Indonesia empat tahun terakhir. Susy Susanti jadi Kabid Binpres PBSI 2016-2020. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia --

Susy Susanti merupakan Kabid Binpres PBSI. Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Susy Susanti terkait prestasi badminton Indonesia empat tahun terakhir.

Sebagai pemain Susy Susanti adalah legenda. Saat ini Susy Susanti masih menjabat sebagai Kabid Binpres PBSI 2016-2020. Bagaimana pandangan Susy terhadap prestasi badminton Indonesia, berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Susy:

1. Bagaimana Anda akhirnya menyetujui jadi Kabid Binpres setelah selalu menolak masuk struktur organisasi PBSI?


Waktu zaman Pak Gita Wirjawan, saya memang diminta jadi Kabid Binpres, namun karena kesibukan saya, anak saya masih kecil, ketiga-ketiganya masih di Indonesia, otomatis saya menolak.

Karena keterbatasan saya saat itu, saya menolak. Saya tak mau bila kerja hanya setengah-setengah. Bila saya terima suatu tugas, saya harus total. Saya tak mau asal janji.

Saat zaman Pak Gita, akhirnya saya hanya menjadi staf ahli PBSI.

Pada saat Pak Wiranto terpilih, saya diminta jadi Kabid Binpres, akhirnya saya bilang 'Oke Pak'. Saat itu dua anak saya sudah sekolah di luar negeri. Anak yang paling kecil pun sudah masuk SMA. Jadi sudah bisa ditinggal.

Susy SusantiSusy Susanti akhirnya menerima tawaran jadi Kabid Binpres PBSI setelah sebelumnya sempat tak mau masuk organisasi lantaran masih fokus pada anak. (CNN Indonesia/Artho Viando)

Saya punya prinsip bila menerima tugas harus total, kalau tidak bisa total, lebih baik tidak. Sebelumnya saya menilai keluarga harus didahulukan karena masa anak-anak tidak mungkin terulang. Saya menikmati kesibukan saya mengurus dan melihat perkembangan anak.

2. Apa kesan Anda pertama kali saat duduk sebagai Kabid Binpres?

Saya selalu melihat dari sisi positif, jadi hal baik dari kepengurusan sebelumnya dilanjutkan. Bila ada yang kurang dibenahi. Mungkin contohnya pembagian tugas, koordinasi, penanganan atlet, program latihan. Bagi saya, kerja sama harus baik.

3. Apakah tidak takut jabatan Kabid Binpres mencoreng nama besar Susy Susanti saat itu?

Saya tidak takut soal nama besar. Kalau kerja saya bisa total, apapun hasilnya, saya terima. Kalau saya tidak melakukan hal negatif kenapa mesti takut. Orang bisa gagal, bisa berhasil. Yang terpenting bagi saya adalah berusaha dan jalan tetap lurus.

Fokus saya adalah bagaimana membangun prestasi, kerja sama, koordinasi, mengayomi pemain, memberikan semangat, dan menyusun program. Saya tidak berpikir ke sana [nama besar], karena saya selalu berpikir positif.

Saat masih jadi atlet pun saat itu saya tidak tahu ke depannya seperti apa. Yang terpenting adalah mencoba tetapi dengan kesungguhan. Bagi saya kalau kita mau kerja keras, kita pasti dapat hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Saya percaya sesuatu hal yang baik akan menghasilkan yang baik. Begitu juga sebaliknya. Saya percaya jalan Tuhan.

4. Kevin/Marcus jadi atlet paling melejit di kepengurusan ini. Bagaimana komentar Anda?

Setiap pemain masing-masing ada masanya. Saya melihat permainan, lalu dari kematangan mereka, mereka memang pantas mendapatkan itu. Bila melihat latihan keseharian mereka, mereka memang punya karakter juara. Juara itu tidak hanya lahir karena bakat, tetapi juga karena ada kemauan.

Jadi ketika latihan saja mereka sudah seperti saat pertandingan. Bagaimana bila mereka bertanding dalam pertandingan sesungguhnya? Nah, itu sudah kelihatan dari karakter dan keseharian. Apapun yang dikasih pelatih, mereka benar-benar serius. Latihan bukan sekadar latihan.

Bila mereka merasa kurang, pasti minta tambah porsi latihan ke pelatih. Melihat kesadaran, kemauan, dan perjuangan mereka, saya tahu mereka bisa juara.

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di French Open. (dok. PBSI)Kevin/Marcus meraih banyak gelar namun belum mampu jadi juara dunia. (dok. PBSI)

5. Lalu mengapa Kevin/Marcus masih gagal jadi juara dunia meski banyak meraih gelar di tiap tahun?

Mereka masih agak mentok di Kejuaraan Dunia. Tidak bisa melewati babak awal. Saya melihat hal itu lebih ke non-teknis. Jadi mereka seperti ada trauma di Kejuaraan Dunia. Mereka selalu kalah di babak awal. Nah, saya berharap mereka bisa mengubah mindset mereka.

Menurut saya karena mereka pernah kalah di babak awal waktu Kejuaraan Dunia, mereka bertanya-tanya apakah bisa melewati babak awal di Kejuaraan Dunia berikutnya.

Kepercayaan diri mereka di kejuaraan dunia justru agak goyah karena trauma. Itu yang harus dibuang karena secara kemampuan mereka bisa. Karena kendala di faktor non-teknis, mereka harus bisa memulai dari nol lagi, jangan mengingat yang lalu.

Jangan sampai sugesti, "Aduh kejuaraan dunia..." karena itu yang bakal terjadi. Itu yang harus dibuang, harus berpikir positif.

6. Apakah Indonesia sukses di Asian Games 2018?

Pastinya sukses menurut saya. Untuk waktu itu bisa dibilang kami mengembalikan kepercayaan dan popularitas badminton ke masyarakat. Itu bukan kesuksesan saya, tetapi itu juga sukses untuk bulutangkis keseluruhan.

Sebelumnya kurang banyak yang menonton badminton karena prestasi tahun-tahun sebelum-sebelumnya kurang baik. Mungkin setelah era saya, era Taufik Hidayat jadi era terakhir ramai penonton.

Setelah itu agak turun prestasinya, waktu Owi/Butet juara Olimpiade, euforia sudah mulai tetapi hanya begitu-begitu saja.

Di kepengurusan Pak Wiranto, puncaknya di Asian Games. Sukses penyelenggaraan apalagi sukses prestasi. Khususnya di bulutangkis sampai tiketnya susah minta ampun. Pemain saja susah dapat tiket untuk keluarga. Kesuksesan untuk semua, kesuksesan untuk popularitas badminton dan untuk Indonesia.

Indonesia juara, Indonesia sukses, saya tak merasa itu hanya sukses saya. Sukses itu adalah kerja tim, kerja atlet. Saya hanya mendampingi, mengayomi, membantu, memberi semangat.

Itu adalah kesuksesan Indonesia, karena saya kerja di sini untuk Indonesia.

Ganda Putra Kevin Sanjaya S/Marcus F Gideon berhasil mengalahkan pasangan Fajar Alfian/M Rian Ardianto di final Ganda Putra Bulutangkis Asean Games 2018. Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018. Indonesia berhasil menambah medali emas dan perak setelah berhasil memasukan dua pasangan ganda putra di final bulutangkis. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)All Indonesian Final terjadi di nomor ganda putra Asian Games. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

7. Bagaimana tanggapan Anda waktu Ahsan/Hendra tak terpilih main di nomor ganda putra Asian Games meski berstatus sebagai juara bertahan?

Saya percaya dengan pelatih. Kalau saya sudah memilih pelatih, berarti saya percaya dan tinggal melihat hasilnya. Dan ternyata kepercayaan saya tidak sia-sia. Komunikasi kami selalu baik, kami terus diskusi. Kalau alasannya masuk akal tak mungkin saya menolak karena kami juga melihat dari keseharian.

Tidak ada pemilihan pemain dengan pertimbangan yang aneh-aneh. Kami berpikirnya cuma satu, hanya demi Indonesia. Saya percaya pelatih. Pelatih memberikan kepercayaan pada atlet. Pelatih mengayomi pemain, saya mengayomi pelatih dan pemain.

Bagi saya pokoknya jangan mau kalah sampai titik darah penghabisan saat main di lapangan. Kalau hasil akhirnya kalah, saya yang tanggung jawab.

8. Bagaimana pertimbangan membiarkan Ahsan/Hendra tetap latihan di pelatnas meski sudah berstatus profesional di 2019?

Itu karena ada komunikasi. Kami tahu bahwa mereka panutan dan contoh bagi adik-adiknya. Dari prestasi dan karakter, saya salut dan senang dengan mereka.

Waktu itu Ahsan/Hendra memberi alasan kenapa mereka mau main profesional, jadi saya bisa terima. Karena ada beberapa hal yang membuat mereka harus bermain profesional. Kalau ikut liga badminton otomatis mereka tidak boleh berstatus pemain pelatnas karena sudah aturannya seperti itu.

Saya lalu berkata bahwa saya mengerti alasan mereka. Kalau memang tawaran bidding tinggi, ya sudah tidak apa-apa untuk berstatus pemain profesional.

Lalu saya bicarakan pada pimpinan karena selama ini dua pemain ini jadi panutan. Lalu saya berkata,"Bagaimana kalau kamu tetap latihan di sini saja?"

Mereka menjawab,"Wah dengan senang hati".

Kalau jadi pemain profesional, biasanya tentu semua harus mengurus sendiri, termasuk memilih pelatih sendiri.

Karena Ahsan/Hendra terbuka, jadi kami bisa cari solusi. Karena sikap mereka bagus selama ini, jadi diizinkan tetap latihan di Cipayung meski statusnya profesional, dengan syarat ikut aturan PBSI. Tetapi untuk keberangkatan biaya sendiri.

Bagi saya, kita semua sama, termasuk pemain yang profesional. Contoh misal kami ke All England, lalu ada Tommy Sugiarto, pasti kami ajak untuk ikut undangan atau acara dari kedutaan. Lalu kami berikan pendampingan pelatih. Kami meminta Tommy memilih pelatih yang nyaman dan ia percaya untuk mendampinginya dari pelatih yang dibawa oleh pelatnas.

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan (kiri) berselebrasi dengan rekannya Hendra Setiawan usai mengalahkan lawannya asal China Taipei Lu Ching Yao dan Yang Po Han dalam pertandingan babak 16 besar Daihatsu Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (16/1/2020). Ganda putra Indonesia unggulan kedua itu menang dengan skor 21-19 dan 22-20. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.  *** Local Caption ***Ahsan/Hendra tampil bagus dengan jadi juara All England, Kejuaraan Dunia, dan BWF World Tour Finals di 2019. ( ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

9. Apa kunci keberhasilan Ahsan/Hendra di 2019? Apakah karena mereka tak lagi punya beban?

Karena mereka pemain senior. Di samping itu, semangat juang mereka. Mereka memang layak disebut panutan.

Saya selalu berbicara ke atlet lain,"Coba lihat Koh Hendra dan Kak Ahsan, mereka sudah juara tetapi mereka tetap disiplin. Mereka latihan tetap serius, secara etika mereka juga sopan."

Itu adalah juara sejati. Juara bukan hanya di lapangan tetapi di luar lapangan. Memang luar biasa.

Jonatan Terlena Euforia Asian Games 2018

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2