ANALISIS

Bisa Apa Barcelona Tanpa Messi?

CNN Indonesia | Selasa, 24/11/2020 19:11 WIB
Barcelona dilanda sejumlah permasalahan yakni tanpa Lionel Messi dan diterpa badai cedera jelang bertamu ke Dynamo Kiev di Liga Champions. Barcelona dilandai badai cedera plus Lionel Messi diistirahatkan melawan Dynamo Kiev. (AFP/LLUIS GENE).
Jakarta, CNN Indonesia --

Barcelona dilanda sejumlah permasalahan, termasuk tanpa Lionel Messi, jelang bertamu ke Dynamo Kiev di matchday keempat Liga Champions.

Pelatih Ronald Koeman sudah menyatakan tak akan menyertakan kapten mereka itu melawan Kiev. Nama Frenkie De Jong juga tak ada dalam daftar skuad yang dibawa ke Ukraina.

Koeman beralasan keduanya telah memainkan banyak pertandingan. Sementara di depan, jadwal begitu padat sudah menanti.


"Kami memutuskan tidak membawa Leo atau De Jong karena situasi di Liga Champions bagus dan mereka bisa istirahat. Mereka telah memainkan banyak pertandingan," ujar Koeman seperti dilansir Marca.

Masalahnya, Blaugrana juga dilanda badai cedera. Dimulai dari bek muda asal Uruguay, Ronald Araujo yang cedera beberapa minggu lalu, serta Samuel Umtiti yang juga belum kunjung pulih. Keduanya sejak awal sudah diragukan tampil melawan Kiev.

Daftar itu tambah panjang setelah dua bek mereka, Sergi Roberto dan Gerrard Pique ikut-ikutan cedera. Keduanya mengalami cedera saat kalah melawan Atletico Madrid akhir pekan kemarin.

Praktis Barcelona hanya punya satu bek tengah, yakni Clement Lenglet saat menghadapi Kiev. Koeman pun dikabarkan telah membawa bek dari tim B, Oscar Mingueza yang kemungkinan akan diduetkan bersama Lenglet di jantung pertahanan.

Sementara Sergio Busquets dan Ansu Fati sudah lebih dulu cedera. Keduanya sudah absen saat Barcelona bertandang ke Atletico.

Padahal selama ini Koeman selalu mengandalkan mereka. Busquets kerap menjadi pilihan utama sebagai satu dari dua pivot di tengah. Sedangkan Fati sering dipercaya menempatkan satu pos di lini serang.

Tentu kehilangan Fati sebuah kerugian besar. Pemain Spanyol berdarah Guinea-Bissau itu tengah menanjak.

Musim ini saja, dia sudah mencetak lima gol dari 10 kali penampilan. Empat gol di Liga Spanyol dan satu di Liga Champions.

Dia merupakan top skor Barcelona sementara ini di bawah Messi yang sudah mengoleksi enam gol dari 11 penampilan di seluruh ajang.

Koeman tentu harus putar otak dalam meracik strategi. Salah memainkan pemain bisa berakibat fatal.

Di depan Azulgrana memang masih punya stok pemain seperti Antoine Griezmann, Martin Braithwaite, Francisco Trincao, dan Ousmane Dembele.

Dari nama-nama itu, hanya Griezmann dan Dembele yang sudah beberapa kali jadi starter. Sedangkan Trincao, apalagi Braithwaite belum dipercaya sepenuhnya. Mereka kerap hanya turun di 15 atau 10 menit akhir pertandingan.

Barcelona's Lionel Messi, right, sits on the bench as Barcelona's head coach Ronald Koeman stands on the side line during the Spanish La Liga soccer match between FC Barcelona and Betis at the Camp Nou stadium in Barcelona, Spain, Saturday, Nov. 7, 2020. (AP Photo/Joan Monfort)Ronald Koeman memilih mengistirahatkan Lionel Messi dan Frenkie de Jong saat melawan Dynamo Kiev nanti. (AP/Joan Monfort).

Di lini tengah, Barcelona asuhan Koeman juga bermasalah. Dua jangkar dan satu playmaker yang dipasang Koeman belum efektif.

Pola yang selama ini tak pernah dipakai Barcelona bertahun-tahun itu tentu membuat para pemainnya butuh waktu--yang tak sedikit--untuk bisa bersatu menjadi kekuatan dalam fondasi menyerang maupun bertahan.

Jelas dalam beberapa pertandingan, terutama ketika bertemu tim besar, lini tengah Barcelona kerap kalah.

Lemahnya lini tengah tentu juga berdampak pada pertahanan Barcelona. Double pivot yang dipasang tak benar-benar bisa menjadi perisai bagi bek-bek mereka.

Itu terlihat ketika mereka menghadapi serangan balik. Baik Busquets, Pjanic, maupun De Jong kerap kelabakan. Ujung-ujungnya pertahanan Barcelona kocar-kacir.

Belum lagi dua bek sayap mereka jika terlambat turun maka akan membuat celah pertahanan yang terbuka semakin menganga.

Filosofi yang Hilang

Kondisi itu sejatinya sudah jelas terlihat ketika melawan Kiev di leg pertama Kamis (5/11) lalu.

Saat itu, Kiev yang dengan cepat melakukan serangan balik bisa membuat Pique cs kerepotan. Beruntung mereka punya kiper sekelas Marc-Andre ter Stegen yang berjibaku menghalau pemain Kiev mencetak gol sehingga keunggulan 2-1 tetap bertahan sampai akhir pertandingan.

Banner gif video highlights MotoGP

Hal sama juga terjadi ketika bertandang ke Stadion Wanda Metropolitano, Minggu (22/11) dini hari WIB kemarin.

Melawan Los Rojiblancos menunjukkan betapa Barcelona kalah di lini kedua dan gagap menghadapi serangan balik.

Bedanya, kali ini Ter Stegen membuat satu blunder fatal. Dia keluar jauh dari sarangnya untuk menghalau serangan balik Yannick Carrasco yang menerima umpan terobosan.

Alih-alih menghalau, Ter Stegen justru dikolongin Yarrasco yang kemudian tak kesulitan menceploskan bola ke gawang kosong.

Setelah gol itu, Barcelona makin kesulitan karena Atletico makin tenang dan tak terburu-buru dalam permainan. Di satu sisi Barcelona sama sekali tak mampu mengejar ketertinggalan.

Bahkan di beberapa momen, justru Atletico yang sangat apik memainkan tiki-taka, ciri khas permainan Barcelona di tahun-tahun lalu.

Atletico Madrid's Jose Gimenez clears the ball clear from Barcelona's Lionel Messi during the Spanish La Liga soccer match between Atletico Madrid and FC Barcelona at the Wanda Metropolitano stadium in Madrid, Spain, Saturday, Nov. 21, 2020. (AP Photo/Bernat Armangue)Barcelona kerap kerepotan saat menghadapi tim-tim besar. (AP/Bernat Armangue).

Barcelona seperti diajarkan Atletico bahwa tiki-taka masih efektif untuk membuat para pemain lawan sulit merebut bola.

Padahal Barcelona seharusnya yang lebih fasih memainkan tiki-taka, bukan justru kesana-kemari 'dikerjai' operan-operan pendek akurat para pemain Atletico.

Filosofi itu yang kini perlahan memudar dalam permainan Barcelona saat ini, terlebih Koeman mengubah pakem dari 4-3-3 menjadi 4-2-3-1.

Koeman terlihat tak memfokuskan ball possesion lagi pada para pemainnya. Secara permainan Barcelona kini kerap tanpa pola yang jelas. Mereka memang masih melakukan operan-operan pendek namun tampak berputar-putar tanpa tujuan.

Semua permasalahan itu, ditambah masalah internal pada manajemen Barcelona, menjadi jawaban mengapa Barcelona mencatatkan start terburuk dalam 25 tahun terakhir.

Tentu saja itu semua juga masih akan terlihat pada pertandingan melawan Kiev. Tanpa badai cedera dan absennya Messi saja di leg pertama, Kiev sudah menunjukkan betapa bahayanya mereka memanfaatkan peluang.

Koeman harus pintar meramu strategi dan memberi arahan jelas kepada para pemainnya agar bisa bermain bagus dan kompak melawan Kiev. Jika tidak, jangan harap mereka bisa membawa pulang tiga poin, karena satu poin saja sudah jadi hal yang sangat disyukuri.

(osc/jal)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK