TESTIMONI

Alan Budikusuma: Susy dan Pengantin Emas Olimpiade

Alan Budikusuma, CNN Indonesia | Rabu, 06/01/2021 19:02 WIB
Alan Budikusuma bercerita tentang perjalanan kariernya, tentang emas Olimpiade, dan tentunya tentang Susy Susanti. Alan Budikusuma mengukir segudang prestasi semasa masih aktif bermain. (Foto: AFP PHOTO / ALBERTO MARTIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya sudah diperkenalkan dengan badminton sejak masih lima tahun oleh orang tua. Awalnya bukan untuk jadi pemain, melainkan hanya sekadar iseng saja.

Klub pertama saya PB Rajawali, klub yang saya bela hingga umur sembilan. Saya juga mulai ikut kejuaraan antar sekolah SD di Surabaya. Saya bisa meraih peringkat ketiga. Dari titik itu, saya lebih giat untuk berlatih karena ternyata bisa punya prestasi setelah bermain badminton hanya sekadar iseng.

Setelah ikut kejuaraan antar sekolah, saya lebih semangat. Orang tua juga makin aktif mengikutkan saya pada kejuaraan di Jawa Timur. Mulai dari Pasuruan, Kediri, saya seperti keliling ikut turnamen saja.


Saat 10 tahun, saya pindah ke Suryanaga karena klub Rajawali sudah mulai bubar. Saya latihan di Suryanaga hingga 15 tahun sampai akhirnya ditarik Pak Rudy Hartono untuk dicoba latihan di klub Jaya Raya pada 1983.

Saya bisa ditarik ke Jaya Raya karena mampu masuk perempat final di POPSI. Saat SMA semester kedua, saya sudah mulai masuk Sekolah Atlet Ragunan.

Tahun 1985, saya pindah klub ke PB Djarum. Itu juga jadi titik saya mengalami kemajuan pesat dalam karier. PB Djarum punya nama besar karena melahirkan pemain-pemain macam Liem Swie King, Hastomo Arbi, dan Christian Hadinata. Gemblengan dari pelatih PB Djarum membuat saya jadi sosok yang berbeda.

Saya bisa masuk pelatnas pada 1985 setelah jadi runner-up Seleksi Nasional, kalah dari Hermawan Susanto. Saya diberi kesempatan PBSI untuk mengikuti latihan di Pelatnas yang saat itu masih dilakukan di Hall C Senayan. Atlet Pelatnas juga masih tinggal di Jalan Manila.

Mantan pebulutangkis nasional Susi Susanti (kiri)  dan suaminya Alan Budi Kusuma saat menghadiri acara Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015 di Medan, Sumatera Utara, Selasa (7/4). Susi dan suaminya Alan merupakan pasangan peraih medali emas nomor perseorangan bulutangkis Olimpiade Barcelona 1992.  ANTARA FOTO/Septianda Perdana/ss/mes/15Alan Budikusuma dan Susy Susanti bertemu saat berlatih di PB Jaya Raya. Alan kemudian pindah ke PB Djarum. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana/ss/mes/15)

Saat saya masuk, masih zaman kepengurusan Pak Ferry Sonneville. Baru setahun kemudian kepengurusan era Pak Try Sutrisno dimulai dan ada project menuju Olimpiade Barcelona 1992.

Sebagai pemain muda, saya masuk proyeksi menuju Olimpiade. Di 1985 hanya ada tiga orang. Setahun kemudian, mulai masuk pemain muda hingga 20-an orang. Makanya kemudian dibentuk pelatnas pratama.

Sebagai pemain baru di Pelatnas, saya sangat senang sekali. Saya adalah pemain asal daerah, tentu gembira bisa latihan di pelatnas dan berlatih bersama pemain yang sudah jadi juara All England dan juara dunia.

Pada 1987 saya mulai bisa jadi juara di Thailand Open, dari situ perkembangan karier saya terus berjalan. Saya bisa juara di berbagai tempat.

Empat tahun kemudian saya jadi runner-up Kejuaraan Dunia 1991. Persiapan saya menuju turnamen itu cukup baik. Bisa masuk final Kejuaraan Dunia merupakan sebuah kejutan.

Di babak final saya menghadapi Zhao Jianhua. Dari segi ranking dan pengalaman, dia jauh di atas saya. Dia lebih senior, lebih berpengalaman menghadapi final dibandingkan saya.

Secara pribadi tentu saya berharap bisa menjadi juara dunia karena saya selalu menganggap belum tentu sebuah kesempatan datang dua kali. Namun dalam final Kejuaraan Dunia tentu ada ketegangan dan keinginan besar yang berubah jadi tekanan. Zhao Jianhua ada di atas saya dalam mengatasi hal tersebut.

Hancur di Piala Thomas 1992

Tahun 1991 juga menandai setahun jelang Olimpiade. Kami, pemain-pemain Indonesia sudah mulai kejar-kejaran untuk bisa masuk babak kualifikasi. Saya, Ardy B. Wiranata, Joko Suprianto, dan Hariyanto Arbi yang saat itu masih muda ikut bersaing.

Untuk bisa meloloskan tiga wakil, Indonesia harus menempatkan tiga wakil itu di peringkat lima besar. Sedangkan untuk dua wakil, keduanya harus ada di delapan besar.

Saya punya keyakinan, namun saya tidak mau menganggap remeh dalam menghadapi persaingan perebutan tiket. Saya percaya hal itu bakal berbahaya karena bisa membuat peringkat saya malah jatuh.

Saya yakin bahwa Olimpiade 1992 bakal jadi golden age bagi saya. Empat tahun kemudian, saya sudah tidak yakin. Di bulan Mei akhirnya saya diumumkan berhasil jadi salah satu wakil Indonesia di Olimpiade.

Pada bulan Mei 1992 itu pula, saya merasakan pengalaman pahit. Saya gagal menyumbang angka di final Piala Thomas. Indonesia akhirnya gagal membawa pulang Piala Thomas yang sudah lama tidak direbut.

Saya dipasang di partai final sebagai tunggal kedua karena dipercaya punya peluang menang yang besar melawan Foo Kok Keong. Dari segi rekor saya lebih unggul, mungkin saat itu 8-2, saya lupa tepatnya.

Pelatih Pak Indra Gunawan yakin saya bisa menang karena keunggulan rekor tersebut. Ternyata, karena pelatih yakin, saya justru jadi tegang dan terbebani.

Saya maju ke pertandingan dengan pola pikir tidak boleh kalah. Cara berpikir dan tujuan 'harus menang' yang kemudian membebani saya, padahal dalam sebuah permainan, menang-kalah tidak bisa diprediksi.

Dari sisi permainan, tekanan suporter juga jadi pressure buat saya. Hakim garis juga memberikan banyak keuntungan bagi tuan rumah, bukan hanya 1-2 kali. Hal itu membuat saya jadi goyah. Tekanan yang ada berat sekali. Saya melakukan banyak kesalahan, tegang, dan tidak bisa berpikir jernih.

Setelah pulang saya sempat merasa stres sekitar dua minggu. Tentu saya tak mau kalah. Siapa yang mau kalah? Saya sudah mempersiapkan diri untuk Piala Thomas 1992 dengan luar biasa, ternyata hasilnya tidak sesuai.

Susi Susanti of Indonesia serves to Misako Mizui of Japan during their first round Uber Cup badminton game here 16 May.  Susanti won the match 11-3, 11-5.           AFP PHOTO/Thomas CHENG / AFP PHOTO / TOMMY CHENGSusy Susanti punya peran besar untuk membangkitkan semangat Alan Budikusuma yang terpuruk usai kalah di Piala Thomas 1992. (AFP PHOTO / TOMMY CHENG)

Media memberikan kritikan yang cukup tajam untuk saya, padahal yang kalah bukan hanya saya. Kenapa dianggap saya yang jadi penyebab kekalahan? Karena di antara pemain yang kalah, saya yang dianggap punya peluang menang karena unggul head to head. Jadi kesalahan ditimpakan ke saya.

Namun saya sadar bahwa begitulah risiko jadi pemain yang diharapkan menyumbang poin.

Pak Indra juga sempat kecewa karena saya diharapkan bisa menang. Sebetulnya secara umum, di Piala Thomas 1992 itu Malaysia adalah tim underdog.

Tim yang difavoritkan adalah China dan Indonesia untuk bertemu di final. Ternyata Malaysia bisa mengalahkan China di semifinal dan bisa tampil luar biasa dengan dukungan penonton.

Saya merasa bahwa situasi tidak baik, padahal sebentar lagi Olimpiade berlangsung, hanya berjarak 2,5 bulan dari momen tersebut.

Di tengah situasi sulit itu peran dan dukungan dari orang tua, Susy Susanti, dan pelatih Pak Indra punya nilai penting. Selain itu ada pula sosok senior saya, Koh Eddy Kurniawan.

Beliau berkata, "Sebagai pemain harus bisa menghadapi ini, kekalahan bukan berarti habis. Kekalahan itu bisa jadi cambuk agar kamu berlatih lebih giat". Begitu pesan Koh Eddy.

Kalau saja saat itu hari-hari saya tidak dibantu dan didampingi dengan obrolan-obrolan bersama Susy, orang tua, pelatih, dan Koh Eddy, mungkin saya berpikir lebih baik berhenti saja. Karena di titik itu, saya sendiri juga sudah tak yakin.

Bagi saya, segalanya sudah tak ada saat itu. Kesan yang saya dapatkan seperti itu, tentunya dengan begitu saya butuh pendampingan.

Saya diberi dorongan untuk kembali latihan. Saya mulai percaya bahwa kekalahan tak mungkin terus-terusan. Yang terpenting adalah bagaimana bisa bangun dari kekalahan itu, menganalisis kekalahan, dan berusaha bangkit terutama dari segi mental.

Berjuang dan Khawatir pada Susy di Olimpiade 1992

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK