Pengamat: PSSI Terlambat Batalkan Liga 1 2020

jun, CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2021 14:39 WIB
Pengamat sepak bola nasional M Kusnaeni menilai PSSI terlambat mengambil keputusan membatalkan Liga 1 2020. PSSI dinilai terlambat ambil keputusan untuk membatalkan Liga 1 2020. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat sepak bola nasional M Kusnaeni menilai PSSI terlambat mengambil keputusan membatalkan Liga 1 2020.

Keterlambatan PSSI dalam mengambil sikap soal kepastian kompetisi berdampak pada kerugian klub. Pasalnya, gaji pemain, pelatih maupun ofisial terus berjalan selama kelanjutan nasib Liga 1 2020 menggantung.

Klub tetap harus membayarkan hak gaji kepada pemain, pelatih maupun ofisial selama hampir setahun setelah Liga 1 2020 disetop saat masuk pekan keempat pada pertengahan Maret lalu akibat pandemi Covid-19.


Meskipun hanya 25 persen dari gaji yang dibayarkan, tapi klub tidak memiliki pemasukan dari sponsor karena tidak ada kompetisi.

"Kalau yang Liga 1 2020 sejak lama memang sudah didorong PSSI dan LIB segera ambil sikap. Ini masalah argo bagi klub dan kepastian buat pemain. Kalau kompetisi tidak bisa digelar, pemain bisa ambil kesempatan keluar negeri atau buka usaha," kata Kusnaeni kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/1).

GIF Banner Promo Testimoni

Justru yang terjadi selama hampir setahun ke belakang adalah pemain merasa nasibnya digantungkan oleh keterikatan kontrak dengan klub yang menunggu keputusan PSSI. Pada akhirnya, PSSI juga membubarkan Liga 1 2020.

"Kondisi ini membuat banyak orang kecewa dengan operator kompetisi dan PSSI. Mereka menganggap kemampuan operator dan PSSI dalam menghadapi situasi krisis tidak jalan, sehingga keputusan dibuat terlalu lama, buang waktu, dan membuat banyak pihak dirugikan, terutama pelaku kompetisi itu sendiri," jelasnya.

Setelah  Liga 1 2020 dibatalkan, PSSI maupun operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) juga belum dapat memastikan kapan musim baru akan dimulai.

Sampai saat ini, PSSI maupun LIB belum bisa meyakinkan pihak kepolisian untuk mengeluarkan izin keramaian yang menjadi syarat mutlak agar kompetisi bergulir kembali.

Penerapan protokol kesehatan ketat yang dibarengi dengan program tes usap (swab) Covid-19 yang dilakukan berkala tiap pekan sampai kepastian tanpa penonton pun belum mampu membuat polisi yakin.

Pesepak bola Persebaya Makan Konate melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Madura United saat pertandingan babak penyisihan Grup A Piala Gubernur Jawa Timur 2020 di Stadion Gelora Bangkalan (SGB), Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (14/2/2020). Persebaya lolos ke babak semifinal setelah mengalahkan Madura United dengan skor akhir 4-2. ANTARA FOTO/Moch Asim/ama.Persebaya Surabaya ditinggal pemain bintang. (ANTARA FOTO/Moch Asim)

Ditambah lagi dengan jumlah kasus positif Covid-19 yang sampai saat ini masih meroket membuat LIB dan PSSI belum bisa memastikan kapan Liga 1 2021 akan dimulai.

"Dari awal saya bilang kalau mau mulai kompetisi bukan PSSI atau LIB sendiri penentunya. Tapi ada stakeholder lain yang menentukan kapan kompetisi bisa bergulir; BNPB, Kepolisian, Kemenkes. Di situasi ini, rumah sakit mungkin tidak mampu menyediakan SDM [Sumber Daya Manusia] yang saat ini kewalahan mengurusi kasus Covid-19," ujar Kusnaeni.

Sebab itu, PSSI dan LIB diminta jangan gegabah untuk memutuskan sendiri kapan kompetisi akan dimulai seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu. Mulai dari rencana melanjutkan Liga 1 2020 di Oktober, kemudian November sampai Februari yang akhirnya gagal lantaran belum mendapatkan izin.

"PSSI harusnya konsultasi dulu dengan stakeholder lain, BNPB, Kepolisian, Kemenkes, IDI menanyakan kondisi ini kira-kira akan terjadi sampai kapan? Lalu tanya, amannya kalau mau gelar kompetisi kapan? Jangan sampai seperti kemarin, disebut bulan Oktober, tapi batal. Klub kan merasa dirugikan."

Pemain Persija Jakarta Ramdani Lestaluhu (kiri) berebut bola dengan pemain Borneo FC Nuriddin Davronov (tengah) dalam pertandingan pekan pertama Shopee Liga 1 2020 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Minggu (1/3/2020). Persija menang dengan skor 3-2. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.  *** Local Caption ***Liga 1 2021 juga tak kunjung ada kejelasan. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

"Jangan pakai pendekatan tiba masa tiba akal, tapi pakai analisa yang matang dengarkan masukan polisi dan BNPB karena mereka punya program mitigasinya. Jadi tanya mereka proyeksi penanganan Covid-19 seperti apa dan amannya bisa mulai kegiatan kapan," beber Kusnaeni.

Soal nanti kapan Liga 1 2021 akan dimulai, Kusnaeni juga meminta PSSI dan LIB tidak memikirkan harus mengikuti kalender UEFA atau AFC.

"Jangan mikir ikut kalender apa, tapi berpikir sudah siap apa belum Indonesia gelar kompetisi. Tidak cuma jadwal kompetisi dan izin polisi, tapi juga suport dari stakeholder lain; tenaga medis, BNPB. Ikuti kondisinya di sini."

"Masa mau mengulang kegagalan lagi? Dielaborasi kesalahan kemarin dengan perencanaan yang lebih matang. Kasihan klub, sudah ada pengalaman setahun terjebak dalam situasi menunggu. Masa di 2021 masih terjebak di kubangan yang sama," tutupnya.

(TTF/jun)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK