Liverpool takluk 0-1 dari Burnley di Anfield. (REUTERS/CLIVE BRUNSKILL)
Jakarta, CNN Indonesia --
Liverpool terus melorot dari puncak klasemen Liga Inggris lantaran gagal menang dalam lima laga terakhir. Mereka tak lagi dikenal sebagai tim agresif yang garang di depan gawang sejak menang telak 7-0 atas Crystal Palace pada 19 Desember 2020.
Berstatus sebagai juara bertahan Liga Inggris, Liverpool tak banyak mengalami perubahan skuad musim lalu. Trisula maut mereka: Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah masih setia di Anfield.
Bahkan, lini serang mereka semakin kaya setelah kedatangan Diogo Jota atau bahkan Takumi Minamino yang tiba sejak pertengahan musim lalu. Namun belakangan ketajaman Liverpool malah tak berbekas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari lima pertandingan terakhir di Premier League atau usai menghancurkan Palace, Liverpool hanya mencetak satu gol dan tak pernah menang. Rinciannya, dua kali kalah dan tiga laga lainnya berakhir imbang tanpa gol.
Pertama, Liverpool diimbangi West Bromwich Albion 1-1 dan ditahan imbang tanpa gol lawan Newcastle. Kemudian The Reds kalah 0-1 dari Southampton, seri lawan Manchester United dengan skor kacamata, dan terakhir takluk 0-1 dari Burnley.
Pelatih Jurgen Klopp dibanjiri kritik karena memilih menyimpan Roberto Firmino dan Mohamed Salah di bangku cadangan saat menjamu Burnley. Klopp dianggap blunder dan terlalu menganggap remeh lawan.
Ciri khas Liverpool sebagai tim atraktif dalam menyerang sebenarnya tak hilang. Hanya saja lini depan mereka seret cetak gol.
Opta melansir, Liverpool sanggup melepaskan 27 tembakan saat melawan Burnley. Namun, tak ada satupun yang berujung gol.
Ini jadi jumlah tendangan paling banyak dalam satu pertandingan yang dilakukan Liverpool, tanpa ada yang menghasilkan gol sejak April 2013 melawan Reading (28), dan paling banyak di Anfield saat menjamu West Brom (30) pada April 2012.
Ini menjadi kekalahan pertama Liverpool di Anfield saat menjamu Burnley selama 47 tahun. Kekalahan kandang terakhir Liverpool dari Burnley terjadi pada 1974 dengan skor identik, 0-1.
Kekalahan dari Burnley menyingkap fakta baru bahwa lini depan Liverpool tengah bermasalah. Padahal banyak pihak menilai The Reds punya persoalan serius di belakang menyusul cedera panjang yang dialami Virgil van Dijk dan Joe Gomez.
Merujuk statistik Soccerway, Liverpool masih tercatat sebagai tim paling produktif di Premier League musim ini dengan torehan 37 gol. Mereka masih unggul satu gol atas Manchester United yang berada di puncak klasemen.
Sayang, catatan bagus itu tak berlanjut di empat laga terakhir. Firmino, Mane, dan Salah kehilangan kegarangannya di depan gawang dan hobi membuang sederet peluang emas yang dimiliki.
Klopp memang sudah memprediksi trio Firmansah (Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah) harus dipecah. Atau setidaknya mendatangkan penyerang baru untuk menjaga gairah mereka bermain di skuad utama Liverpool.
Strategi Klopp mendatangkan Diogo Jota sempat menuai pujian. Terlebih penyerang asal Portugal itu sukses unjuk gigi di awal musim dan mulai menggeser Firmino dari line up.
Sayang, Jota harus menepi karena cedera lutut dan koleksi golnya terhenti di angka sembilan dari 17 penampilan di semua kompetisi.
Klopp sebenarnya masih punya Divock Origi dan Alex Oxlade-Chamberlain sebagai supersub. Namun, keduanya belum mampu memenuhi ekspektasi tinggi sang pelatih.
Origi yang terlalu lama jadi penghangat bangku cadangan seperti kehilangan 'sentuhan' untuk mencetak gol. Sementara Chamberlain, lebih sering berkutat dengan cedera.
Cedera yang dialami Diogo Jota ikut mempengaruhi ketajaman Liverpool. (AP Photo/Jon Super)
Tak dimungkiri, Liverpool punya amunisi banyak di lini depan. Namun, 'kemewahan' itu tak berarti tanpa kerja sama solid dan terpenting tajam mencetak gol ke gawang lawan.
Tak elok rasanya jika Klopp memaksakan diri menambah penyerang baru di bursa transfer Januari. Di sisi lain mereka tengah mengalami krisis lini belakang setelah Van Dijk dan Gomez cedera.
Klopp harus 'mencambuk' Mohamed Salah dkk untuk kembali beringas seperti musim lalu. Jika masih melempem, maka jangan heran bila Liverpool anjlok musim ini.
Sebab, kekalahan dari Burnley membuat Liverpool tertahan di peringkat keempat dengan perolehan 34 poin dari 19 pertandingan. Artinya, tim kota pelabuhan saat ini tertinggal enam poin dari Man Utd yang duduk nyaman di puncak.
Posisi Liverpool masih bisa turun lebih drastis lagi jika Tottenham Hotspur dan Everton tancap gas melahap sisa-sisa pertandingan yang dimiliki. Saat ini Tottenham (33 poin) baru 18 kali berlaga dan Everton (32 poin) mengantongi dua pertandingan lebih sedikit dari Liverpool.
Liverpool terus melorot dari puncak klasemen Liga Inggris lantaran gagal menang dalam lima laga terakhir. Mereka tak lagi dikenal sebagai tim agresif yang garang di depan gawang sejak menang telak 7-0 atas Crystal Palace pada 19 Desember 2020.
Berstatus sebagai juara bertahan Liga Inggris, Liverpool tak banyak mengalami perubahan skuad musim lalu. Trisula maut mereka: Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah masih setia di Anfield.
Bahkan, lini serang mereka semakin kaya setelah kedatangan Diogo Jota atau bahkan Takumi Minamino yang tiba sejak pertengahan musim lalu. Namun belakangan ketajaman Liverpool malah tak berbekas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari lima pertandingan terakhir di Premier League atau usai menghancurkan Palace, Liverpool hanya mencetak satu gol dan tak pernah menang. Rinciannya, dua kali kalah dan tiga laga lainnya berakhir imbang tanpa gol.
Pertama, Liverpool diimbangi West Bromwich Albion 1-1 dan ditahan imbang tanpa gol lawan Newcastle. Kemudian The Reds kalah 0-1 dari Southampton, seri lawan Manchester United dengan skor kacamata, dan terakhir takluk 0-1 dari Burnley.
Pelatih Jurgen Klopp dibanjiri kritik karena memilih menyimpan Roberto Firmino dan Mohamed Salah di bangku cadangan saat menjamu Burnley. Klopp dianggap blunder dan terlalu menganggap remeh lawan.
Ciri khas Liverpool sebagai tim atraktif dalam menyerang sebenarnya tak hilang. Hanya saja lini depan mereka seret cetak gol.
Opta melansir, Liverpool sanggup melepaskan 27 tembakan saat melawan Burnley. Namun, tak ada satupun yang berujung gol.
Ini jadi jumlah tendangan paling banyak dalam satu pertandingan yang dilakukan Liverpool, tanpa ada yang menghasilkan gol sejak April 2013 melawan Reading (28), dan paling banyak di Anfield saat menjamu West Brom (30) pada April 2012.
Ini menjadi kekalahan pertama Liverpool di Anfield saat menjamu Burnley selama 47 tahun. Kekalahan kandang terakhir Liverpool dari Burnley terjadi pada 1974 dengan skor identik, 0-1.
Kekalahan dari Burnley menyingkap fakta baru bahwa lini depan Liverpool tengah bermasalah. Padahal banyak pihak menilai The Reds punya persoalan serius di belakang menyusul cedera panjang yang dialami Virgil van Dijk dan Joe Gomez.
Merujuk statistik Soccerway, Liverpool masih tercatat sebagai tim paling produktif di Premier League musim ini dengan torehan 37 gol. Mereka masih unggul satu gol atas Manchester United yang berada di puncak klasemen.
Sayang, catatan bagus itu tak berlanjut di empat laga terakhir. Firmino, Mane, dan Salah kehilangan kegarangannya di depan gawang dan hobi membuang sederet peluang emas yang dimiliki.
Problem Liverpool: Krisis Lini Belakang, Tumpul di Depan
Mohamed Salah dkk seret gol dan membuat Liverpool anjlok ke posisi keempat. (AP/Nick Potts)
Klopp memang sudah memprediksi trio Firmansah (Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah) harus dipecah. Atau setidaknya mendatangkan penyerang baru untuk menjaga gairah mereka bermain di skuad utama Liverpool.
Strategi Klopp mendatangkan Diogo Jota sempat menuai pujian. Terlebih penyerang asal Portugal itu sukses unjuk gigi di awal musim dan mulai menggeser Firmino dari line up.
Sayang, Jota harus menepi karena cedera lutut dan koleksi golnya terhenti di angka sembilan dari 17 penampilan di semua kompetisi.
Klopp sebenarnya masih punya Divock Origi dan Alex Oxlade-Chamberlain sebagai supersub. Namun, keduanya belum mampu memenuhi ekspektasi tinggi sang pelatih.
Origi yang terlalu lama jadi penghangat bangku cadangan seperti kehilangan 'sentuhan' untuk mencetak gol. Sementara Chamberlain, lebih sering berkutat dengan cedera.
Cedera yang dialami Diogo Jota ikut mempengaruhi ketajaman Liverpool. (AP Photo/Jon Super)
Tak dimungkiri, Liverpool punya amunisi banyak di lini depan. Namun, 'kemewahan' itu tak berarti tanpa kerja sama solid dan terpenting tajam mencetak gol ke gawang lawan.
Tak elok rasanya jika Klopp memaksakan diri menambah penyerang baru di bursa transfer Januari. Di sisi lain mereka tengah mengalami krisis lini belakang setelah Van Dijk dan Gomez cedera.
Klopp harus 'mencambuk' Mohamed Salah dkk untuk kembali beringas seperti musim lalu. Jika masih melempem, maka jangan heran bila Liverpool anjlok musim ini.
Sebab, kekalahan dari Burnley membuat Liverpool tertahan di peringkat keempat dengan perolehan 34 poin dari 19 pertandingan. Artinya, tim kota pelabuhan saat ini tertinggal enam poin dari Man Utd yang duduk nyaman di puncak.
Posisi Liverpool masih bisa turun lebih drastis lagi jika Tottenham Hotspur dan Everton tancap gas melahap sisa-sisa pertandingan yang dimiliki. Saat ini Tottenham (33 poin) baru 18 kali berlaga dan Everton (32 poin) mengantongi dua pertandingan lebih sedikit dari Liverpool.