Jakarta, CNN Indonesia -- False nine menjadi salah satu kunci Manchester City berada di puncak klasemen Liga Inggris saat ini. Tapi, false nine Pep Guardiola itu bisa menjadi bom waktu.
Ketika Man City kalah 0-2 dari Tottenham Hotspur pada pekan kesembilan, 21 November lalu, tim asuhan Pep Guardiola itu diprediksi akan terpuruk di Premier League musim ini.
Kekalahan dari Tottenham itu membuat Man City terpuruk di peringkat 9 klasemen Liga Inggris. Ini adalah start terburuk dalam sejarah karier kepelatihan Guardiola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Segala masalah dihadapi Guardiola untuk membangkitkan Man City. Mulai dari cedera pemain, buruknya penampilan lini belakang, hingga mengabaikan tikitaka.
 Manchester City ke puncak Liga Inggris usai mengalahkan West Bromwich Albion. (Nick Potts/Pool via AP) |
Mengabaikan tikitaka? Ya, itu salah satu alasan yang diungkap Guardiola ketika ditanya mengenai start buruk Man City musim ini.
"Kami berlari terlalu banyak. Tanpa bola, Anda harus berlari. Tapi dengan bola, Anda harus berjalan atau lari lebih sedikit. Lebih sering tetap di posisi dan biarkan bola berjalan, bukan Anda," ujar Guardiola.
Guardiola sudah mampu mengatasi masalah itu sejak kekalahan Man City dari Tottenham. Namun, permasalahan The Citizens belum sepenuhnya teratasi. Man City masih punya satu masalah krusial: Lini depan yang tumpul!
Cedera yang dialami Sergio Aguero membuat Guardiola harus mengandalkan Gabriel Jesus sebagai penyerang tengah. Hasilnya: cukup buruk!
Penyerang asal Brasil itu gagal menggantikan peran Aguero setelah hanya mampu mencetak dua gol dalam 11 penampilan di Liga Inggris musim ini. Namun, bukan Guardiola namanya kalau tidak bisa mengatasi masalah tersebut.
Pelatih asal Catalunya itu mengatasi masalah dengan menerapkan false nine di lini depan Man City. Kevin De Bruyne, Riyad Mahrez, Ferran Torres, dan Bernardo Silva secara bergantian dimainkan Guardiola sebagai penyerang tengah.
Hasilnya cukup signifikan. Man City meraih tujuh kemenangan beruntun di Premier League, dan 13 kemenangan beruntun secara keseluruhan sejak Guardiola menerapkan false nine kali pertama saat melawan Southampton pada 19 Desember lalu. Ketika itu Torres berperan sebagai penyerang tengah Man City.
Guardiola memang pernah satu kali menurunkan Jesus sebagai penyerang tengah saat melawan Crystal Palace di Liga Inggris, 17 Januari 2021. Namun, kondisinya tidak berubah. Jesus masih tumpul dan gagal mencetak gol dalam kemenangan 4-0 atas Palace.
[Gambas:Video CNN]
Terakhir, Man City memainkan Riyad Mahrez sebagai penyerang tengah saat menang 5-0 atas West Bromwich Albion. Sebuah kemenangan yang membuat Man City berada di puncak klasemen Liga Inggris untuk kali pertama musim ini.
Sukses mengembalikan permainan tikitaka dan penggunaan false nine membuat Man City bangkit. Pengoleksi empat gelar Premier League itu saat ini menjadi tim dengan torehan kemenangan, clean sheet, penguasaan bola, dan umpan terbanyak hingga pekan ke-20.
Untuk urusan mencetak gol, Man City juga tidak terlalu buruk. Man City berada di posisi kedua tersubur bersama Manchester United dengan 36 gol, hanya terpaut satu gol dari Liverpool di puncak. Pencapaian itu diraih Man City dengan menerapkan false nine di hampir separuh pertandingan paruh pertama musim ini.
Diego Costa Jawaban untuk Man City?
Diego Costa dihubungkan dengan Manchester City. (Johannes EISELE / AFP)
Selain itu sukses Man City juga tidak lepas dari meningkatkan penampilan sejumlah pemain belakang, terutama John Stones dan Joao Cancelo. Stones disebut-sebut menjadi bek terbaik di Premier League saat ini seiring dengan absennya Virgil van Dijk bersama Liverpool.
Sementara Cancelo semakin menyetel dengan permainan Man City sejak dibeli dari Juventus pada 2019. Bek kanan asal Portugal itu tampil bertahan dan menyerang dengan sama apiknya. Cancelo mencetak satu gol dan satu assist saat Man City mengalahkan West Brom.
Namun di antara sukses Guardiola mengatasi masalah Man City hingga paruh musim, klub yang bermarkas di Stadion Etihad itu berpeluang memiliki masalah baru di paruh kedua musim. Masalah itu adalah tidak adanya bomber atau penyerang tengah.
Guardiola tidak bisa mengandalkan strategi false nine hingga akhir musim. Man City harus memiliki satu penyerang tengah yang bisa diandalkan. Merekrut striker baru wajib dilakukan Guardiola di sisa bursa transfer Januari 2021.
[Gambas:Video CNN]
Guardiola tidak bisa berharap Aguero kembali ke performa terbaik. Bomber asal Argentina itu sudah lewat masa emasnya, sementara Jesus bukan sosok penyerang tengah murni. Jesus bahkan lebih cocok bermain di sayap ketimbang menjadi striker yang diandalkan di dalam kotak penalti lawan untuk mencetak gol.
False nine hanya cocok diterapkan di momen-momen tertentu, ketika stok penyerang tengah habis. False nine tidak cocok dijadikan senjata utama untuk menjalani musim kompetisi yang panjang.
 Kevin De Bruyne cedera panjang. (AP Photo/Ian Walton/Pool) |
Mengandalkan De Bruyne, Mahrez, Torres, dan Silva terus menjadi penyerang tengah juga riskan. Pasalnya, itu bukan posisi alami mereka.
Bisa dipastikan keempat pemain itu akan menemui titik buntu saat menempati posisi penyerang tengah. Dengan demikian strategi false nine Man City terancam akan sangat mudah terbaca.
Masalah lainnya adalah Man City akan kehilangan De Bruyne sekitar enam pekan karena cedera. Kondisi itu membuat posisi Mahrez, Torres, atau Silva akan lebih dibutuhkan di lini tengah.
Jalan keluar Man City untuk mengatasi bom waktu ini adalah merekrut penyerang tengah baru. Terakhir Man City dikabarkan tertarik merekrut Diego Costa yang berstatus bebas transfer setelah diputus kontrak oleh Atletico Madrid.
Perekrutan Costa bisa menjadi kepingan penting yang mampu memberi Man City gelar Premier League musim ini.