Ibtihaj Muhammad, Pengubah Citra Atlet Wanita Muslim
CNN Indonesia
Jumat, 23 Apr 2021 16:01 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ibtihaj Muhammad ingin wanita dan pria memiliki kesetaraan. (AFP/FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ibtihaj Muhammad tenar di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Sejak itu, Ibtihaj dikenal sebagai pengubah citra atlet wanita muslim di pentas internasional.
Ibtihaj Muhammad merupakan atlet anggar putri Amerika Serikat. Dikutip dari Rollingstones.com, atlet 35 tahun tersebut mulai berkompetisi di cabang anggar sejak usia 13.
Meski demikian, Ibtihaj sudah mengenakan hijab sejak kecil. Bahkan wanita kelahiran New Jersey, Amerika Serikat, itu harus sampai menjelaskan kepada teman-temannya apa itu hijab ketika duduk di tingkat sekolah dasar.
Di lingkungannya di New Jersey, keluarga Ibtihaj adalah satu-satunya yang Muslim. Sebagai kaum minoritas, Ibtihaj sudah merasakan beban yang begitu berat ketika kanak-kanak.
Meski demikian, Ibtihaj dan keluarganya tetap konsisten dengan ajaran Islam. Karena hijab juga Ibtihaj memilih olahraga anggar.
Anggar mengharuskan atletnya menutup seluruh tubuh dengan seragam khusus. Seragam tersebut dianggap memudahkannya menjalankan ajaran Islam, karena tidak harus bergonta-ganti ketika bertanding.
"Anggar secara unik mengakomodasi keyakinan agama saya. Jadi, sepertinya ini adalah keputusan yang mudah untuk belajar olahraga," ucap Ibtihaj dikutip dari Hypebae.
Dengan seragam anggar yang tertutup dari ujung kepala hingga kaki, Ibtihaj tidak merasa berbeda dengan atlet lain.
Hanya saja, beban menjadi seorang Muslim yang taat dan berkulit hitam mulai dirasakan Ibtihaj ketika menembus timnas anggar Amerika Serikat pada 2010.
Pelatih dan rekan satu timnya sempat tidak percaya kepada kualitas Ibtihaj. Akhirnya, anak dari pasangan Eugene Muhammad dan Denise itu pun merasa terpinggirkan karena faktor warna kulit dan agama.
Ibtihaj tidak mundur dengan perlakuan miring tersebut. Dia tetap istiqomah pada anggar dan keyakinannya sebagai wanita Muslim berhijab.
"Menjadi wanita Muslim pertama berhijab di timnas Amerika Serikat adalah perjalanan yang penuh dengan rintangan, tetapi saya tidak pernah menolak kesempatan untuk berolahraga karena keyakinan saya," kata Ibtihaj dalam unggahannya di Instagram baru-baru ini.
Salah satu alasan yang membuat Ibtihaj kuat di anggar dan timnas Amerika Serikat adalah: dengan masuk timnas anggar Amerika Serikat, ia merasa memiliki momen mengubah pandangan banyak orang tentang kaum muslim dan juga Afrika-Amerika di cabor tersebut.
Keimanan Ibtihaj tidak luntur karena pandangan tak lurus banyak orang tentang agamanya. Ibtihaj tetap jadi Muslim yang taat. Ketika libur latihan, dia mengisi waktu kosong dengan beribadah.
Ibtihaj sangat berusaha menghindari membandingkan dirinya yang minoritas dengan kebanyakan atlet Amerika Serikat lain. Dalam benaknya, pesaing terbesar dalam kariernya di anggar adalah dirinya sendiri.
Kesungguhan Ibtihaj di anggar membuahkan hasil mengagumkan pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Ibtihaj jadi anggota tim sabel putri Amerika Serikat yang meraih perunggu usai mengalahkan Italia 45-30 di Olimpiade 2016.
Akan tetapi, di kategori individu, Ibtihaj harus rela kehilangan medali setelah gagal di babak 16 besar.
Prestasi di Brasil itu membuat Ibtihaj jadi atlet Muslim Amerika Serikat pertama yang meraih medali Olimpiade, termasuk anggota tim Amerika yang mengenakan hijab di multi-cabang empat tahunan tersebut.
Berkat kesuksesannya tersebut, Ibtihaj tidak saja dipuji Presiden Barack Obama, namun juga menjadi satu dari 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time.
Setelah Olimpiade 2016, Ibtihaj Muhammad disebut sebagai pengubah pandangan banyak orang tentang atlet Muslim, khususnya yang mengenakan hijab.
Perubahan itu turut menyeret salah satu perusahaan apparel besar dunia, Nike ikut mengampanyekan pro hijab dengan sejumlah produknya.
Sejalan dengan keberhasilan di anggar, Ibtihaj Muhammad ingin wanita Muslim lebih diterima di semua kalangan dan tingkatan, termasuk dunia olahraga.
"Saya berharap mengubah citra yang mungkin dimiliki orang-orang tentang wanita Muslim. Kami datang dalam berbagai bentuk, warna, dan ukuran yang berbeda, dan kami berasal dari latar belakang berbeda, serta kami adalah anggota masyarakat yang produktif," ujar Ibtihaj.
Meski telah sukses, Ibtihaj Muhammad tidak berhenti mengampanyekan kesetaraan bagi atlet-atlet Muslim. Yang terbaru, Ibtihaj ikut mengutuk larangan jilbab bagi anak-anak di bawah umur di Prancis.
Baru-baru ini, Prancis berencana melarang gadis di bawah 18 tahun mengenakan hijab di depan umum. Selain itu, ibu-ibu yang berhijab juga tidak boleh menemani anak mereka di sekolah. Kontroversi itu membuat Ibtihaj buka suara.
"Apa-apaan ini Prancis? Inilah yang terjadi ketika Anda menormalkan ujaran kebencian anti-Islam dan anti-Muslim, bias, diskriminasi, dan kejahatan rasial, Islamofobia tertulis dalam undang-undang. Semoga Allah melindungi saudara perempuan kita. Allahumma amiin," tulis Ibtihaj dalam unggahan di Instagram.
Pemerintah Prancis tidak saja melarang gadis berhijab tampil di muka umum, tetapi juga di kompetisi olahraga. Ibtihaj pun berupaya agar peraturan itu tidak disahkan menjadi Undang-undang di negara tersebut.
"Kebebasan beragama adalah hak asasi manusia. Sungguh menyakitkan melihat seberapa jauh Prancis telah menyimpang dan seberapa normal xenofobia yang mematikan," ucap Ibtihaj.
Ibtihaj ingin wanita benar-benar setara dengan pria, tidak peduli apa agamanya. Kesetaraan di berbagai aspek menurut Ibtihaj sangat penting.
"Setiap wanita harus memiliki pilihan untuk mengenakan apa yang dia inginkan dan kesempatan untuk berolahraga, terlepas dari keyakinannya. Kita harus berdiri bersama dan dengan keras mencela diskriminasi dalam segala bentuknya," ucap Ibtihaj.
Dalam momen itu, Ibtihaj teringat dengan salah satu momen selama kariernya di dunia anggar. Ibtihaj menyebut, Kejuaraan Dunia Anggar pertamanya adalah di Prancis. Dalam turnamen itu, Ibtihaj mendapat dukungan dari kaum Muslim di Prancis.
"Kejuaraan dunia pertama saya sebenarnya di Paris, Prancis. Itu diadakan di Grand Palais dan salah satu kenangan saya yang paling jelas tentang kompetisi," tutur Ibtihaj.
"[Dukungan] itu adalah dukungan yang saya terima dari semua Muslim Prancis di tribune, hijab saya berfungsi sebagai penanda iman yang bagi kami," kata Ibtihaj menambahkan.
Ibtihaj Muhammad tenar di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Sejak itu, Ibtihaj dikenal sebagai pengubah citra atlet wanita muslim di pentas internasional.
Ibtihaj Muhammad merupakan atlet anggar putri Amerika Serikat. Dikutip dari Rollingstones.com, atlet 35 tahun tersebut mulai berkompetisi di cabang anggar sejak usia 13.
Meski demikian, Ibtihaj sudah mengenakan hijab sejak kecil. Bahkan wanita kelahiran New Jersey, Amerika Serikat, itu harus sampai menjelaskan kepada teman-temannya apa itu hijab ketika duduk di tingkat sekolah dasar.
Di lingkungannya di New Jersey, keluarga Ibtihaj adalah satu-satunya yang Muslim. Sebagai kaum minoritas, Ibtihaj sudah merasakan beban yang begitu berat ketika kanak-kanak.
Meski demikian, Ibtihaj dan keluarganya tetap konsisten dengan ajaran Islam. Karena hijab juga Ibtihaj memilih olahraga anggar.
Anggar mengharuskan atletnya menutup seluruh tubuh dengan seragam khusus. Seragam tersebut dianggap memudahkannya menjalankan ajaran Islam, karena tidak harus bergonta-ganti ketika bertanding.
"Anggar secara unik mengakomodasi keyakinan agama saya. Jadi, sepertinya ini adalah keputusan yang mudah untuk belajar olahraga," ucap Ibtihaj dikutip dari Hypebae.
Dengan seragam anggar yang tertutup dari ujung kepala hingga kaki, Ibtihaj tidak merasa berbeda dengan atlet lain.
Hanya saja, beban menjadi seorang Muslim yang taat dan berkulit hitam mulai dirasakan Ibtihaj ketika menembus timnas anggar Amerika Serikat pada 2010.
Pelatih dan rekan satu timnya sempat tidak percaya kepada kualitas Ibtihaj. Akhirnya, anak dari pasangan Eugene Muhammad dan Denise itu pun merasa terpinggirkan karena faktor warna kulit dan agama.
Ibtihaj tidak mundur dengan perlakuan miring tersebut. Dia tetap istiqomah pada anggar dan keyakinannya sebagai wanita Muslim berhijab.
"Menjadi wanita Muslim pertama berhijab di timnas Amerika Serikat adalah perjalanan yang penuh dengan rintangan, tetapi saya tidak pernah menolak kesempatan untuk berolahraga karena keyakinan saya," kata Ibtihaj dalam unggahannya di Instagram baru-baru ini.
Salah satu alasan yang membuat Ibtihaj kuat di anggar dan timnas Amerika Serikat adalah: dengan masuk timnas anggar Amerika Serikat, ia merasa memiliki momen mengubah pandangan banyak orang tentang kaum muslim dan juga Afrika-Amerika di cabor tersebut.
Keimanan Ibtihaj tidak luntur karena pandangan tak lurus banyak orang tentang agamanya. Ibtihaj tetap jadi Muslim yang taat. Ketika libur latihan, dia mengisi waktu kosong dengan beribadah.
Ibtihaj sangat berusaha menghindari membandingkan dirinya yang minoritas dengan kebanyakan atlet Amerika Serikat lain. Dalam benaknya, pesaing terbesar dalam kariernya di anggar adalah dirinya sendiri.
Kesungguhan Ibtihaj di anggar membuahkan hasil mengagumkan pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Ibtihaj jadi anggota tim sabel putri Amerika Serikat yang meraih perunggu usai mengalahkan Italia 45-30 di Olimpiade 2016.
Akan tetapi, di kategori individu, Ibtihaj harus rela kehilangan medali setelah gagal di babak 16 besar.
Prestasi di Brasil itu membuat Ibtihaj jadi atlet Muslim Amerika Serikat pertama yang meraih medali Olimpiade, termasuk anggota tim Amerika yang mengenakan hijab di multi-cabang empat tahunan tersebut.
Berkat kesuksesannya tersebut, Ibtihaj tidak saja dipuji Presiden Barack Obama, namun juga menjadi satu dari 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time.
Setelah Olimpiade 2016, Ibtihaj Muhammad disebut sebagai pengubah pandangan banyak orang tentang atlet Muslim, khususnya yang mengenakan hijab.
Perubahan itu turut menyeret salah satu perusahaan apparel besar dunia, Nike ikut mengampanyekan pro hijab dengan sejumlah produknya.
Ibtihaj: HIjab Adalah Penanda Keimanan Saya
Ibtihaj Muhammad terus bersuara soal hak wanita berhijab. (AFP/Jerritt Clark)
Sejalan dengan keberhasilan di anggar, Ibtihaj Muhammad ingin wanita Muslim lebih diterima di semua kalangan dan tingkatan, termasuk dunia olahraga.
"Saya berharap mengubah citra yang mungkin dimiliki orang-orang tentang wanita Muslim. Kami datang dalam berbagai bentuk, warna, dan ukuran yang berbeda, dan kami berasal dari latar belakang berbeda, serta kami adalah anggota masyarakat yang produktif," ujar Ibtihaj.
Meski telah sukses, Ibtihaj Muhammad tidak berhenti mengampanyekan kesetaraan bagi atlet-atlet Muslim. Yang terbaru, Ibtihaj ikut mengutuk larangan jilbab bagi anak-anak di bawah umur di Prancis.
Baru-baru ini, Prancis berencana melarang gadis di bawah 18 tahun mengenakan hijab di depan umum. Selain itu, ibu-ibu yang berhijab juga tidak boleh menemani anak mereka di sekolah. Kontroversi itu membuat Ibtihaj buka suara.
"Apa-apaan ini Prancis? Inilah yang terjadi ketika Anda menormalkan ujaran kebencian anti-Islam dan anti-Muslim, bias, diskriminasi, dan kejahatan rasial, Islamofobia tertulis dalam undang-undang. Semoga Allah melindungi saudara perempuan kita. Allahumma amiin," tulis Ibtihaj dalam unggahan di Instagram.
Pemerintah Prancis tidak saja melarang gadis berhijab tampil di muka umum, tetapi juga di kompetisi olahraga. Ibtihaj pun berupaya agar peraturan itu tidak disahkan menjadi Undang-undang di negara tersebut.
"Kebebasan beragama adalah hak asasi manusia. Sungguh menyakitkan melihat seberapa jauh Prancis telah menyimpang dan seberapa normal xenofobia yang mematikan," ucap Ibtihaj.
Ibtihaj ingin wanita benar-benar setara dengan pria, tidak peduli apa agamanya. Kesetaraan di berbagai aspek menurut Ibtihaj sangat penting.
"Setiap wanita harus memiliki pilihan untuk mengenakan apa yang dia inginkan dan kesempatan untuk berolahraga, terlepas dari keyakinannya. Kita harus berdiri bersama dan dengan keras mencela diskriminasi dalam segala bentuknya," ucap Ibtihaj.
Dalam momen itu, Ibtihaj teringat dengan salah satu momen selama kariernya di dunia anggar. Ibtihaj menyebut, Kejuaraan Dunia Anggar pertamanya adalah di Prancis. Dalam turnamen itu, Ibtihaj mendapat dukungan dari kaum Muslim di Prancis.
"Kejuaraan dunia pertama saya sebenarnya di Paris, Prancis. Itu diadakan di Grand Palais dan salah satu kenangan saya yang paling jelas tentang kompetisi," tutur Ibtihaj.
"[Dukungan] itu adalah dukungan yang saya terima dari semua Muslim Prancis di tribune, hijab saya berfungsi sebagai penanda iman yang bagi kami," kata Ibtihaj menambahkan.