Cita-cita itu dipupuknya sejak usia dini, ketika masih 4 tahun. Begitu duduk di kelas 8, dia mendapat kesempatan bermain di tim basket Sekolah New Leadership Charter. Dari sana Bilqis mulai mengabdikan dirinya untuk basket.
Selama di tingkat sekolah, rekor Bilqis di olahraga bola basket benar-benar mengesankan. Dikutip dari CNN, dia menjadi pemegang rekor mencetak poin di sekolah tingkat menengah di negara bagian, baik di tim putra maupun putri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekor poin yang dibuat Bilqis adalah rata-rata 42 poin per gim, dan total mencetak 51 dari peluang 56 poin pada pertandingan terakhirnya sebelum lulus.
Bakat luar biasa itu dilanjutkan Bilqis dengan bermain di Universitas Memphis hingga dia lulus. Dalam kariernya di dunia basket universitas, Bilqis masih bisa mencetak rata-rata 7,8 poin per gim.
Progres terus ditunjukkan gadis kelahiran 11 November 1990 itu dengan menjadi pebasket putri pertama yang mengenakan hijab saat tampil di kompetisi basket Divisi I NCAA bersama Universitas Indiana State.
Kegemilangan di Divisi I NCAA membawanya menatap karier profesional, mimpi yang selama ini dipendam Bilqis.
Pada 2013 saat bermain di Indiana State, Bilqis mendapat tawaran bermain di Eropa. Akan tetapi, menurut agennya, Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) melarang Bilqis tampil dengan mengenakan hijab.
Bilqis Abdul Qaadir merupakan pemain potensial di usia remaja. (Getty Images via AFP/NICHOLAS HUNT)
Menurut FIBA, hijab merupakan busana religius yang identik dengan agama tertentu sehingga bertentangan dengan netralitas dalam olahraga basket. Selain itu hijab juga bukan bagian dari standar pakaian yang ditetapkan FIBA. Larangan itu jadi tantangan terbesar dalam karier Bilqis.
"Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar diuji," kata Bilqis kepada CNN.
Dalam situasi tersebut, kegundahan dan kesedihan mendalam dirasakan Bilqis. Dia dihadapkan pada pilihan sulit, meraih mimpi atau mempertahankan kehormatan sebagai wanita Muslim.
"Mereka (FIBA) mengatakan kepada saya bahwa liga ingin menjaga permainan bola basket tetap netral secara agama," kata Bilqis.
"Ketika kami bertanya kepada mereka, mengapa atlet yang memiliki tato religius, seperti salib atau kitab suci, diizinkan bermain, mereka kemudian kembali berkilah dengan menyebut hijab tidak diperbolehkan karena itu berbahaya bagi keselamatan," ucap Bilqis melanjutkan.
Keputusan besar diambil Bilqis. Dia mengorbankan mimpinya menjadi pebasket profesional.
"Saya tidak bisa bermain secara profesional, jadi saya harus membuat keputusan. Saya [sempat] mempertimbangkan untuk melepas hijab untuk bisa bermain," ucap Bilqis.
"Itu adalah mimpi sejak saya masih kecil, dan berhijab adalah keyakinan saya yang menahan saya untuk mencapai impian. Saya begitu hancur," kata Bilqis menambahkan.
Meski demikian Bilqis tidak berhenti memperjuangkan hak-hak pebasket wanita berhijab yang ingin meniti karier sebagai pemain profesional.
Jiwanya terpanggil guna mengubah aturan FIBA soal larangan penutup kepala bagi atlet putri. Tujuannya, agar basket lebih mudah diakses pemain lain yang tetap berpegang teguh pada agamanya.
Pada 2014 Bilqis mengajukan petisi kepada FIBA guna mengubah aturan tersebut. Gayung bersambut. Di tahun yang sama, FIBA meninjau masukan itu.
"Ada saat-saat di mana saya seperti 'Lupakan ini, mengapa saya melakukan ini? FIBA tidak bergerak, mengapa saya masih terus maju?' Itu semakin sulit," ucap Bilqis.
Akhirnya, pada Oktober 2017 FIBA menyetujui aturan baru yang memungkinkan pemain memakai penutup kepala. Guna meminimalkan risiko cedera, warna penutup kepala itu disamakan dengan seragam tim.
Keputusan FIBA itu juga dirayakan banyak pemain dari agama lain, termasuk Yahudi yang memakai kippah dan Sikh yang menggunakan sorban.
Usaha Bilqis selama empat tahun belakangan tidak sia-sia. Pengorbanan dengan mengubur cita-cita menjadi pebasket profesional kini telah membuka jalan bagi pebasket Muslim lain dan juga agama lain terus mengejar mimpinya.
Larangan mengenakan hijab di level profesional nyaris membuat Bilqis Abdul Qaadir putus asa. Pasalnya, Bilqis belum menemukan jalan lain dalam menyalurkan bakatnya di basket. Sementara, banyak pihak menilai Bilqis terlalu tua untuk menjadi pemain profesional.
Beruntung, Bilqis tidak kehilangan semangat bertempur di saat kehilangan obsesi terbesarnya itu. Dalam masa-masa memperjuangkan perubahan aturan FIBA, Bilqis memiliki harapan lain, yaitu mencetak generasi pemenang di dunia basket.
Pada 2014, Bilqis mendirikan tim basket Muslim Girls Hoop Too, sebuah wadah yang menanamkan rasa percaya diri, harga diri, kekuatan, dan yang penting keimanan kepada Islam melalui bola basket.
"Setelah saya memilih tidak bermain, tujuan akhir saya adalah mengajar sebanyak mungkin gadis Muslim muda bermain bola basket sehingga mereka bisa melihat, bahwa olahraga dapat menuntun mereka tidak hanya untuk berkarir, tetapi juga melalui kehidupan dengan kekuatan dan kepercayaan diri," kata Bilqis yang memperoleh gelar master dalam bidang kepelatihan dari Universitas Memphis.
Menjadi instruktur basket seperti napas baru dalam kehidupan Bilqis. Terlebih lagi ketika Bilqis bisa memberikan kemajuan kepada anak didiknya.
"Saya juga senang melihat senyuman dan kilau di wajah seorang gadis muda saat dia melakukan bidikan pertamanya dan kembali menatap saya dan berkata, 'Apakah saya baru saja melakukannya?' Untuk saat itu saya merasa hidup," ucap Bilqis.
Bilqis benar-benar inspirasi bagi banyak wanita Muslim, terutama yang menggemari basket. Lewat cerita Bilqis, para atlet basket itu tidak perlu lagi takut mengorbankan olahraga yang dicintainya tersebut.
"Saya tidak ingin gadis Muslim lain harus berkorban dan harus memilih," tutur Bilqis.
"Saya ingin memberikan ruang di mana mereka bisa datang dan bermain dan mempraktikkan keyakinan mereka, dan menembak ke ring tanpa ada yang melarang mereka," kata Bilqis menambahkan.
Pengalaman Bilqis mengajarkan anak-anak di Muslim Girls Hoop Too tidak mudah menyerah, meskipun sesuatu hal yang digemari tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebaliknya, jika masih bisa diperjuangkan, maka perlu diupayakan untuk dibuat perubahan.
Menurut laporan CBC, kini Bilqis tinggal di London, Ontario, Kanada bersama suaminya, Abdulwahid Massey, dan putranya. Suami Bilqis merupakan seorang pelatih basket di Sekolah Islam London.
Di Kanada, Bilqis dan suaminya membuka pusat kebugaran di bagian timur London, tepatnya di basement Mal Oxbury Centre di sudut Oxford Street East dan Highbury Avenue.
"Kami baru saja menikah dan sedang mencari tempat tinggal baru. Menurut kami, kenapa tidak di Kanada saja?" ucap Bilqis.
Bilqis dan suaminya merasa nyaman tinggal di Kanada dan tidak ingin kembali ke Amerika Serikat.
"Kami sangat berterima kasih kepada Kanada, dan hanya di sini disambut dengan tangan terbuka," Bilqis menjelaskan.
Bilqis tidak menyesali keputusannya menentang aturan FIBA dan mundur sebagai pemain profesional. Karena dari perjuangannya itu, dia bisa melihat pemain Muslim tampil di liga profesional.
"Ada Batouly Camara yang sekarang bermain di Spanyol, liga yang dulu sangat ingin saya rasakan. Dia mengenakan jilbab, bermain di liga di bawah naungan FIBA. Di satu sisi, saya merasakan cemburu yang halal," ucap Bilqis tertawa.
"Tapi saya suka fakta, pintu telah dibuka. Saya bangga mengatakan, jika bukan karena saya mengorbankan karier saya dan tetap kuat, dia mungkin tidak akan memiliki kesempatan bermain seperti itu," kata Bilqis menambahkan.
Cita-cita itu dipupuknya sejak usia dini, ketika masih 4 tahun. Begitu duduk di kelas 8, dia mendapat kesempatan bermain di tim basket Sekolah New Leadership Charter. Dari sana Bilqis mulai mengabdikan dirinya untuk basket.
Selama di tingkat sekolah, rekor Bilqis di olahraga bola basket benar-benar mengesankan. Dikutip dari CNN, dia menjadi pemegang rekor mencetak poin di sekolah tingkat menengah di negara bagian, baik di tim putra maupun putri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekor poin yang dibuat Bilqis adalah rata-rata 42 poin per gim, dan total mencetak 51 dari peluang 56 poin pada pertandingan terakhirnya sebelum lulus.
Bakat luar biasa itu dilanjutkan Bilqis dengan bermain di Universitas Memphis hingga dia lulus. Dalam kariernya di dunia basket universitas, Bilqis masih bisa mencetak rata-rata 7,8 poin per gim.
Progres terus ditunjukkan gadis kelahiran 11 November 1990 itu dengan menjadi pebasket putri pertama yang mengenakan hijab saat tampil di kompetisi basket Divisi I NCAA bersama Universitas Indiana State.
Kegemilangan di Divisi I NCAA membawanya menatap karier profesional, mimpi yang selama ini dipendam Bilqis.
Pada 2013 saat bermain di Indiana State, Bilqis mendapat tawaran bermain di Eropa. Akan tetapi, menurut agennya, Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) melarang Bilqis tampil dengan mengenakan hijab.
Bilqis Abdul Qaadir merupakan pemain potensial di usia remaja. (Getty Images via AFP/NICHOLAS HUNT)
Menurut FIBA, hijab merupakan busana religius yang identik dengan agama tertentu sehingga bertentangan dengan netralitas dalam olahraga basket. Selain itu hijab juga bukan bagian dari standar pakaian yang ditetapkan FIBA. Larangan itu jadi tantangan terbesar dalam karier Bilqis.
"Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar diuji," kata Bilqis kepada CNN.
Dalam situasi tersebut, kegundahan dan kesedihan mendalam dirasakan Bilqis. Dia dihadapkan pada pilihan sulit, meraih mimpi atau mempertahankan kehormatan sebagai wanita Muslim.
"Mereka (FIBA) mengatakan kepada saya bahwa liga ingin menjaga permainan bola basket tetap netral secara agama," kata Bilqis.
"Ketika kami bertanya kepada mereka, mengapa atlet yang memiliki tato religius, seperti salib atau kitab suci, diizinkan bermain, mereka kemudian kembali berkilah dengan menyebut hijab tidak diperbolehkan karena itu berbahaya bagi keselamatan," ucap Bilqis melanjutkan.
Keputusan besar diambil Bilqis. Dia mengorbankan mimpinya menjadi pebasket profesional.
"Saya tidak bisa bermain secara profesional, jadi saya harus membuat keputusan. Saya [sempat] mempertimbangkan untuk melepas hijab untuk bisa bermain," ucap Bilqis.
"Itu adalah mimpi sejak saya masih kecil, dan berhijab adalah keyakinan saya yang menahan saya untuk mencapai impian. Saya begitu hancur," kata Bilqis menambahkan.
Meski demikian Bilqis tidak berhenti memperjuangkan hak-hak pebasket wanita berhijab yang ingin meniti karier sebagai pemain profesional.
Jiwanya terpanggil guna mengubah aturan FIBA soal larangan penutup kepala bagi atlet putri. Tujuannya, agar basket lebih mudah diakses pemain lain yang tetap berpegang teguh pada agamanya.
Pada 2014 Bilqis mengajukan petisi kepada FIBA guna mengubah aturan tersebut. Gayung bersambut. Di tahun yang sama, FIBA meninjau masukan itu.
"Ada saat-saat di mana saya seperti 'Lupakan ini, mengapa saya melakukan ini? FIBA tidak bergerak, mengapa saya masih terus maju?' Itu semakin sulit," ucap Bilqis.
Akhirnya, pada Oktober 2017 FIBA menyetujui aturan baru yang memungkinkan pemain memakai penutup kepala. Guna meminimalkan risiko cedera, warna penutup kepala itu disamakan dengan seragam tim.
Keputusan FIBA itu juga dirayakan banyak pemain dari agama lain, termasuk Yahudi yang memakai kippah dan Sikh yang menggunakan sorban.
Usaha Bilqis selama empat tahun belakangan tidak sia-sia. Pengorbanan dengan mengubur cita-cita menjadi pebasket profesional kini telah membuka jalan bagi pebasket Muslim lain dan juga agama lain terus mengejar mimpinya.
Bilqis: Saya Tak Ingin Gadis Muslim Lain Berkorban
Bilqis Abdul Qaadir dan keluarganya kini tinggal di Kanada. (Getty Images via AFP/MIKE COPPOLA)
Larangan mengenakan hijab di level profesional nyaris membuat Bilqis Abdul Qaadir putus asa. Pasalnya, Bilqis belum menemukan jalan lain dalam menyalurkan bakatnya di basket. Sementara, banyak pihak menilai Bilqis terlalu tua untuk menjadi pemain profesional.
Beruntung, Bilqis tidak kehilangan semangat bertempur di saat kehilangan obsesi terbesarnya itu. Dalam masa-masa memperjuangkan perubahan aturan FIBA, Bilqis memiliki harapan lain, yaitu mencetak generasi pemenang di dunia basket.
Pada 2014, Bilqis mendirikan tim basket Muslim Girls Hoop Too, sebuah wadah yang menanamkan rasa percaya diri, harga diri, kekuatan, dan yang penting keimanan kepada Islam melalui bola basket.
"Setelah saya memilih tidak bermain, tujuan akhir saya adalah mengajar sebanyak mungkin gadis Muslim muda bermain bola basket sehingga mereka bisa melihat, bahwa olahraga dapat menuntun mereka tidak hanya untuk berkarir, tetapi juga melalui kehidupan dengan kekuatan dan kepercayaan diri," kata Bilqis yang memperoleh gelar master dalam bidang kepelatihan dari Universitas Memphis.
Menjadi instruktur basket seperti napas baru dalam kehidupan Bilqis. Terlebih lagi ketika Bilqis bisa memberikan kemajuan kepada anak didiknya.
"Saya juga senang melihat senyuman dan kilau di wajah seorang gadis muda saat dia melakukan bidikan pertamanya dan kembali menatap saya dan berkata, 'Apakah saya baru saja melakukannya?' Untuk saat itu saya merasa hidup," ucap Bilqis.
Bilqis benar-benar inspirasi bagi banyak wanita Muslim, terutama yang menggemari basket. Lewat cerita Bilqis, para atlet basket itu tidak perlu lagi takut mengorbankan olahraga yang dicintainya tersebut.
"Saya tidak ingin gadis Muslim lain harus berkorban dan harus memilih," tutur Bilqis.
"Saya ingin memberikan ruang di mana mereka bisa datang dan bermain dan mempraktikkan keyakinan mereka, dan menembak ke ring tanpa ada yang melarang mereka," kata Bilqis menambahkan.
Pengalaman Bilqis mengajarkan anak-anak di Muslim Girls Hoop Too tidak mudah menyerah, meskipun sesuatu hal yang digemari tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebaliknya, jika masih bisa diperjuangkan, maka perlu diupayakan untuk dibuat perubahan.
Menurut laporan CBC, kini Bilqis tinggal di London, Ontario, Kanada bersama suaminya, Abdulwahid Massey, dan putranya. Suami Bilqis merupakan seorang pelatih basket di Sekolah Islam London.
Di Kanada, Bilqis dan suaminya membuka pusat kebugaran di bagian timur London, tepatnya di basement Mal Oxbury Centre di sudut Oxford Street East dan Highbury Avenue.
"Kami baru saja menikah dan sedang mencari tempat tinggal baru. Menurut kami, kenapa tidak di Kanada saja?" ucap Bilqis.
Bilqis dan suaminya merasa nyaman tinggal di Kanada dan tidak ingin kembali ke Amerika Serikat.
"Kami sangat berterima kasih kepada Kanada, dan hanya di sini disambut dengan tangan terbuka," Bilqis menjelaskan.
Bilqis tidak menyesali keputusannya menentang aturan FIBA dan mundur sebagai pemain profesional. Karena dari perjuangannya itu, dia bisa melihat pemain Muslim tampil di liga profesional.
"Ada Batouly Camara yang sekarang bermain di Spanyol, liga yang dulu sangat ingin saya rasakan. Dia mengenakan jilbab, bermain di liga di bawah naungan FIBA. Di satu sisi, saya merasakan cemburu yang halal," ucap Bilqis tertawa.
"Tapi saya suka fakta, pintu telah dibuka. Saya bangga mengatakan, jika bukan karena saya mengorbankan karier saya dan tetap kuat, dia mungkin tidak akan memiliki kesempatan bermain seperti itu," kata Bilqis menambahkan.