Deportivo Palestino, Identitas Palestina di Tanah Latin
CNN Indonesia
Selasa, 18 Mei 2021 15:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Deportivo Palestino terus menuntut kebebasan Palestina. (AFP/HAZEM BADER)
Jakarta, CNN Indonesia --
Klub Liga Chile Deportivo Palestino baru-baru ini ramai di dunia maya setelah memberikan dukungan kepada Palestina terkait serangan keamanan Israel di kompleks Al-Aqsa pada pekan lalu.
Dalam dukungannya kepada Palestina, Deportivo Palestino mengenakan keffiyeh atau sorban yang dilingkarkan di leher pemain dan juga ofisial tim jelang pertandingan melawan Colo-Colo di Liga Utama Chile.
Deportivo Palestino identik dengan Palestina. Tidak saja dari sisi nama, tetapi juga kostum tim yang menunjukkan warna kebesaran Palestina, hitam-hijau-merah-putih. Warna-warna itu juga yang membuat Palestino mendapat julukan 'Timnas Palestina kedua'.
Ditilik dari sisi sejarah, Deportivo Palestino merupakan klub sepak bola yang didirikan oleh imigran Palestina. Situs resmi klub Palestino menyebut, klub itu 'lahir' pada 1920 di Kota Osorno, di bagian selatan Chile.
Menurut laporan TRT World, gelombang pertama imigran Palestina riba di Chile pada 1885 akibat Perang Krimea. Gelombang berikutnya pada Perang Dunia I, dilanjutkan dengan gelombang lain pada perang Palestina tahun 1948.
Besarnya gelombang pengungsian itu membuat Chile disebut sebagai 'rumah' bagi komunitas Palestina di luar Timur Tengah, karena jumlahnya mencapai 450 hingga 500 ribu orang.
Pada awal-awal pendirian klub, Palestino berkompetisi di wilayah Osorno. Setelah 32 tahun berlaga sebagai tim amatir, Palestino promosi ke Divisi Dua pada 1952 dan naik kasta ke Divisi Utama di tahun yang sama.
"Klub meraih gelar juara Divisi Dua, naik level ke Divisi Utama tahun 1952," demikian tulis Palestino.
Pengalaman berkompetisi selama tiga tahun menjadi modal penting bagi Palestino meraih gelar juara Divisi Utama pada musim 1955 di bawah pelatih Argentina Guillermo Coll.
Usai juara liga teratas pada 1995, Palestino untuk kali pertama juara Copa Chile pada 1975 usai mengalahkan Lota Schwager 4-0 di Stadion Nasional.
Butuh waktu yang panjang bagi Palestino kembali berjaya di Liga Chile. Penantian panjang itu berakhir pada 1978 setelah klub berjuluk Arabes itu meraih gelar liga kedua di bawah pimpinan kapten Elias Figueroa. Setahun sebelumnya, Palestino meraih Copa Chile kedua.
Pada masa itu jadi periode kejayaan Palestino. Tidak saja menjadi juara, tetapi juga mencatatkan rekor tidak terkalahkan dan meraih gelar ganda setelah juara Copa Chile.
Total Deportivo Palestino mengoleksi dua gelar Divisi Utama dan tiga trofi Copa Chile di sepanjang sejarahnya.
Pada Januari 2014, Palestino didenda US$1.300 atau setara dengan Rp18,5 juta karena mengenakan jersey dengan warna bendera Palestina: merah, hijauh, hitam, putih. Tidak hanya itu, Palestino juga menempelkan peta wilayah Palestina sebelum direbut Israel pada 1948.
Kelompok-kelompok Yahudi di Chile memprotes kepentingan politik Palestino tersebut. Meski seragam itu digunakan di musim 2013, namun Federasi Sepak Bola Chile tetap melarang klub menggunakan peta di bagian belakang kostum.
Denda pun dijatuhkan Federasi Sepak Bola Chile kepada Palestino sebagai alasan menentang segara bentuk diskriminasi politik, agama, seksual, etnis, sosial, atau ras.
Dikutip dari The National, dalam halaman Facebook, Deportivo Palestino juga menyuarakan kebebasan Palestina dari Israel.
"Bagi kami, Palestina yang merdeka akan selalu menjadi Palestina yang bersejarah, tidak kurang," tulis Deportivo Palestino.
Perjuangan itu terus disuarakan Palestino hingga kini. Menurut Presiden Klub Jorge Uauy, Palestina tidak bisa dilepaskan dari Palestino.
"Palestina adalah bagian penting dari identitas kami sebagai sebuah tim," kata Jorge Uauy dikutip dari TRT World.
"Simbol Palestina, seperti keffiyeh, menunjukkan hubungan yang kami miliki dengan tanah air kami. Kita harus berdiri bersama melawan kesulitan," ucap Uauy menambahkan.
Klub Liga Chile Deportivo Palestino baru-baru ini ramai di dunia maya setelah memberikan dukungan kepada Palestina terkait serangan keamanan Israel di kompleks Al-Aqsa pada pekan lalu.
Dalam dukungannya kepada Palestina, Deportivo Palestino mengenakan keffiyeh atau sorban yang dilingkarkan di leher pemain dan juga ofisial tim jelang pertandingan melawan Colo-Colo di Liga Utama Chile.
Deportivo Palestino identik dengan Palestina. Tidak saja dari sisi nama, tetapi juga kostum tim yang menunjukkan warna kebesaran Palestina, hitam-hijau-merah-putih. Warna-warna itu juga yang membuat Palestino mendapat julukan 'Timnas Palestina kedua'.
Ditilik dari sisi sejarah, Deportivo Palestino merupakan klub sepak bola yang didirikan oleh imigran Palestina. Situs resmi klub Palestino menyebut, klub itu 'lahir' pada 1920 di Kota Osorno, di bagian selatan Chile.
Menurut laporan TRT World, gelombang pertama imigran Palestina riba di Chile pada 1885 akibat Perang Krimea. Gelombang berikutnya pada Perang Dunia I, dilanjutkan dengan gelombang lain pada perang Palestina tahun 1948.
Besarnya gelombang pengungsian itu membuat Chile disebut sebagai 'rumah' bagi komunitas Palestina di luar Timur Tengah, karena jumlahnya mencapai 450 hingga 500 ribu orang.
Pada awal-awal pendirian klub, Palestino berkompetisi di wilayah Osorno. Setelah 32 tahun berlaga sebagai tim amatir, Palestino promosi ke Divisi Dua pada 1952 dan naik kasta ke Divisi Utama di tahun yang sama.
"Klub meraih gelar juara Divisi Dua, naik level ke Divisi Utama tahun 1952," demikian tulis Palestino.
Pengalaman berkompetisi selama tiga tahun menjadi modal penting bagi Palestino meraih gelar juara Divisi Utama pada musim 1955 di bawah pelatih Argentina Guillermo Coll.
Usai juara liga teratas pada 1995, Palestino untuk kali pertama juara Copa Chile pada 1975 usai mengalahkan Lota Schwager 4-0 di Stadion Nasional.
Butuh waktu yang panjang bagi Palestino kembali berjaya di Liga Chile. Penantian panjang itu berakhir pada 1978 setelah klub berjuluk Arabes itu meraih gelar liga kedua di bawah pimpinan kapten Elias Figueroa. Setahun sebelumnya, Palestino meraih Copa Chile kedua.
Pada masa itu jadi periode kejayaan Palestino. Tidak saja menjadi juara, tetapi juga mencatatkan rekor tidak terkalahkan dan meraih gelar ganda setelah juara Copa Chile.
Total Deportivo Palestino mengoleksi dua gelar Divisi Utama dan tiga trofi Copa Chile di sepanjang sejarahnya.
Pada Januari 2014, Palestino didenda US$1.300 atau setara dengan Rp18,5 juta karena mengenakan jersey dengan warna bendera Palestina: merah, hijauh, hitam, putih. Tidak hanya itu, Palestino juga menempelkan peta wilayah Palestina sebelum direbut Israel pada 1948.
Kelompok-kelompok Yahudi di Chile memprotes kepentingan politik Palestino tersebut. Meski seragam itu digunakan di musim 2013, namun Federasi Sepak Bola Chile tetap melarang klub menggunakan peta di bagian belakang kostum.
Denda pun dijatuhkan Federasi Sepak Bola Chile kepada Palestino sebagai alasan menentang segara bentuk diskriminasi politik, agama, seksual, etnis, sosial, atau ras.
Dikutip dari The National, dalam halaman Facebook, Deportivo Palestino juga menyuarakan kebebasan Palestina dari Israel.
"Bagi kami, Palestina yang merdeka akan selalu menjadi Palestina yang bersejarah, tidak kurang," tulis Deportivo Palestino.
Perjuangan itu terus disuarakan Palestino hingga kini. Menurut Presiden Klub Jorge Uauy, Palestina tidak bisa dilepaskan dari Palestino.
"Palestina adalah bagian penting dari identitas kami sebagai sebuah tim," kata Jorge Uauy dikutip dari TRT World.
"Simbol Palestina, seperti keffiyeh, menunjukkan hubungan yang kami miliki dengan tanah air kami. Kita harus berdiri bersama melawan kesulitan," ucap Uauy menambahkan.