Bukayo Saka, Bocah 19 Tahun Blunder Terbesar Southgate
Haryanto Tri Wibowo | CNN Indonesia
Senin, 12 Jul 2021 20:25 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Bukayo Saka mendapat tekanan luar biasa saat menendang penalti Inggris di final Euro 2020. (AP/John Sibley)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bukayo Saka menjadi kambing hitam kegagalan timnas Inggris menjadi juara Euro 2020 setelah penaltinya diblok Gianluigi Donnarumma di laga final. Sebuah tugas yang amat berat bagi seorang pemain yang masih 19 tahun.
Jalan kaki dari tengah lapangan ke kotak penalti Stadion Wembley mungkin jalan kaki terlama dan paling menegangkan yang pernah dilakukan Saka.
Sekitar 67 ribu pasang mata di Stadion Wembley mengarahkan pandangan ke arah Saka yang berjalan dan bersiap mengeksekusi penalti ke gawang Donarumma.
Puluhan ribu suporter pun merasakan ketegangan, terutama suporter Inggris. Pasalnya, jika Saka berhasil mengeksekusi penalti maka timnas Inggris berpeluang kembali menjadi juara di turnamen besar. Sesuatu yang kali terakhir Inggris rasakan pada Piala Dunia 1966.
Harapan menjadi juara Euro 2020 sangat besar di antara masyarakat Inggris. Slogan 'It's Coming Home' sepertinya akan jadi kenyataan setelah The Three Lions sukses melangkah ke final turnamen besar untuk kali pertama sejak Piala Dunia 1966.
Namun apakah tepat memberi beban berat, beban mengakhiri kutukan juara Inggris yang sudah bertahan 55 tahun, kepada seorang pemain yang masih minim pengalaman di sepak bola senior seperti Bukayo Saka?
Bukayo Saka usai gagal mengeksekusi penalti saat melawan Italia di final Euro 2020. (AP Photo/Frank Augstein, Pool)
Dalam sepak bola ada istilah: "Semua strategi terdengar indah usai pertandingan".
Itulah yang terjadi saat ini. Berbagai macam kritikan didapat Gareth Southgate setelah memberi kepercayaan Saka menjadi eksekutor terakhir timnas Inggris saat adu penalti melawan Italia.
Kritikan paling keras disuarakan mantan kapten Manchester United Roy Keane. Keane tidak mengkritik Southgate secara langsung, namun mengarahkan kritikan kepada sejumlah pemain senior di skuad Inggris, seperti Raheem Sterling dan Jack Grealish, yang tidak berani mengambil tendangan penalti.
Andai Saka berhasil membobol gawang Donnarumma saat adu penalti dan Inggris menjadi juara Euro 2020, mungkin responsnya akan lain. Strategi Southgate menaruh Saka sebagai penendang terakhir akan mendapat pujian luar biasa. Sayang, kenyataannya tidak seperti itu.
Southgate mengatakan keputusan untuk menaruh Saka sebagai penendang terakhir, begitu juga dengan Marcus Rashford dan Jadon Sancho, diambil berdasarkan performa menendang penalti saat latihan.
Di antara keputusan yang diambil Southgate selama Euro 2020, mungkin menaruh Saka sebagai penendang terakhir pada laga final adalah yang paling tidak masuk akal.
Pergerakan Saka di sayap kanan merupakan salah satu kunci sukses Tiga Singa lolos ke final. Tapi, Southgate lupa satu faktor penting dalam menentukan Saka sebagai eksekutor penalti: Pengalaman!
Euro 2020 adalah turnamen besar pertama yang diikuti Saka, pemain berdarah Nigeria yang baru masuk di sepak bola profesional pada 2018. Tekanan mengambil penalti saat sesi latihan akan jauh berbeda daripada saat melakukannya di sebuah final Euro.
Catatan lainnya adalah: Saka tidak pernah mengambil tendangan penalti di level senior. Bisa dibayangkan betapa tegangnya Saka saat menghadapi Donnarumma yang memiliki tubuh luar biasa besar di bawah gawang Italia.
Tidak hanya dia melakukan penalti pertama di level senior, Saka juga harus melakukannya sebagai penendang terakhir, di final Euro, di depan hadapan puluhan ribu suporter, untuk timnas yang negaranya sangat gila sepak bola dan tidak pernah menjadi juara dalam 55 tahun terakhir.
Untuk menerima keputusan Southgate yang menunjuknya sebagai eksekutor terakhir saja Saka seharusnya pantas mendapat pujian. Karena masih ada sejumlah pemain Inggris yang lebih pantas dan punya pengalaman lebih banyak untuk menjadi penendang penalti terakhir, seperti Raheem Sterling, Jack Grealish, John Stones, atau Luke Shaw.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Saka memang sudah tiga tahun bermain secara profesional, namun secara pengalaman di sepak bola internasional, winger kelahiran 5 September 2001 itu terbilang masih 'bocah'.
Bukayo dalam bahasa Nigeria berarti 'menambah kegembiraan'. Sayang Saka tidak bisa memberi kegembiraan bagi masyarakat Inggris di Euro 2020. Namun itu bukan kesalahan Saka, tapi lebih kepada kesalahan Southgate.
Sekali lagi akan terasa lebih mudah mengkritik seorang pelatih usai kekalahan timnya, tapi dengan segudang pengalaman Southgate seharusnya tahu Saka belum siap menjalankan tugasnya. Memilih Saka, bocah 19 tahun minim pengalaman, sebagai penendang penalti terakhir di Euro 2020 adalah blunder terbesar Southgate.
Bukayo Saka menjadi kambing hitam kegagalan timnas Inggris menjadi juara Euro 2020 setelah penaltinya diblok Gianluigi Donnarumma di laga final. Sebuah tugas yang amat berat bagi seorang pemain yang masih 19 tahun.
Jalan kaki dari tengah lapangan ke kotak penalti Stadion Wembley mungkin jalan kaki terlama dan paling menegangkan yang pernah dilakukan Saka.
Sekitar 67 ribu pasang mata di Stadion Wembley mengarahkan pandangan ke arah Saka yang berjalan dan bersiap mengeksekusi penalti ke gawang Donarumma.
Puluhan ribu suporter pun merasakan ketegangan, terutama suporter Inggris. Pasalnya, jika Saka berhasil mengeksekusi penalti maka timnas Inggris berpeluang kembali menjadi juara di turnamen besar. Sesuatu yang kali terakhir Inggris rasakan pada Piala Dunia 1966.
Harapan menjadi juara Euro 2020 sangat besar di antara masyarakat Inggris. Slogan 'It's Coming Home' sepertinya akan jadi kenyataan setelah The Three Lions sukses melangkah ke final turnamen besar untuk kali pertama sejak Piala Dunia 1966.
Namun apakah tepat memberi beban berat, beban mengakhiri kutukan juara Inggris yang sudah bertahan 55 tahun, kepada seorang pemain yang masih minim pengalaman di sepak bola senior seperti Bukayo Saka?
Bukayo Saka usai gagal mengeksekusi penalti saat melawan Italia di final Euro 2020. (AP Photo/Frank Augstein, Pool)
Dalam sepak bola ada istilah: "Semua strategi terdengar indah usai pertandingan".
Itulah yang terjadi saat ini. Berbagai macam kritikan didapat Gareth Southgate setelah memberi kepercayaan Saka menjadi eksekutor terakhir timnas Inggris saat adu penalti melawan Italia.
Kritikan paling keras disuarakan mantan kapten Manchester United Roy Keane. Keane tidak mengkritik Southgate secara langsung, namun mengarahkan kritikan kepada sejumlah pemain senior di skuad Inggris, seperti Raheem Sterling dan Jack Grealish, yang tidak berani mengambil tendangan penalti.
Andai Saka berhasil membobol gawang Donnarumma saat adu penalti dan Inggris menjadi juara Euro 2020, mungkin responsnya akan lain. Strategi Southgate menaruh Saka sebagai penendang terakhir akan mendapat pujian luar biasa. Sayang, kenyataannya tidak seperti itu.
Southgate mengatakan keputusan untuk menaruh Saka sebagai penendang terakhir, begitu juga dengan Marcus Rashford dan Jadon Sancho, diambil berdasarkan performa menendang penalti saat latihan.
Di antara keputusan yang diambil Southgate selama Euro 2020, mungkin menaruh Saka sebagai penendang terakhir pada laga final adalah yang paling tidak masuk akal.
Baca lanjutan analisis ini di halaman kedua >>>
Saka Korban Keputusan Buruk Southgate
Para pemain timnas Inggris coba menghibur Bukayo Saka. (AP/Carl Recine)
Pergerakan Saka di sayap kanan merupakan salah satu kunci sukses Tiga Singa lolos ke final. Tapi, Southgate lupa satu faktor penting dalam menentukan Saka sebagai eksekutor penalti: Pengalaman!
Euro 2020 adalah turnamen besar pertama yang diikuti Saka, pemain berdarah Nigeria yang baru masuk di sepak bola profesional pada 2018. Tekanan mengambil penalti saat sesi latihan akan jauh berbeda daripada saat melakukannya di sebuah final Euro.
Catatan lainnya adalah: Saka tidak pernah mengambil tendangan penalti di level senior. Bisa dibayangkan betapa tegangnya Saka saat menghadapi Donnarumma yang memiliki tubuh luar biasa besar di bawah gawang Italia.
Tidak hanya dia melakukan penalti pertama di level senior, Saka juga harus melakukannya sebagai penendang terakhir, di final Euro, di depan hadapan puluhan ribu suporter, untuk timnas yang negaranya sangat gila sepak bola dan tidak pernah menjadi juara dalam 55 tahun terakhir.
Untuk menerima keputusan Southgate yang menunjuknya sebagai eksekutor terakhir saja Saka seharusnya pantas mendapat pujian. Karena masih ada sejumlah pemain Inggris yang lebih pantas dan punya pengalaman lebih banyak untuk menjadi penendang penalti terakhir, seperti Raheem Sterling, Jack Grealish, John Stones, atau Luke Shaw.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Saka memang sudah tiga tahun bermain secara profesional, namun secara pengalaman di sepak bola internasional, winger kelahiran 5 September 2001 itu terbilang masih 'bocah'.
Bukayo dalam bahasa Nigeria berarti 'menambah kegembiraan'. Sayang Saka tidak bisa memberi kegembiraan bagi masyarakat Inggris di Euro 2020. Namun itu bukan kesalahan Saka, tapi lebih kepada kesalahan Southgate.
Sekali lagi akan terasa lebih mudah mengkritik seorang pelatih usai kekalahan timnya, tapi dengan segudang pengalaman Southgate seharusnya tahu Saka belum siap menjalankan tugasnya. Memilih Saka, bocah 19 tahun minim pengalaman, sebagai penendang penalti terakhir di Euro 2020 adalah blunder terbesar Southgate.