Eko Yuli Irawan bakal jadi salah satu andalan Indonesia meraih medali di Olimpiade. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dari rombongan atlet Indonesia yang akan tampil di Olimpiade Tokyo 2020 ada satu sosok veteran. Ia adalah Eko Yuli Irawan, atlet angkat besi kelas 62 kilogram (kg) putra yang penuh prestasi.
Eko Yuli lahir di desa Tejo Agung, kecamatan Metro Timur, Kota Metro, Lampung, dari pasangan Saman dan Wastinah, pada 24 Juli 1989. Ayahnya bekerja sebagai pengayuh becak, sedangkan sang ibu merupakan penjual sayuran.
Saat masih bocah, sepulang sekolah Eko mengisi waktu dengan menggembala kambing. Saat usia 11 tahun, tepatnya pada tahun 2000, Eko memutuskan ikut berlatih angkat besi bersama Yon Haryono yang baru membuka Sasana Kota Metro (Komet).
Selain Eko, ada delapan bocah lainnya yang tertarik mengikuti Yon dengan aktivitas angkat besinya. Beberapa di antaranya adalah Triyatno dan Edi Kurniawan, yang juga membuat harum nama Lampung sebagai penghasil atlet angkat besi.
Dua tahun dibina Yon, Eko dan kawan-kawan tumbuh menjadi bocah berbakat. Buktinya, pada 2002 Yon mengajak anak didiknya itu mengikuti kejuaraan nasional (Kejurnas) Remaja Yunior di Indramayu, Jawa Barat.
Saat itu Eko dan rekan berkompetisi di bawah bendera Kalimantan Selatan dan bukan Lampung. Hasilnya, lima medali emas diraih bocah-bocah binaan Yon ini, termasuk Eko. Hal sama ditorehkan dalam Kejurnas Angkat Besi di Denpasar Bali pada 2003.
Eko Yuli Irawan sudah menunjukkan prestasi level dunia sejak usia muda. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro )
Berkibar di pentas kejurnas, Eko dan kawan-kawan dipinang PB PABBSI. Ketua Umum PABBSI saat itu, Dharma Surya, menawarkan ke Yon agar anak didiknya berlatih di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat. Fasilitas latihan di sini lebih lengkap.
Pelatihan di Parung Panjang ini akhirnya mengantarkan Eko tampil di Kejuaraan Dunia Junior 2006. Eko meraih medali perak kategori 56 kg, dengan total angkatan 269.
Pada tahun yang sama ia tampil di Kejuaraan Dunia di Santo Domingo, Republik Dominika. Tampil di kategori 56 kg, Eko berada di urutan ke-8 dengan angkatan 266 kg. Saat itu usianya baru 17 tahun.
Setelah momen tersebut, Eko terus berlatih lebih keras. Tempaan pelatih Lukman tak sia-sia. Dalam Kejuaraan Dunia Junior 2007 Eko meraih medali emas kategori 56 kg dengan angkatan seberat 273 kg.
Pada September 2007, Eko berangkat ke Chiang Mai, Thailand, untuk Kejuaraan Dunia 2007. Hasilnya, ia meraih medali perunggu dengan total angkatan 278 kg. Sebulan kemudian Eko meraih medali emas SEA Games 2007.
Nama Eko pun makin menjulang sebagai salah satu atlet Indonesia yang bisa diandalkan mengukir prestasi di kancah Olimpiade.
Ganti tahun, atas saran sang pelatih ia naik ke kelas 62 kg. Untuk menguji kemampuannya di kelas baru, Eko tampil dalam Kejuaraan Asia 2008 di Jepang pada Mei 2008. Ia meraih medali perak dengan total angkatan 305 kg.
Sepulang dari Jepang, Eko disarankan turun lagi ke kelas 56 kg. Alibinya agar meraih medali emas Olimpiade 2008 di China. Eko muda yang masih 19 tahun pun manut. Diet ketat pun dijalani. Perjuangan Eko di debut Olimpiade-nya berujung medali perunggu.
Selepas Olimpiade, Eko memutuskan kembali ke kelas 62 kg. Ia merasa bobot tubuhnya sudah pas di angka tersebut. Otot-ototnya pun terasa maksimal untuk kelas ini. Tampil kembali di kelas 62kg, Eko meraih medali perak Kejuaraan Dunia 2009 dengan angkatan 315 kg.
Baca lanjutan artikel di halaman berikut >>>
Untuk level Olimpiade, Eko sudah mencatatkan namanya sebagai atlet yang mampu selalu memberikan medali di tiga Olimpiade yang pernah ia ikuti.
Total Eko sudah meraih satu perak dan dua perunggu. Andai bisa kembali meraih medali di Olimpiade Tokyo, Eko bakal jadi atlet Indonesia pertama yang mampu meraih empat medali Olimpiade sepanjang kariernya.
Modal Eko untuk percaya diri bisa datang dari ajang Asian Games 2018. Di multi event tersebut, Eko bisa meraih medali emas sekaligus menyudahi penantian panjang podium tertinggi di level Asian Games.
Eko tentu tak tanggung-tanggung pasang target di Tokyo. Ia tak hanya sekadar bermimpi meraih medali, melainkan juga ingin merebut emas Olimpiade yang belum pernah dimilikinya.
Andai emas Olimpiade bisa direbut Eko di Tokyo, Eko juga memecahkan rekor sebagai atlet Indonesia pertama yang punya koleksi emas, perak, dan perunggu Olimpiade.
Salah satu pesaing terberat Eko untuk mewujudkan mimpi emas Olimpiade adalah atlet China berusia 28 tahun, Li Fabin, yang saat ini menempati peringkat kesatu International Weightlifting Federation (IWF).
Eko Yuli Irawan bakal merayakan ulang tahun di Olimpiade Tokyo. (ANTARA FOTO/INASGOC/Fanny Octavianus)
Dalam perjalanan menuju Olimpiade Tokyo 2020, catatan terbaik Li Fabin untuk snatch adalah 145 kg, sedangkan angkatan clean and Jerk 173 kg. Total angkatan terbaiknya adalah 318 kg. Torehan ini tercipta saat tampil di Pattaya pada 2019.
Sedangkan angkatan terbaik Eko menuju Olimpiade Tokyo 2020 untuk snatch adalah 140kg saat tampil di Manila pada 2019, dan clean and jerk seberat 174kg ketika tampil di Ashgabat, Uzbekistan.
Jika merujuk seluruh karier panjang Eko Yuli sejak 2006 saat tampil di kejuaraan dunia junior hingga 2020, total angkatan terbaiknya adalah 317kg, yakni saat kejuaraan dunia 2018 dan Olimpiade 2012.
Ambisi Eko di Olimpiade Tokyo 2020 adalah mencapai 325 kg. Rinciannya, 148 kg untuk snatch dan 177 hingga 180 untuk clean and jerk. Ini bukan target mudah, sebab total angkatan terakhir Eko adalah 310 kg dalam Piala Fajr di Iran pada Februari 2021.
"Setiap bulan target saya dalam latihan minimal angkatan naik 5 kilogram," kata Eko Yuli kepada CNNIndonesia.com pada April 2021.
Eko Yuli Irawan bakal merayakan ulang tahun ke-32 di Olimpiade Tokyo pada 24 Juli mendatang. Eko tentu berharap bisa memberi kado indah medali emas pada dirinya sendiri.
Dari rombongan atlet Indonesia yang akan tampil di Olimpiade Tokyo 2020 ada satu sosok veteran. Ia adalah Eko Yuli Irawan, atlet angkat besi kelas 62 kilogram (kg) putra yang penuh prestasi.
Eko Yuli lahir di desa Tejo Agung, kecamatan Metro Timur, Kota Metro, Lampung, dari pasangan Saman dan Wastinah, pada 24 Juli 1989. Ayahnya bekerja sebagai pengayuh becak, sedangkan sang ibu merupakan penjual sayuran.
Saat masih bocah, sepulang sekolah Eko mengisi waktu dengan menggembala kambing. Saat usia 11 tahun, tepatnya pada tahun 2000, Eko memutuskan ikut berlatih angkat besi bersama Yon Haryono yang baru membuka Sasana Kota Metro (Komet).
Selain Eko, ada delapan bocah lainnya yang tertarik mengikuti Yon dengan aktivitas angkat besinya. Beberapa di antaranya adalah Triyatno dan Edi Kurniawan, yang juga membuat harum nama Lampung sebagai penghasil atlet angkat besi.
Dua tahun dibina Yon, Eko dan kawan-kawan tumbuh menjadi bocah berbakat. Buktinya, pada 2002 Yon mengajak anak didiknya itu mengikuti kejuaraan nasional (Kejurnas) Remaja Yunior di Indramayu, Jawa Barat.
Saat itu Eko dan rekan berkompetisi di bawah bendera Kalimantan Selatan dan bukan Lampung. Hasilnya, lima medali emas diraih bocah-bocah binaan Yon ini, termasuk Eko. Hal sama ditorehkan dalam Kejurnas Angkat Besi di Denpasar Bali pada 2003.
Eko Yuli Irawan sudah menunjukkan prestasi level dunia sejak usia muda. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro )
Berkibar di pentas kejurnas, Eko dan kawan-kawan dipinang PB PABBSI. Ketua Umum PABBSI saat itu, Dharma Surya, menawarkan ke Yon agar anak didiknya berlatih di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat. Fasilitas latihan di sini lebih lengkap.
Pelatihan di Parung Panjang ini akhirnya mengantarkan Eko tampil di Kejuaraan Dunia Junior 2006. Eko meraih medali perak kategori 56 kg, dengan total angkatan 269.
Pada tahun yang sama ia tampil di Kejuaraan Dunia di Santo Domingo, Republik Dominika. Tampil di kategori 56 kg, Eko berada di urutan ke-8 dengan angkatan 266 kg. Saat itu usianya baru 17 tahun.
Setelah momen tersebut, Eko terus berlatih lebih keras. Tempaan pelatih Lukman tak sia-sia. Dalam Kejuaraan Dunia Junior 2007 Eko meraih medali emas kategori 56 kg dengan angkatan seberat 273 kg.
Pada September 2007, Eko berangkat ke Chiang Mai, Thailand, untuk Kejuaraan Dunia 2007. Hasilnya, ia meraih medali perunggu dengan total angkatan 278 kg. Sebulan kemudian Eko meraih medali emas SEA Games 2007.
Nama Eko pun makin menjulang sebagai salah satu atlet Indonesia yang bisa diandalkan mengukir prestasi di kancah Olimpiade.
Ganti tahun, atas saran sang pelatih ia naik ke kelas 62 kg. Untuk menguji kemampuannya di kelas baru, Eko tampil dalam Kejuaraan Asia 2008 di Jepang pada Mei 2008. Ia meraih medali perak dengan total angkatan 305 kg.
Sepulang dari Jepang, Eko disarankan turun lagi ke kelas 56 kg. Alibinya agar meraih medali emas Olimpiade 2008 di China. Eko muda yang masih 19 tahun pun manut. Diet ketat pun dijalani. Perjuangan Eko di debut Olimpiade-nya berujung medali perunggu.
Selepas Olimpiade, Eko memutuskan kembali ke kelas 62 kg. Ia merasa bobot tubuhnya sudah pas di angka tersebut. Otot-ototnya pun terasa maksimal untuk kelas ini. Tampil kembali di kelas 62kg, Eko meraih medali perak Kejuaraan Dunia 2009 dengan angkatan 315 kg.
Baca lanjutan artikel di halaman berikut >>>
Olimpiade Keempat, Bidik Emas Perdana
Eko Yuli Irawan mengoleksi 1 perak dan 2 perunggu dari tiga Olimpiade yang ia ikuti. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Untuk level Olimpiade, Eko sudah mencatatkan namanya sebagai atlet yang mampu selalu memberikan medali di tiga Olimpiade yang pernah ia ikuti.
Total Eko sudah meraih satu perak dan dua perunggu. Andai bisa kembali meraih medali di Olimpiade Tokyo, Eko bakal jadi atlet Indonesia pertama yang mampu meraih empat medali Olimpiade sepanjang kariernya.
Modal Eko untuk percaya diri bisa datang dari ajang Asian Games 2018. Di multi event tersebut, Eko bisa meraih medali emas sekaligus menyudahi penantian panjang podium tertinggi di level Asian Games.
Eko tentu tak tanggung-tanggung pasang target di Tokyo. Ia tak hanya sekadar bermimpi meraih medali, melainkan juga ingin merebut emas Olimpiade yang belum pernah dimilikinya.
Andai emas Olimpiade bisa direbut Eko di Tokyo, Eko juga memecahkan rekor sebagai atlet Indonesia pertama yang punya koleksi emas, perak, dan perunggu Olimpiade.
Salah satu pesaing terberat Eko untuk mewujudkan mimpi emas Olimpiade adalah atlet China berusia 28 tahun, Li Fabin, yang saat ini menempati peringkat kesatu International Weightlifting Federation (IWF).
Eko Yuli Irawan bakal merayakan ulang tahun di Olimpiade Tokyo. (ANTARA FOTO/INASGOC/Fanny Octavianus)
Dalam perjalanan menuju Olimpiade Tokyo 2020, catatan terbaik Li Fabin untuk snatch adalah 145 kg, sedangkan angkatan clean and Jerk 173 kg. Total angkatan terbaiknya adalah 318 kg. Torehan ini tercipta saat tampil di Pattaya pada 2019.
Sedangkan angkatan terbaik Eko menuju Olimpiade Tokyo 2020 untuk snatch adalah 140kg saat tampil di Manila pada 2019, dan clean and jerk seberat 174kg ketika tampil di Ashgabat, Uzbekistan.
Jika merujuk seluruh karier panjang Eko Yuli sejak 2006 saat tampil di kejuaraan dunia junior hingga 2020, total angkatan terbaiknya adalah 317kg, yakni saat kejuaraan dunia 2018 dan Olimpiade 2012.
Ambisi Eko di Olimpiade Tokyo 2020 adalah mencapai 325 kg. Rinciannya, 148 kg untuk snatch dan 177 hingga 180 untuk clean and jerk. Ini bukan target mudah, sebab total angkatan terakhir Eko adalah 310 kg dalam Piala Fajr di Iran pada Februari 2021.
"Setiap bulan target saya dalam latihan minimal angkatan naik 5 kilogram," kata Eko Yuli kepada CNNIndonesia.com pada April 2021.
Eko Yuli Irawan bakal merayakan ulang tahun ke-32 di Olimpiade Tokyo pada 24 Juli mendatang. Eko tentu berharap bisa memberi kado indah medali emas pada dirinya sendiri.