Indonesia yang Malu-malu Target Dua Emas Olimpiade Tokyo
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Jumat, 23 Jul 2021 17:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Target Menpora soal perbaikan peringkat Indonesia tidak merinci jumlah medali yang dibidik(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali menegaskan target Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 adalah perbaikan peringkat tanpa secara khusus menyebut jumlah medali. Padahal target dua emas kemungkinan besar sudah menggaransi hal tersebut.
"Dan Olimpiade 2020 akan lebih baik dari Olimpiade sebelumnya. Target kita langsung peringkat, jadi kita tak menyebut berapa emas, perak, perunggu. Tapi saat diskusi, sangat gampang di monitor. Jadi dalam grand desain target kita harus lebih baik dari yang terakhir," kata Menpora Amali saat konferensi pers virtual, Kamis (8/7).
Bila berkaca pada ucapan tersebut, Indonesia memasang target lebih baik dari posisi 46 dunia yang didapat di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Saat itu Indonesia pulang dengan catatan 1 emas dan 2 perak.
Di ajang Olimpiade, target peringkat yang dikumandangkan Menpora terbilang samar karena memang kemudian tidak ada penjelasan lebih rinci tentang peringkat yang dibidik dan sasaran emas yang dituju demi memuluskan target tersebut.
Tolok ukur target peringkat lebih baik dari 46 pun akhirnya nanti bakal tetap bergantung pada pencapaian negara-negara lain.
Menpora Zainudin Amali tidak memasang target medali melainkan target peringkat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Padahal bila berkaca pada pola yang ada di Olimpiade selama ini, tidak banyak pergerakan signifikan soal peluang raihan peringkat dari Olimpiade ke Olimpiade berdasarkan medali di tangan.
Dalam lima Olimpiade terakhir, Indonesia berada di kisaran posisi 40-an dengan raihan satu emas di tangan. Posisi terbaik dengan satu emas di tangan adalah peringkat ke-38 pada Olimpiade Sydney 2000. Sedangkan posisi terendah dengan satu emas di tangan adalah peringkat ke-48 di Olimpiade 2004.
Pola yang sama juga tersaji pada negara dengan dua medali emas Olimpiade. Dalam lima Olimpiade terakhir, negara dengan raihan dua emas bakal menempati posisi yang serupa dengan rincian sebagai berikut peringkat 29-34 di Olimpiade 1996, peringkat 28-36 di Olimpiade 2000, peringkat 27-39 di Olimpiade 2004, peringkat 29-37 di Olimpiade 2008, peringkat 27-36 di Olimpiade 2012, dan peringkat 28-38 di Olimpiade 2016.
Dengan pola demikian, di atas kertas, Indonesia bakal punya peringkat lebih baik dibandingkan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 bila meraih dua emas dari Olimpiade Tokyo 2020.
Entah lantaran Menpora tak mau memberikan beban berlebihan pada atlet, namun yang pasti target dua emas bakal lebih mudah dijadikan tolok ukur pencapaian prestasi Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020.
Andaikata nantinya dengan dua emas, Indonesia masih berada di bawah posisi 46, setidaknya target dua emas akan tetap dicap berhasil.
Dalam sejarah Olimpiade, Indonesia baru satu kali meraih dua emas dalam satu penyelenggaraan, yaitu pada Olimpiade Barcelona 1992. Dengan torehan 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu, Indonesia mengakhiri Olimpiade di peringkat ke-24.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Dari sejarah perjalanan Indonesia, baru cabang olahraga bulutangkis yang bisa mempersembahkan emas Olimpiade untuk Indonesia.
Dua cabang olahraga lainnya, angkat besi dan panahan adalah cabor yang telah sukses memberikan medali Olimpiade untuk Indonesia.
Di Olimpiade Tokyo 2020, tim bulutangkis Indonesia bakal kembali berada di baris terdepan untuk menanggung target medali emas. Hendra Setiawan dan kawan-kawan bakal bahu-membahu memenuhi target tersebut.
Dari komposisi tim badminton Indonesia, mayoritas berisi debutan Olimpiade seperti Jonatan Christie, Anthony Ginting, Gregoria Mariska, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Apriyani Rahayu, dan Melati Daeva Oktavianti.
Hanya Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Greysia Polii, dan Praveen Jordan yang punya pengalaman tampil di Olimpiade sebelumnya.
Dari komposisi tim, nomor ganda putra paling diharapkan meraih emas karena punya unggulan 1 dan 2 dalam diri Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra, sedangkan berikutnya adalah Praveen/Melati yang menempati unggulan keempat.
Eko Yuli Irawan punya jam terbang tinggi di Olimpiade karena sudah tampil sejak 2008. (AFP/JUNG YEON-JE)
Greysia/Apriyani dan Jonatan serta Ginting punya kedudukan yang serupa sebagai wakil yang punya potensi menyumbang medali dan membuat kejutan. Sedangkan Gregoria diharapkan bisa tampil di level terbaik sehingga membuka peluang merintis harapan merebut medali untuk tunggal putri.
Selain berharap tim bulutangkis bisa menunaikan target medali emas, angkat besi dan panahan adalah cabor lainnya dari Indonesia yang mengusung target tinggi.
Eko Yuli Irawan bakal berusaha keras memaksimalkan Olimpiade keempat dalam kariernya untuk meraih podium tertinggi. Eko dibekali pengalaman dan jam terbang tinggi yang membuatnya punya mental tangguh di kompetisi penting macam Olimpiade.
Windy Cantika juga diharapkan bisa menyumbang medali seiring kemampuannya bersinar dan berkembang pesat dalam waktu singkat.
Panahan juga jadi cabor yang mengusung target tinggi meraih emas di Olimpiade Tokyo 2020. Panahan punya modal bagus untuk percaya diri seiring hasil yang mereka dapat selama ini.
Cabor-cabor lain juga tentu diharapkan membuat kejutan dan mengukir sejarah sebagai cabor baru yang memberi medali untuk Indonesia di Olimpiade.
Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali menegaskan target Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 adalah perbaikan peringkat tanpa secara khusus menyebut jumlah medali. Padahal target dua emas kemungkinan besar sudah menggaransi hal tersebut.
"Dan Olimpiade 2020 akan lebih baik dari Olimpiade sebelumnya. Target kita langsung peringkat, jadi kita tak menyebut berapa emas, perak, perunggu. Tapi saat diskusi, sangat gampang di monitor. Jadi dalam grand desain target kita harus lebih baik dari yang terakhir," kata Menpora Amali saat konferensi pers virtual, Kamis (8/7).
Bila berkaca pada ucapan tersebut, Indonesia memasang target lebih baik dari posisi 46 dunia yang didapat di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Saat itu Indonesia pulang dengan catatan 1 emas dan 2 perak.
Di ajang Olimpiade, target peringkat yang dikumandangkan Menpora terbilang samar karena memang kemudian tidak ada penjelasan lebih rinci tentang peringkat yang dibidik dan sasaran emas yang dituju demi memuluskan target tersebut.
Tolok ukur target peringkat lebih baik dari 46 pun akhirnya nanti bakal tetap bergantung pada pencapaian negara-negara lain.
Menpora Zainudin Amali tidak memasang target medali melainkan target peringkat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Padahal bila berkaca pada pola yang ada di Olimpiade selama ini, tidak banyak pergerakan signifikan soal peluang raihan peringkat dari Olimpiade ke Olimpiade berdasarkan medali di tangan.
Dalam lima Olimpiade terakhir, Indonesia berada di kisaran posisi 40-an dengan raihan satu emas di tangan. Posisi terbaik dengan satu emas di tangan adalah peringkat ke-38 pada Olimpiade Sydney 2000. Sedangkan posisi terendah dengan satu emas di tangan adalah peringkat ke-48 di Olimpiade 2004.
Pola yang sama juga tersaji pada negara dengan dua medali emas Olimpiade. Dalam lima Olimpiade terakhir, negara dengan raihan dua emas bakal menempati posisi yang serupa dengan rincian sebagai berikut peringkat 29-34 di Olimpiade 1996, peringkat 28-36 di Olimpiade 2000, peringkat 27-39 di Olimpiade 2004, peringkat 29-37 di Olimpiade 2008, peringkat 27-36 di Olimpiade 2012, dan peringkat 28-38 di Olimpiade 2016.
Dengan pola demikian, di atas kertas, Indonesia bakal punya peringkat lebih baik dibandingkan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 bila meraih dua emas dari Olimpiade Tokyo 2020.
Entah lantaran Menpora tak mau memberikan beban berlebihan pada atlet, namun yang pasti target dua emas bakal lebih mudah dijadikan tolok ukur pencapaian prestasi Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020.
Andaikata nantinya dengan dua emas, Indonesia masih berada di bawah posisi 46, setidaknya target dua emas akan tetap dicap berhasil.
Dalam sejarah Olimpiade, Indonesia baru satu kali meraih dua emas dalam satu penyelenggaraan, yaitu pada Olimpiade Barcelona 1992. Dengan torehan 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu, Indonesia mengakhiri Olimpiade di peringkat ke-24.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Bulutangkis Tumpuan, Angkat Besi dan Panahan Harapan
Kevin/Marcus jadi salah satu harapan Indonesia meraih emas Olimpiade. (dok. PBSI)
Dari sejarah perjalanan Indonesia, baru cabang olahraga bulutangkis yang bisa mempersembahkan emas Olimpiade untuk Indonesia.
Dua cabang olahraga lainnya, angkat besi dan panahan adalah cabor yang telah sukses memberikan medali Olimpiade untuk Indonesia.
Di Olimpiade Tokyo 2020, tim bulutangkis Indonesia bakal kembali berada di baris terdepan untuk menanggung target medali emas. Hendra Setiawan dan kawan-kawan bakal bahu-membahu memenuhi target tersebut.
Dari komposisi tim badminton Indonesia, mayoritas berisi debutan Olimpiade seperti Jonatan Christie, Anthony Ginting, Gregoria Mariska, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Apriyani Rahayu, dan Melati Daeva Oktavianti.
Hanya Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Greysia Polii, dan Praveen Jordan yang punya pengalaman tampil di Olimpiade sebelumnya.
Dari komposisi tim, nomor ganda putra paling diharapkan meraih emas karena punya unggulan 1 dan 2 dalam diri Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra, sedangkan berikutnya adalah Praveen/Melati yang menempati unggulan keempat.
Eko Yuli Irawan punya jam terbang tinggi di Olimpiade karena sudah tampil sejak 2008. (AFP/JUNG YEON-JE)
Greysia/Apriyani dan Jonatan serta Ginting punya kedudukan yang serupa sebagai wakil yang punya potensi menyumbang medali dan membuat kejutan. Sedangkan Gregoria diharapkan bisa tampil di level terbaik sehingga membuka peluang merintis harapan merebut medali untuk tunggal putri.
Selain berharap tim bulutangkis bisa menunaikan target medali emas, angkat besi dan panahan adalah cabor lainnya dari Indonesia yang mengusung target tinggi.
Eko Yuli Irawan bakal berusaha keras memaksimalkan Olimpiade keempat dalam kariernya untuk meraih podium tertinggi. Eko dibekali pengalaman dan jam terbang tinggi yang membuatnya punya mental tangguh di kompetisi penting macam Olimpiade.
Windy Cantika juga diharapkan bisa menyumbang medali seiring kemampuannya bersinar dan berkembang pesat dalam waktu singkat.
Panahan juga jadi cabor yang mengusung target tinggi meraih emas di Olimpiade Tokyo 2020. Panahan punya modal bagus untuk percaya diri seiring hasil yang mereka dapat selama ini.
Cabor-cabor lain juga tentu diharapkan membuat kejutan dan mengukir sejarah sebagai cabor baru yang memberi medali untuk Indonesia di Olimpiade.