TESTIMONI

Eng Hian: Enggan Jadi Kompeni demi Merah Putih

Eng Hian, CNN Indonesia | Rabu, 01/09/2021 19:07 WIB
Eng Hian pernah bermain dan melatih untuk negara lain, namun panggilan mengharumkan nama Indonesia tetap jadi tujuan utama. Eng Hian (kiri) ketika meraih medali perunggu di Olimpiade 2004 bersama Flandy Limpele. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau ada yang bilang jadi pelatih lebih tegang dibanding main, itu benar sekali. Saya merasakan betul itu, termasuk saat melihat perjuangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020 kemarin.

Menjadi pelatih itu tegangnya bukan main, duduk enggak bisa tenang, hahaha. Dulu saat saya masih bermain, mau seketat apapun pertandingan saya masih bisa santai. Sementara yang deg-degan pelatih, orang tua, dan istri. Sekarang jadi pelatih, saya merasakan ketegangan.

Satu lagi perasaan beda yang saya rasakan pada 2 Agustus 2021. Setelah Greysia/Apriyani menang, ada rasa lega luar biasa.


Atmosfer Olimpiade sebenarnya tidak asing, karena Olimpiade kemarin sudah yang keempat buat saya. Dua Olimpiade pertama, pada 2000 dan 2004 saya menjadi pemain. Sementara pada 2016 dan 2021 saya ada di posisi pelatih.

Pengalaman teknik dan non-teknik ketika saya menjadi pemain menjadi salah satu faktor persiapan yang mendukung saya sebagai pelatih di Olimpiade. Ada pula mirip-mirip antara ketika saya masih bermain dan melatih.

Pada Olimpiade pertama saya, 2000 di Sydney, ada rasa menggebu-gebu sehingga tidak bisa mengontrol ekspektasi sehingga saya gagal menjadi juara padahal tiga empat bulan sebelumnya saya dan Flandy [Limpele] tidak terkalahkan di berbagai kejuaraan. Sampai empat tahun kemudian, berbekal pengalaman saya merasa lebih dewasa dan mampu mengontrol diri sehingga bisa menyumbang medali untuk Merah Putih.

Begitu pula di 2016, saya merasa Greysia juga masih belum mampu mengendalikan emosi. Tetapi kemarin beda. Greys sudah lebih santai, bahkan lebih rileks dibanding saya. Dia bilang hanya mau menikmati pertandingan dan ternyata itu berbuah emas.

Perjalanan membawa pulang emas Olimpiade 2020 ini memang bukan perkara gampang. Setelah melatih tim ganda Singapura sejak 2007 sampai akhir 2012, saya kemudian melatih ganda putri Indonesia pada 2014.

Ganda putri Indonesia Nitya Krishinda (kanan) dan Gresya Polii (kiri) bergembira bersama pelatih mereka Eng Hian (tengah) usai penghargaan medali final perorangan Ganda Putri Asian Games ke-17 di Gyeyang Gymnasium, Incheon, Korsel, Sabtu (27/9). Pasangan Indonesia yang mengalahkan pasangan Jepang itu meraih emas pertama untuk Indonesia. ANTARA FOTO/SAPTONO/Spt/14Eng Hian diapit Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari usai menjadi juara Asian Games 2014. (ANTARA FOTO/SAPTONO/Spt/14)

Prestasi yang kalah mentereng ketimbang beberapa sektor lain membuat sektor ganda putri kerap dipandang sebelah mata, bahkan sampai sebelum Olimpiade 2020.

Ada kepuasan bisa membawa pulang medali Olimpiade 2020, tetapi saya pantang menyombongkan diri karena masih haus prestasi. Untuk meraih capaian-capaian lain lagi di masa depan saya masih butuh banyak kerja sama dan bantuan dari berbagai pihak.

Selama ada di dunia badminton, salah satu yang saya pelajari adalah supporting team itu enggak boleh lepas. Tanpa bantuan dari banyak pihak, saya bukan apa-apa.

Hubungan Baik Dua Keluarga

Melatih Indonesia adalah tantangan bagi saya. Pemain-pemain Indonesia punya potensi, tapi kok enggak bisa jadi juara? Saya penasaran, saya ingin membuktikan pemain-pemain Indonesia ini bisa.

Sementara ketika melatih Singapura saya pernah membawa pemain mereka jadi juara dunia junior dan turnamen level 500 yang pada saat itu ganda putri Indonesia belum pernah jadi kampiun di level tersebut.

Pada awal melatih tim ganda putri Indonesia, saya menilai mind set pemain menjadi salah satu ganjalan yang mencolok. Mereka punya tujuan menjadi juara, tetapi melihat sosok pemain China seperti batu karang yang tak bisa tembus. Jadi tiap mau ketemu pasangan China itu ada rasa minder. Ini salah satu hal yang saya coba ubah sejak melatih dan perlahan bisa mengubah cara pikir pemain, termasuk dengan hasil kemenangan lawan pemain China.

Lebih dari itu sebagai pelatih saya mengedepankan komunikasi dengan pemain. Kalau hanya sekadar memberi program latihan, semua orang saya rasa juga dapat melakukan hal itu. Pelatih itu harus paham kebutuhan pemain, dan tiap pemain itu adalah pribadi yang unik, jadi jangan dipukul rata.

Saya coba membuat pemain nyaman dan percaya kepada saya sebelum masuk ke area teknis, program latihan, atau prestasi. Soal cara saya membuat nyaman mungkin bisa panjang sekali dan tidak cukup ditulis di Testimoni CNNIndonesia.com ini, hahaha.

Menjalani peran sebagai pelatih menyita waktu saya lebih banyak ketimbang bersama anak dan istri. Saya lebih sering bersama pemain, menemani mereka berlatih, ngobrol, dan segala macam. Untuk menjalani itu, keluarga saya yang di rumah harus paham dan mengenal keluarga saya di Cipayung. Sekarang keluarga saya bisa mingle dengan pemain dan sebaliknya.

Banner Testimoni

Faktor support system ini sangat penting. Saya melatih perempuan, sebagai pria ada hal-hal yang tidak bisa saya sentuh lebih jauh. Di sini saya butuh bantuan istri saya. Istri saya bisa menjadi tampungan curhat pemain, dan kemudian istri saya bisa bilang ke saya mengenai situasi pemain.

Saya tetap menggunakan jasa psikolog, tetapi keberadaan istri dekat dengan pemain ini tak jarang bisa membuat para pemain mengeluarkan unek-unek yang lebih jujur. Bersyukur juga istri saya mau terlibat dalam hal ini.

Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya...

Sukses Hambar di Inggris dan Singapura

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK