Misi berat diemban Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan saat melawan Irak dalam laga tandang yang juga juga jadi Kualifikasi Piala Asia 2027 ini.
Tantangan tersebut adalah, selain bermain di Stadion Basra yang penuh dengan 65 ribu suporter Irak, Indonesia juga akan melawan pemain-pemain tuan rumah yang memiliki pengalaman bermain di Eropa.
Tercatat sebanyak 10 pemain Irak bermain di Eropa, semisal bek Rebin Sulaka yang memiliki 32 caps bermain di klub Swedia Brommapojkarna, gelandang Osama Rashid dengan 27 caps bermain di klub Portugal Vizela, hingga striker Ali Al Hamadi yang berseragam klub Inggris AFC Wimbledon.
Sementara Indonesia hanya memiliki empat pemain yang berkarier di Benua Biru: Elkann Baggott, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, dan Rafael Struick.
Kendati Irak memiliki sederet pemain mentereng, Indonesia tidak ciut nyali. Sejumlah pemain Indonesia seperti Marc Klok dan Egy Maulana Vikri kompak yakin menang atas Irak.
Meskipun secara peringkat, posisi Indonesia jauh di bawah Irak dalam ranking FIFA. Tim tamu tidak gentar.
Mereka tahu melawan Irak akan berat. Tetapi beratnya permainan tuan rumah bisa diatasi dengan kekompakan, kerja sama di lapangan, dan menjalankan instruksi pelatih dengan baik.
Magis pelatih Shin Tae Yong diharapkan kepada Timnas Indonesia saat melawan Irak kali ini. Tuah STY dibutuhkan seperti ketika pelatih asal Korea Selatan itu melakoni debut dalam kompetisi resmi bersama Timnas Indonesia.
Shin Tae Yong kali pertama tampil bersama Indonesia dalam ajang resmi adalah Kualifikasi Piala Dunia 2022 saat melawan Thailand di Stadion Al Maktoum, Uni Emirat Arab, Juni 2021.
Kala itu Indonesia yang baru satu setengah tahun ditangani STY mengimbangi Thailand 2-2. Hasil itu seperti oksigen setelah Tim Merah Putih menelan lima kekalahan beruntun di Kualifikasi Piala Dunia 2022.
Indonesia benar tak boleh minder lawan Irak. Bola itu bundar. Peluang tetap ada, dan segala situasi bisa berubah. Akan tetapi Indonesia juga tidak cukup hanya bersandar pada keyakinan untuk menang.
Taktik yang tepat dan sikap pemain yang benar di lapangan akan jadi penentu nasib Indonesia saat bermain di Stadion Basra nanti.
Melawan Irak yang notabenenya tim kuat, Shin Tae Yong kemungkinan memainkan formasi dengan tiga bek tengah, seperti laga yang sudah-sudah. Kali ini, komposisi bek tengah Indonesia terbilang komplet: Jordi Amat, Elkan Baggott, Rizky Ridho, Sandy Walsh, hingga Wahyu Prasetyo.
Itu berarti Indonesia akan menerapkan dua wingback yang bisa diisi Asnawi Mangkualam di kanan dan Edo Febriansah di kiri.
Edo lebih punya peluang ketimbang Pratama Arhan jika berkaca pada laga-laga sebelumnya. Ketika Indonesia membutuhkan cara lain guna memecah kebutuan, Arhan bisa masuk sebagai tenaga baru dan juga menciptakan peluang lain lewat lemparan jauh yang maut.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Salah satu masalah yang dihadapi Timnas Indonesia jelang lawan Irak adalah kelelahan yang bisa mengancam menurunnya stamina pemain di pertengahan pertandingan.
Rombongan Indonesia tidak kompak tiba bersama-sama di Irak pada Minggu (12/11). Tim tamu datang ke orang dalam tiga kloter: Minggu, Senin (13/11), dan Selasa (14/11).
Setelah kloter besar datang pada akhir pekan, lima pemain dalam kloter kedua menyusul: Elkan Baggott, Sandy Walsh, Nadeo Argawinata, Pratama Arhan, dan Adam Alis.
Sedangkan kloter ketiga atau terakhir Skuad Garuda diisi Asnawi Mangkualam, Shayne Pattynama, dan Rafael Struick.
Perjalanan jauh selama belasan jam menjadi tantangan tersendiri untuk Marc Klok dan kawan-kawan. Rombongan pertama bisa memiliki kondisi lebih bagus lantaran punya waktu pemulihan selama empat hari.
Sedangkan kloter kedua hanya tiga hari. Pemain yang datang dengan kloter terakhir punya waktu istirahat dan persiapan yang lebih minim. Kurang dari tiga haris termasuk dengan hari pertandingan.
Dikutip dari situs PSSI, Asnawi sampai harus melalui 26 jam perjalanan dari Korea Selatan menuju Irak. Ditambah lagi dengan Asnawi berangkat setelah melakoni pertandingan sengit Liga Korea bersama Jeonnam Dragons.
Melihat kondisi ini, Indonesia patut menghindari permainan bertahan, karena bisa membuat celah bagi Irak dalam melancarkan serangan intensif.
Shin Tae Yong pasti akan meminta pemainnya bermain efektif. Tidak membuang waktu dan tenaga namun tepat sasaran.
Kejelian dan kecermatan pemain Indonesia dalam melakukan operan sangat dituntut pada situasi ini. Salah oper bakal membuat rekan satu tim bekerja keras mengejar bola.
Dalam transisi dari bertahan ke menyerang, membuka ruang yang tepat juga jadi tuntutan lain dari Shin Tae Yong. Membuka ruang yang tepat akan membuat Indonesia menguasai bola lebih lama, sehingga mencegah tenaga cepat terkuras.
Setelah Indonesia bisa bertahan dan menyerang denga efektif, faktor terakhir yang menjadi penentu adalah reaksi para penyerang.
Akurasi tembakan M Ramadhan Sananta, Dendy Sulistyawan, Rafael Struick, hingga Dimas Drajad sangat diharapkan.
Ancaman-ancaman ke gawang Irak tidak saja bisa menurunkan mental lawan, namun juga minimal menahan pergerakan tuan rumah di area penalti sendiri apabila Indonesia mendapatkan sepak pojok.
Dalam enam pertandingan terakhir, Irak kebobolan sembilan gol. Sebanyak enam di antaranya terjadi di babak kedua.
Itu artinya Irak kerap lengah pada babak kedua. Indonesia bisa memanfaatkan hal tersebut dengan melakukan serangan balik cepat.
Meski demikian Indonesia juga patut waspada, sebanyak empat dari enam gol Irak dalam enam pertandingan terakhir tercipta pada babak kedua.
Di babak kedua, Irak lebih banyak mencetak gol, tetapi juga lebih banyak kebobolan. Situasi itu perlu dicermati Indonesia untuk tidak kehabisan tenaga di babak kedua yang bisa membuat tim asuhan Shin Tae Yong ini dibobol Irak.
Misi berat diemban Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan saat melawan Irak dalam laga tandang yang juga juga jadi Kualifikasi Piala Asia 2027 ini.
Tantangan tersebut adalah, selain bermain di Stadion Basra yang penuh dengan 65 ribu suporter Irak, Indonesia juga akan melawan pemain-pemain tuan rumah yang memiliki pengalaman bermain di Eropa.
Tercatat sebanyak 10 pemain Irak bermain di Eropa, semisal bek Rebin Sulaka yang memiliki 32 caps bermain di klub Swedia Brommapojkarna, gelandang Osama Rashid dengan 27 caps bermain di klub Portugal Vizela, hingga striker Ali Al Hamadi yang berseragam klub Inggris AFC Wimbledon.
Sementara Indonesia hanya memiliki empat pemain yang berkarier di Benua Biru: Elkann Baggott, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, dan Rafael Struick.
Kendati Irak memiliki sederet pemain mentereng, Indonesia tidak ciut nyali. Sejumlah pemain Indonesia seperti Marc Klok dan Egy Maulana Vikri kompak yakin menang atas Irak.
Meskipun secara peringkat, posisi Indonesia jauh di bawah Irak dalam ranking FIFA. Tim tamu tidak gentar.
Mereka tahu melawan Irak akan berat. Tetapi beratnya permainan tuan rumah bisa diatasi dengan kekompakan, kerja sama di lapangan, dan menjalankan instruksi pelatih dengan baik.
Magis pelatih Shin Tae Yong diharapkan kepada Timnas Indonesia saat melawan Irak kali ini. Tuah STY dibutuhkan seperti ketika pelatih asal Korea Selatan itu melakoni debut dalam kompetisi resmi bersama Timnas Indonesia.
Shin Tae Yong kali pertama tampil bersama Indonesia dalam ajang resmi adalah Kualifikasi Piala Dunia 2022 saat melawan Thailand di Stadion Al Maktoum, Uni Emirat Arab, Juni 2021.
Kala itu Indonesia yang baru satu setengah tahun ditangani STY mengimbangi Thailand 2-2. Hasil itu seperti oksigen setelah Tim Merah Putih menelan lima kekalahan beruntun di Kualifikasi Piala Dunia 2022.
Indonesia benar tak boleh minder lawan Irak. Bola itu bundar. Peluang tetap ada, dan segala situasi bisa berubah. Akan tetapi Indonesia juga tidak cukup hanya bersandar pada keyakinan untuk menang.
Taktik yang tepat dan sikap pemain yang benar di lapangan akan jadi penentu nasib Indonesia saat bermain di Stadion Basra nanti.
Melawan Irak yang notabenenya tim kuat, Shin Tae Yong kemungkinan memainkan formasi dengan tiga bek tengah, seperti laga yang sudah-sudah. Kali ini, komposisi bek tengah Indonesia terbilang komplet: Jordi Amat, Elkan Baggott, Rizky Ridho, Sandy Walsh, hingga Wahyu Prasetyo.
Itu berarti Indonesia akan menerapkan dua wingback yang bisa diisi Asnawi Mangkualam di kanan dan Edo Febriansah di kiri.
Edo lebih punya peluang ketimbang Pratama Arhan jika berkaca pada laga-laga sebelumnya. Ketika Indonesia membutuhkan cara lain guna memecah kebutuan, Arhan bisa masuk sebagai tenaga baru dan juga menciptakan peluang lain lewat lemparan jauh yang maut.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Awas, Stamina Kendor Gegara Kelelahan
Akurasi tembakan Ramadhan Sananta dan striker Indonesia lain sangat dituntut saat lawan Irak. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Salah satu masalah yang dihadapi Timnas Indonesia jelang lawan Irak adalah kelelahan yang bisa mengancam menurunnya stamina pemain di pertengahan pertandingan.
Rombongan Indonesia tidak kompak tiba bersama-sama di Irak pada Minggu (12/11). Tim tamu datang ke orang dalam tiga kloter: Minggu, Senin (13/11), dan Selasa (14/11).
Setelah kloter besar datang pada akhir pekan, lima pemain dalam kloter kedua menyusul: Elkan Baggott, Sandy Walsh, Nadeo Argawinata, Pratama Arhan, dan Adam Alis.
Sedangkan kloter ketiga atau terakhir Skuad Garuda diisi Asnawi Mangkualam, Shayne Pattynama, dan Rafael Struick.
Perjalanan jauh selama belasan jam menjadi tantangan tersendiri untuk Marc Klok dan kawan-kawan. Rombongan pertama bisa memiliki kondisi lebih bagus lantaran punya waktu pemulihan selama empat hari.
Sedangkan kloter kedua hanya tiga hari. Pemain yang datang dengan kloter terakhir punya waktu istirahat dan persiapan yang lebih minim. Kurang dari tiga haris termasuk dengan hari pertandingan.
Dikutip dari situs PSSI, Asnawi sampai harus melalui 26 jam perjalanan dari Korea Selatan menuju Irak. Ditambah lagi dengan Asnawi berangkat setelah melakoni pertandingan sengit Liga Korea bersama Jeonnam Dragons.
Melihat kondisi ini, Indonesia patut menghindari permainan bertahan, karena bisa membuat celah bagi Irak dalam melancarkan serangan intensif.
Shin Tae Yong pasti akan meminta pemainnya bermain efektif. Tidak membuang waktu dan tenaga namun tepat sasaran.
Kejelian dan kecermatan pemain Indonesia dalam melakukan operan sangat dituntut pada situasi ini. Salah oper bakal membuat rekan satu tim bekerja keras mengejar bola.
Dalam transisi dari bertahan ke menyerang, membuka ruang yang tepat juga jadi tuntutan lain dari Shin Tae Yong. Membuka ruang yang tepat akan membuat Indonesia menguasai bola lebih lama, sehingga mencegah tenaga cepat terkuras.
Setelah Indonesia bisa bertahan dan menyerang denga efektif, faktor terakhir yang menjadi penentu adalah reaksi para penyerang.
Akurasi tembakan M Ramadhan Sananta, Dendy Sulistyawan, Rafael Struick, hingga Dimas Drajad sangat diharapkan.
Ancaman-ancaman ke gawang Irak tidak saja bisa menurunkan mental lawan, namun juga minimal menahan pergerakan tuan rumah di area penalti sendiri apabila Indonesia mendapatkan sepak pojok.
Dalam enam pertandingan terakhir, Irak kebobolan sembilan gol. Sebanyak enam di antaranya terjadi di babak kedua.
Itu artinya Irak kerap lengah pada babak kedua. Indonesia bisa memanfaatkan hal tersebut dengan melakukan serangan balik cepat.
Meski demikian Indonesia juga patut waspada, sebanyak empat dari enam gol Irak dalam enam pertandingan terakhir tercipta pada babak kedua.
Di babak kedua, Irak lebih banyak mencetak gol, tetapi juga lebih banyak kebobolan. Situasi itu perlu dicermati Indonesia untuk tidak kehabisan tenaga di babak kedua yang bisa membuat tim asuhan Shin Tae Yong ini dibobol Irak.