Para pembuat Pinisi, biasa melakukan perakitan di bibir pantai. Seperti salah satunya, Haji Uly Boat. Pemilik atau generasi keempat Haji Uly Boat, Rusdi Mulyadi atau Haji Uly bukanlah satu-satunya pengrajin Pinisi di kampungnya. Sedikitnya, ada 50 pengusaha yang menggeluti Pinisi.
"Saya generasi keempat, sudah 17 tahun. Penerus dari bapak Baso ayah saya," kata Uly.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini peminat kapal buatannya, yang mayoritas ialah pengusaha travel lebih memilih kapal berjenis Lambo. Namun, tetap memakai ciri khas dari Pinisi, yakni menggunakan tujuh layar. Bagi dia, lebih besarnya ukuran lambung dan buritan Lambo menjadi alasan mengapa peminat lebih tertarik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata dia, tujuh layar pada kapal buatannya saat ini lebih kepada pemanis. Tidak seperti dahulu, menggunakan layar sebagai penggerak. Namun, jika saat berlayar tidak ingin terganggu dengan mesin kapal, layar tetap dapat dikembangkan.
Dalam pembuatan kapalnya, Uly murni menggunakan kayu. Ada tiga jenis kayu yang biasa dipakai, diantaranya kayu dupasa, jati dan besi. Masing-masing kayu fungsinya tidak akan sama. "Bahan-bahan biasa kami beli dari wilayah Kendari. Untuk membuat ukuran kecil, kayu dibutuhkan sekitar 20 kubik," kata dia.
Pembuatan Lambo, diperkirakan paling cepat memakan waktu lima bulan. Pengerjaan akan dilakukan oleh empat orang. Sedangkan yang besar tentunya lebih lama, waktu yang digunakan lebih dari satu tahun dengan delapan orang pekerja.
Mengenai harga, Uly membandrolnya dengan harga Rp750 juta untuk model terkecil dan termurah tanpa interior. Jika ingin paket lengkap atau untuk pesiar, harganya bisa mencapai lebih dari Rp20 miliar. "Pemesan mayoritas itu dari Perancis," kata Uly.
Jika terlalu mahal, jangan khawatir di sana juga terdapat Pinisi dalam bentuk mini atau miniatur. Harganya-pun tidak terlalu menguras kocek. Satu miniatur Pinisi berukuran kecil dihargai Rp200 ribu, sedangkan yang terbesar bisa mencapai Rp400 ribu. (tyo)
Tanjung Bira (CNN Indonesia/Rayhand Purnama)
Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama