Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu cara merawat ban mobil adalah dengan merotasi ban atau menukar posisi ban yang awalnya berada di depan menjadi di belakang, atau sebaliknya.
Merotasi ban akan membuat berkendara lebih aman dan nyaman. Selain itu, merotasi ban dapat menghemat biaya perawatan dan ban mobil menjadi lebih awet.
Biasanya ban depan memiliki usia pemakaian yang lebih pendek dibandingkan dengan ban belakang, karena roda depan berkaitan dengan mekanisme pengemudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu Anda wajib tahu tak semua jenis ban dapat dirotasi. Ban yang dapat dirotasi yakni ban dengan jenis full size, sedangkan ban yang tidak bisa dirotasi yaitu ban jenis temporary.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ban full size merupakan ban yang memiliki kesamaan, baik dari segi bentuk, ukuran, dimensi maupun pelek yang digunakan dengan ban yang sudah terpasang. Ban cadangan jenis full size juga bisa dipakai untuk merotasi ban pada mobil.
Sementara itu, ban temporary merupakan jenis ban yang berbeda dengan ban utama yang sudah terpasang pada mobil mulai dari bentuk, ukuran, dan dimensi. Secara umum, ban temporary memiliki pelek yang lebih kecil dan biasa digunakan sebagai ban cadangan untuk keadaan darurat.
Tujuan utama merotasi ban untuk meratakan keausan pada ban. Titik keausan yang merata dapat membuat ban seimbang dan pengendara lebih nyaman.
Ban yang memiliki tingkat keausan tidak merata akan berpengaruh terhadap keamanan dan kenyamanan bagi pengendara.
Tingkat aus yang berbeda ini dapat disebabkan karena penggunaan ban depan dan belakang yang berbeda. Ban yang mengalami keausan akan mudah selip ketika kondisi jalanan licin dan jarak pengeremannya menjadi panjang.
Selain itu ban yang sudah aus akan membahayakan pengemudi maupun orang lain.
Ban depan lebih cepat aus daripada ban belakang. Pasalnya, ban mobil depan lebih sering digunakan untuk pengereman, sehingga lebih banyak gesekan.
Merotasi ban juga berfungsi untuk menambah usia pemakaian ban supaya jadi lebih panjang. Pasalnya, ban yang tidak dirotasi ketika sudah aus usia pemakaiannya tidak akan bertahan lama.
Selain meratakan tingkat keausan, tujuan lain dari merotasi ban agar mengetahui tekanan ban dan kerusakan yang terjadi pada ban.
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk merotasi ban?
Masih berdasarkan laman resmi Suzuki Indonesia, ban yang digunakan secara bersamaan tidak menjamin tingkat keausan merata. Tingkat keausan pada ban mobil tergantung cara mengemudi, beban kendaraan, serta kondisi kaki-kaki mobil. Semakin berat beban kendaraan, tingkat keausan semakin cepat.
Rotasi ban dapat dilakukan ketika tingkat keausan sudah terlihat. Normalnya, untuk merotasi ban ketika penggunaan sudah mencapai enam bulan atau disesuaikan dengan kondisi ban.
Rotasi ban juga dapat dilakukan ketika mobil sudah menyentuh jarak 10 ribu kilometer (km) untuk kecepatan normal. Namun, untuk mobil yang biasa dipacu dengan kecepatan tinggi sebaiknya merotasi ban ketika mencapai jarak 5 ribu km.
Ban yang dipakai dengan kecepatan tinggi membuat tingkat keausannya akan lebih cepat.
Merotasi ban juga dapat dilakukan bersamaan dengan servis berkala. Sebab, semakin sering merotasi ban, maka akan semakin baik. Ban mobil yang jarang diperiksa kelurusan dan keseimbangannya disarankan lebih sering merotasi bannya.
[Gambas:Video CNN]
Cara Merotasi Ban
Merotasi ban mobil agar tingkat keausannya merata. (Foto: Istockphoto/Deagreez)
Rotasi ban yang benar dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu searah maupun menyilang. Merotasi ban dapat dilakukan apabila kondisi pada ban masih tergolong normal.
Merotasi ban dengan teknik searah merupakan cara paling mudah. Caranya, ban belakang sebelah kanan dirotasi dengan ban depan sebelah kanan, dan sebaliknya.
Sedangkan, ban belakang sebelah kiri akan dirotasi dengan ban depan sebelah kiri, begitupun sebaliknya.
Kemudian, teknik kedua yakni teknik menyilang. Teknik ini umumnya digunakan untuk merotasi ban untuk mobil jenis penggerak depan atau front wheel drive (FWD) maupun mobil jenis penggerak belakang atau rear wheel drive (RWD).
Sebelum merotasi ban dengan teknik menyilang, upayakan melakukan pengecekan terlebih dulu kondisi ban dengan melihat alur tapak ban. Ban yang hanya memiliki satu alur tak bisa dirotasi dengan cara menyilang.
Rotasi ban dengan cara menyilang yaitu ban bagian belakang sebelah kanan akan dipindah ke bagian depan sebelah kiri, dan sebaliknya. Sedangkan, ban bagian belakang sebelah kiri akan dipindah ke bagian depan sebelah kanan.
Ada dua cara merotasi ban dengan teknik menyilang, yakni merotasi empat ban dan merotasi lima ban. Merotasi empat ban dengan teknik menyilang dapat dilakukan ketika ban mobil cadangan memiliki ukuran atau pelek yang berbeda dengan ban utama.
Sementara, cara merotasi lima ban dilakukan dengan melibatkan ban cadangan. Ban cadangan akan digunakan untuk mengganti ban bagian belakang.
Merotasi ban dengan melibatkan ban cadangan bertujuan agar apabila terjadi pergantian sewaktu-waktu, maka tingkat keausan pada ban cadangan sama dengan yang lain.
Ban mobil yang mempunyai kondisi paling bagus sebaiknya dipasang di roda belakang. Alasannya, ban belakang tidak bisa diatasi apabila mengalami selip, sementara roda depan dapat diatasi melalui kemudi.
Cara merotasi ban yang benar menggunakan ban cadangan pada mobil jenis FWD yakni ban cadangan dipasang pada bagian belakang sebelah kiri, sedangkan ban belakang yang awalnya di sebelah kiri akan dirotasi ke depan sebelah kanan.
Ban yang awalnya berada di depan sebelah kanan nantinya digunakan sebagai cadangan.
Sementara, ban yang mulanya berada di depan sebelah kiri akan dirotasi ke belakang sebelah kanan.
Di sisi lain, cara merotasi lima ban pada mobil RWD yakni dengan ban kanan dirotasi dengan ban belakang kiri, ban belakang kiri akan dirotasi dengan ban depan kiri.
Ban belakang kanan dirotasi menjadi ban depan kanan, ban depan kanan diganti ban cadangan dan ban depan kiri digunakan sebagai cadangan.
Kendati begitu, kondisi ban yang sudah retak, aus tidak normal, dan mengalami kerusakan lain tidak dapat dirotasi. Ban yang tingkat keausannya mencapai TWI (Tread Wear Indicator) juga sebaiknya diganti dengan ban yang baru melansir laman resmi Suzuki Indonesia.